Kuartal III, Ekonomi Jatim Melambat Terendah dalam 4 Tahun

Oleh: Peni Widarti 05 November 2018 | 18:40 WIB
Kuartal III, Ekonomi Jatim Melambat Terendah dalam 4 Tahun
Suasana bongkar muat garam impor/ANTARA-Zabur Karuru

Bisnis.com, SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur merilis pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada kuartal III/2018 mengalami perlambatan yakni hanya mencapai 5,40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mampu tumbuh 5,64%.

Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono mengatakan pertumbuhan ekonomi di kuartal ini merupakan angka terendah dalam 4 tahun terakhir.

Pada kuartal III/2015 mampu tumbuh 5,43%, pada kuartal yang sama 2015 dan 2016 tumbuh 5,64%.

"Ini memang pertumbuhan terendah dalam 4 tahun terakhir, tapi tumbuhnya ini masih menggembirakan karena tumbunya di atas nasional," katanya saat konferensi pers, Senin (5/11/2018).

Dia meyakini sampai akhir tahun, Jatim akan tumbuh lebih baik lantaran masih ada momen hari raya Natal dan libur tahun baru yang biasanya tingkat belanjanya sedikit meningkat.

"Kemungkinan juga akan didorong oleh sektor transportasi karena banyak orang akan berlibur akhir tahun," katanya.

Secara kumulatif, dari Januari - September 2018, pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,48%. Pertumbuhan ini didorong oleh berbagai sektor.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha penyedia akomodasi dan makanan minuman yakni 8,44%, disusul jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 7,90%.

Teguh mengatakan pertumbuhan positif terjadi di hampir semua sektor seperti industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, akomodasi, komunikasi, transportasi, pergudangan, jasa keuangan dan asuransi, serta pendidikan dan kesehatan.

"Hanya 3 sektor yang mengalami kontraksi pada kuartal III ini yakni pertanian -3,8%, lalu pertambangan dan penggalian -0,71% serta pengadaan listrik dan gas -4,82%," ungkapnya.

PDRB Jatim pada kuartal III atas dasar harga berlaku mencapai Rp569,39 triliun.

Dari jumlah tersebut, struktur PDRB dengan distribusi terbesar adalah sektor pengolahan 29,70%, disusul perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor 18,58%, dan pertanian, kehutanan serta perikanan 12,51%.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya