Ekspor September 2018 Turun, Surplus Neraca Perdagangan Sumut makin Tertekan

Oleh: Ropesta Sitorus 03 November 2018 | 08:16 WIB

Bisnis.com, MEDAN – Kinerja ekspor Sumatera Utara pada September 2018 masih melanjutkan tren penurunan sehingga membuat tekanan terhadap surplus neraca perdagangan ekspor impor kian dalam.

Mengacu pada data yang dilansir dari situs Badan Pusat Statistik Sumut pada Sabtu (3/11/2018), total nilai ekspor pada September 2018 sebesar US$734,29 juta turun 3,22% dibandingkan Agustus 2018 sebesar US$758,76 juta. Nilai impor juga turun 11,21% dari US$519,20 juta pada Agustus 2018 menjadi US$461,02 juta.

Secara kumulatif pada Januari – September 2018, nilai ekspor dari Sumut tertekan 4,73% secara year on year ke level US$6.597,11 juta dari sebelumnya US$6.924,47 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, total nilai impor justru melejit 31,38% (YoY) yakni dari US$3.211,19 juta menjadi US$4.218,99 juta.

Walhasil surplus neraca perdagangan Sumut menjadi kian tertekan dengan penurunan 35,96% (YoY) yakni dari US$3.713,29 juta pada Januari – September 2017 menjadi hanya US$2.378,12 juta.

“Nilai ekspor melalui pelabuhan muat di wilayah Sumut pada September 2018 mengalami penurunan dibandingkan dengan Agustus 2018 sebesar 3,22%, bila dibandingkan September 2017 turun 5,97%,” kata Syech Suhaimi.

Dia menjelaskan, penurunan nilai ekspor  terbesar terjadi pada golongan lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$32,98 juta atau turun 10,41%, diikuti golongan kopi, teh, rempah-rempah sebesar US$9,30 juta (turun 23,49%), serta ikan dan udang sebesar US$6,16 juta (23,4%).

Secara umum, penurunan kinerja ekspor tersebut terjadi pada dua sektor utama, yakni pertanian dan industri masing-masing 6,5% dan 17,9% dibandingkan Agustus 2018. Bidang pertanian menyumbang 7,9% terhadap total nilai ekspor Januari – September 2018, sedangkan industri berkontribusi 92,1%.

Sepanjang September 2018, sebagian besar negara tujuan utama mengalami penurunan nilai ekspor, yang terbesar ke Belanda sebesar US$14,87 juta, turun 51,56%, diikuti AS sebesar US$5,74 juta (6,55%) dan Jepang sebesar US$5,5 juta (13%) dan India sebesar US$5,44 juta (9,19%).

Dilihat dari pasar tujuan ekspor asal Sumut yang terbesar yakni ke negara China sebesar US$97,25 juta, diikuti Amerika Serikat sebesar US$81,79 juta dan India sebesar US$53,79 juta. Kontribusi ketiga pasar tersebut mencapai 31,7%.

Sekitar 31,67% ekspor dari Sumut dipasarkan ke kawasan Asia di luar Asean. Selain China dan India, Jepang dan Bangladesh  merupakan pangsa ekspor untuk kawasan Asia di luar Asean yaitu sebesar US$37,13 juta dan US$14,81 juta.

Kinerja Impor

Pada perkembangkan lain, nilai impor pada September 2018 sebesar US$461,02 juta turun 11,21% (month to month) tapi naik sebesar 6,31% (year on year).

Adapun, kontribusi bahan baku masih jadi yang terbesar yakni 73,95% atau senilai US$340,91 juta, diikuti impor barang modal sebesar 15,47% atau US$71,31 juta dan barang konsumsi 10,59% atau US$48,80 juta.

Dibandingkan bulan Agustus 2018, nilai impor barang modal turun 8,55% (MtM), begitu juga dengan bahan baku penolong turun 11,52% dan barang konsumsi turun 12,78%.

Tiga Negara pemasok barang-barang impor terbesar ke Sumut pada September 2018 adalah China sebesar US2,06 juta (35,15%), diikuti Singapura sebesar US$50,06 juta (10,86%) dan Malaysia sebesar US$37,41 juta (8,11%).

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya