Kuota Impor GPS Ayam Yang Tidak Terealisasi Akan Hangus

Oleh: Pandu Gumilar 06 November 2018 | 20:54 WIB
Kuota Impor GPS Ayam Yang Tidak Terealisasi Akan Hangus
Pedagang menata daging ayam di lapaknya di Pasar Kosambi Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/1)./JIBI-Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian tidak akan memberikan perpanjangan waktu bagi perusahaan perbibitan yang tidak bisa merealisasikan

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian  Sugiyono mengatakan pada tahun ini kuota impor anak ayam umur sehari kategori Grand Parents Stock (GPS) broiler sebanyak 707.000 ekor. Dari jumlah tersebut, kata Sugiyono, impor yang terealisasi lebih dari 90%.

"Semua kuotanya sudah hampir masuk atau terealisasi. Ini cukup tinggal tunggu waktu masuknya saja yang berbeda-beda," katanya kepada Bisnis Selasa (6/11).

Sugiyono mengatakan bagi perusahaan pembibitan yang tidak bisa memenuhi kuota pada tahun ini, maka kuota tersebut dinyatakan hangus. Jadi tidak ada perpanjangan waktu untuk mengimpor GPS atau penambahan kuota pada tahun depan.

"Kuota tahun ini hangus kalau tidak terpenuhi. Mereka [pelaku usaha perbibitan] mungkin rugi [kalau hangus]. Tapi harusnya tidak karena sudah semua hampir terealisasi," katanya.

Sugiyono mengatakan dari 14 perusahaan perbibitan yang mengajukan impor GPS pada tahun ini tapi tidak terealisasi, berkemungkinan dapat dikenakan sanksi. Sanksi tersebut berupa pengurangan kuota impor pada tahun depan. Menurut Sugiyono sanksi tersebut bisa terjadi karena perusahaan tidak menyanggupi kuota yang diberikan.

"Yang minta kuota impor GPS itu banyak. Jadi kalau tidak terpenuhi ya tahun depan  dikurangi [kasih kuota ke pelaku usaha yang lain]," katanya.

Selain itu, Sugiyono juga menyampaikan kuota impor tahun depan akan dibahas pada minggu ke-2 atau minggu ke-3 bulan November. Pada pertemuan tersebut akan membahas alokasi impor GPS pada tahun depan. "Di situ akan kami bahas izin alokasi impor GPS," katanya.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik Wibowo agak menyayangkan keputusan tersebut. Hangusnya kuota tersebut menyebabkan perusahaan pembibitan harus mengajukan kuota baru.

"Sebagian peternak rakyat katanya mau demo karena menganggap pembatasan-pembatasan kuota ini hanya untuk berpihak ke pemain besar. Mereka [pemain besar, dianggap] sudah mengatur dan mengontrol populasi serta produksi [ayam]," katanya.

Eko mengungkapkan kalau keputusan ini bersifat mutlak maka realisasi impor GPS perusahaannya kemungkinan hanya sampai 53.000 ekor. "Sepertinya realisasi kami di angka 53.000 ekor sampai akhir tahun ini," pungkasnya.

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya