BELANJA MODAL PERUSAHAAN : Perkuat Bisnis Digital, Telkomsel Siapkan Rp2,8 triliun

Oleh: Duwi Setiya Ariyanti 05 November 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA—PT Telekomunikasi Selular mengalokasikan anggaran 20% dari belanja modal atau senilai Rp2,8 triliun untuk menunjang basis teknologi informasi yang bertujuan memperkuat lini bisnis digital.

Direktur Keuangan Telkomsel Heri Supriadi mengatakan bahwa lini bisnis digital akan menjadi kontributor utama pendapatan bagi perseroan. Anggaran sebesar ini akan membantu perusahaan menciptakan layanan digital yang menarik bagi konsumen.

"[Untuk] IT, [alokasi belanja modal-nya] 20%. Digital marketing part dari IT investment sehingga kami bisa produce digital sevices," ujarnya, belum lama ini.

Bisnis digital Telkomsel saat ini bertumpu pada jaringan 3G dan 4G yang tersebar pada 133.000 unit base transceiver station (BTS). Perusahaan mengeluarkan produk dan layanan seperti gaya hidup digital, layanan jasa keuangan, periklanan, perbankan digital dan IoT.

Segmen gaya hidup digital dilayani oleh Maxstream yang mengoptimasi penggunaan jaringan lewat konten berbasis video. Siaran langsung pertandingan pada Piala Dunia, Asjan Games bahkan kolaborasi dengan HOOQ, menghasilkan 6 juta kali unduh pada September 2018.

Lalu, layanan jasa keuangan melalui Tcash yang memiliki 27 juta pengguna terdaftar. Saluran layanan dari ritel modern hingga kios tradisional Bang Tcash terus diperdalam penetrasinya sejalan dengan diversifikasi layanan pembayaran, seperti pembayaran tagihan.

Lini lainnya yang juga dirambah yakni bisnis periklanan digital yang mengandalkan 168 juta nomor di jaringan. Hal ini sangat efektif untuk menawarkan kupon promosi langsung ke para pengguna Telkomsel.

Selain itu, ada juga layanan perbankan digital yang didorong oleh makin lazimnya transaksi nontunai di masyarakat. Perusahaan juga membuka seruk pasar ke segmen korporat dengan layanan internet of things (IoT).

Heri mengatakan belanja modal tersebut digunakan untuk meningkatkan layanan digital seperti solusi, internet of things (IoT), gim dan Maxstream yang diciptakan agar konsumsi data pelanggan terangkat. Selain itu, Telkomsel juga masuk ke konsumen korporat melalui solusi-solusi digital.

Heri berpendapat perlu pendekatan berbeda untuk menggarap pasar bisnis digital yang kemudian berdampak pada penambahan belanja modal. Dia menyebut seluruh lini di layanan digital masih menjanjikan meskipun masih dalam tahap awal.

“Ada IoT tetapi belum gede-gede amat [kontribusinya ke pendapatan]. Cuma tumbuhnya cukup promising, higher double digit, katakanlah 100% lebih," katanya.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal III/2018, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp65,7 triliun dengan Rp33,7 triliun di antaranya berasal dari bisnis digital. Sisanya, sebesar Rp32 triliun berasal dari bisnis legacy (suara dan pesan singkat).

Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan pendapatan dari lini bisnis digital terkerek sebesar 19,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp28,1 triiun. Lini broadband masih mendominasi pendapatan digital yakni mencapai Rp29,4 triliun. Sisanya, berasal dari pendapatan layanan digital yang mencapai Rp4,3 triliun.

Peningkatan pendapatan bisnis digital ini terjadi karena naiknya jumlah pengguna data di jaringan dari 98 juta nomor menjadi 112,6 juta nomor. Meskipun, pada trafik data, pertumbuhannya sedikit melambat dari 125% menjadi 116,3%.

Di sisi lain, pendapatan bisnis legacy turun sebesar 22,6% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dari Rp41,38 triliun menjadi Rp32,02 triliun. Dari pendapatan ini, Rp25,24 triliun diantaranya berasal dari panggilan suara dan Rp5,17 triliun berasal dari layanan pesan singkat. Adapun, bila dilihat perkuartal perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan karena pendekatan pemasaran personal untuk menawarkan paket yang mampu menahan tren penurunan bisnis legacy.

//TAK BAKAR UANG//

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. Harry M. Zen mengatakan tidak mau menggunakan strategi “bakar uang” untuk melakukan akuisisi pelanggan pada lini usaha dompet digital Tcash dan situs dagang elektronik Blanja.com. Dia menyebutkan tak bisa mengikuti langkah perusahaan rintisan yang membakar uang demi akuisisi pelanggan dan meningkatkan penetrasi karena investasi yang dikeluarkan perseroan tetap mengikuti panduan dari grup sehingga tak memungkinkan penggunaan seperti itu.

"Kami enggak bisa kayak gitu karena model bisnisnya beda," ujarnya.

Dia mengklaim, berdasarkan hasil riset pasar, Tcash sudah berada di urutan ketiga di bawah E-Money dari Bank Mandiri dan Go-Pay dari Go-Jek. Tcash, katanya, memiliki jumlah pengguna aktif yang cukup banyak bila dibandingkan dengan investasi yang dikeluarkan.

"Dari segi value for money, dengan uang yang kami spend dengan hasil yang kami dapatkan relatif lebih baik dari Go-Pay," katanya.

Promosi masif para startup, katanya, tak akan memengaruhi kebijakan investasi di perseroan. Untuk membesarkan Blanja.com saja, dia menuturkan masih terus berdiskusi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara agar pelaku usaha kecil dan menengah binaan perusahaan pelat merah bisa dipasarkan melalui platform itu.

"Dari sisi GMV (gross merchandise volume) dengan uang yang di-spend untuk promosi, kami sangat-sangat efisien. Sama halnya seperti Tcash," kata Harry.

Selain itu, belum ada rencana untuk melepas Tcash menjadi entitas anak usaha Telkomsel. Saat ini, Telkomsel masih fokus untuk mendiversifikasi layanan agar bisa menggarap pasar yang lebih luas.

Layanan Tcash, katanya, akan terus menjembatani inklusi keuangan di mana masih terdapat pengguna ponsel yang belum terjamah layanan jasa keuangan.

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya