PROYEK STRATEGIS NASIONAL : Target Lelang 14 Bendungan Meleset

Oleh: Irene Agustine 06 November 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyatakan target melelang 14 proyek bendungan pada tahun ini meleset seiring dengan pembatalan lelang Bendungan Mbay di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur senilai Rp550 miliar.

Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hari Suprayogi mengatakan, pemerintah hanya melelang 13 proyek bendungan sepanjang tahun ini dan diharapkan seluruh tanda tangan kontrak dapat dilakukan sebelum tutup tahun.

Menurutnya, pembatalan lelang Bendungan Mbay di Kabupaten Nagekeo pada tahun ini karena masih berpolemik dengan penolakan warga sekitar.

Dia melanjutkan, pihaknya belum bisa melakukan survei geoteknik untuk proyek itu karena sejumlah penduduk di sekitar rencana proyek menolak pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.

“Nanti kami coba tahun depan. Karena untuk menambah geoteknik bendungan itu belum bisa masuk saat ini,” katanya di Gedung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Jakarta, Senin (5/11).

Sebelumnya, lelang proyek Bendungan Digoel di Papua yang ditaksir memiliki kapasitas tampung 230 juta meter kubik juga batal dilakukan pada tahun ini karena desain pembangunan belum rampung.

Sebagai gantinya, pemerintah mengganti proyek tersebut dengan pembangunan Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat karena dinilai lebih siap. Proyek Bendungan Meninting yang seharusnya masuk dalam rencana pelelangan tahun 2019 tersebut sudah memulai lelang pada September 2018.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa sebetulnya sudah memiliki rencana relokasi proyek Bendungan Mbay di provinsi yang sama. Namun, dia menjelaskan sejumlah tokoh masyarakat tetap meminta rencana pembangunan bendungan itu tetap dilanjutkan.

Alasannya, daerah tersebut memang termasuk wilayah kering yang membutuhkan tambahan sumber air baku. Dengan sikap itu, pemerintah tetap berupaya untuk membangun Bendungan Mbay kendati mundur dari rencana awal. “Kalau misalnya memang tidak bisa dibangun tahun ini, ya tahun depan,” ujarnya.

Berdasarkan data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), perkiraan anggaran pembangunan Bendungan Mbay mencapai Rp550 miliar dengan kapasitas tampung mencapai 24,91 juta meter kubik.

Proyek bendungan tersebut diharapkan bisa mengairi lahan seluas 5.206 hektare dan menyediakan pasokan air baku sebesar 0,54 meter kubik per detik.

Sepanjang tahun ini, pemerintah menargetkan dapat melelang 14 proyek bendungan yang terdiri atas 11 proyek bendungan tahun anggaran (TA) 2018 dan tiga carry over proyek bendungan 2017.

Dari total 13 lelang proyek bendungan yang sudah dilakukan pemerintah pada tahun ini, tiga proyek di antaranya kontraknya sudah ditandatangani dengan pemenang lelang.

Ketiga bendungan tersebut merupakan proyek carry over tahun lalu yakni Tiga Dihaji di Sumatra Selatan, Bener di Jawa Tengah dan Sidan di Bali.

Sementara itu, dua proyek lainnya sudah ditetapkan pemenangnya dan menunggu tanda tangan kontrak, yakni Bendungan Jlantah dan Bendungan Randugunting di Jawa Tengah.

Delapan proyek lainnya masih dalam tahapan pelelangan yakni Sadawarna di Jawa Barat, Beringin Sila dan Meninting di NTB, Tamblang di Bali, Rukoh di Aceh, Tamblang di Jawa Timur, Manikin di NTT, dan Bulango Ulu di Gorontalo.

SELESAI 2018

Adapun, Menteri PUPR memastikan sebanyak 8 proyek pembangunan akan rampung penyelesaiannya pada tahun ini, termasuk Bendungan Kuningan di Jawa Barat dan Passeloreng di Sulawesi Selatan yang sempat dikabarkan terganjal dengan upaya pembebasan lahan.

“Dari laporan sampai saat ini, delapan bendungan akan selesai sampai akhir tahun ini,” ujarnya.

Selain Kuningan dan Passeloreng, enam bendungan lainnya yang ditargetkan rampung pada tahun ini yaitu Rotiklot di NTT, Mila di NTB, Gondang dan Logung di Jawa Tengah, Sei Gong di Batam, dan Sindang Heula di Banten. Progress keenam bendungan rerata telah mencapai finalisasi akhir.

Sebelumnya, pemerintah membuka lelang konstruksi Bendungan Bulango Ulu di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo senilai Rp2,3 triliun dengan memulai tahap prakualifikasi.

Dari laman Layanan Pengadaan Sistem Elektronik (LPSE) Kementerian PUPR, proyek tersebut ditawarkan dalam dua paket pengerjaan.

Pada paket I, proyek yang ditawarkan senilai Rp1,28 triliun, sedangkan paket II Rp1,08 triliun. Kedua proyek menggunakan anggaran tahun jamak atau multiyears contract.

Lelang proyek tersebut menggunakan metode kualifikasi prakualifikasi dengan evaluasi sistem gugur. Kontraktor harus memiliki syarat kualifikasi dengan memiliki sertifikat badan usaha (SBU) klasifikasi bangunan sipil kode SI001, memiliki izin usaha jasa konstruksi (IUJK), tanda daftar perusahaan (TDP), dan telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir.

Dengan dibukanya tahapan lelang proyek bendungan Bulango Ulu, pemerintah tinggal menyisakan lelang pembangunan Bendungan Mbay di Nusa Tenggara Timur, agar sesuai dengan rencana akhir tahun untuk melelang 14 proyek bendungan sepanjang tahun ini.

Kepala Pusat Bendungan Kementerian PUPR Ni Made Sumiarsih mengatakan bahwa proyek bendungan tersebut saat ini masih diproses pengajuan dokumen lelang dan akan segera menyusul untuk dilelang.

Jika berjalan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, pengumuman hasil prakualifikasi pengerjaan konstruksi Bendungan Bulango Ulo akan diketahui pada 19 November 2018, penetapan pemenang pada 3 Desember 2018, dan tanda tangan kontrak pada 21 Desember 2018.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, bendungan didesain dengan tinggi 74 meter dari dasar galian pondasi, panjang bendungan 345 meter, dengan volume tampungan dihitung dari muka air normal sebanyak 84 juta m.

Editor: Hendra Wibawa

Berita Terkini Lainnya