SUMBER DAYA AIR : Pembangunan Dua Bendungan Dipercepat

Oleh: Irene Agustine 02 November 2018 | 02:00 WIB
SUMBER DAYA AIR : Pembangunan Dua Bendungan Dipercepat
Pekerja mengoperasikan alat berat dan truk untuk meratakan dan memindahkan tanah pada proyek pembangunan Bendungan Sei Gong di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (2/3/2018)./JIBI-Zufrizal

JAKARTA — Pemerintah mempercepat pembangunan Bendungan Passeloreng di Sulawesi Selatan dan Kuningan di Jawa Barat yang total nilai proyeknya mencapai Rp1,32 triliun untuk tetap bisa diresmikan pada akhir tahun ini.

Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Hari Suprayogi mengatakan bahwa secara konstruksi, pembangunan kedua proyek tersebut dinilai masih sesuai dengan target. Namun, katanya, masih ditemui kendala pembebasan lahan di lokasi genangan bendungan untuk kedua proyek tersebut.

“Konstruksinya pasti selesai [tahun ini], tetapi hanya lahan di tempat genangan ini mungkin agak mundur karena kalau bendungan selesai itu kan tidak hanya konstruksi saja, tetapi juga bisa digenangi untuk impounding [pengisian awal],” kata Hari, Kamis (1/11).

Kendati demikian, menurutnya, pemerintah akan berupaya untuk mempercepat proses pembebasan lahan di lapangan agar dua bendungan tersebut tetap bisa diresmikan pada tahun ini.

Di sisi lain, Hari memastikan keenam bendungan lainnya yang ditargetkan dapat selesai pada tahun ini bisa selesai tepat waktu.

Keenam bendungan tersebut adalah Rotiklot di NTT, Mila di NTB, Gondang dan Logung di Jawa Tengah, Sei Gong di Batam, Sindang Heula di Banten. Progres keenam bendungan rerata telah mencapai finalisasi akhir.

“Kami harapkan bisa dua bendungan ini untuk selesai. Enam bendungan lainnya masih sesuai target. Kalau dua ini bisa dipercepat akan ada delapan yang rampung sampai akhir tahun ini,” ujarnya.

Sebagaimana dikutip dari data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Bendungan Passeloreng di Kabupaten Wajo direncanakan memiliki kapasitas sebesar 138 juta meter kubikdan diharapkan dapat mengairi lahan seluas 7.000 hektare serta menghasilkan listrik sebesar 2,50 MW.

Bendungan Kuningan di Kabupaten Kuningan direncanakan memiliki kapasitas 25,96 juta meter kubik dan dapat mengairi lahan seluas 3.000 hektare, menyediakan pasokan air baku sebesar 0,30 meter kubik per detik, dan menghasilkan listrik sebesar 0,50 MW.

PROYEK RAMPUNG

Adapun, dari target pembangunan 49 bendungan baru sampai tahun 2019, Hari mengatakan pemerintah telah merampungkan dua bendungan, yakni Tanju dan Raknamo di Nusa Tenggara Timur. Apabila delapan bendungan tetap rampung sesuai dengan target, sisa pembangunan bendungan baru yang tengah berlangsung mencapai 39 bendungan.

Kementerian PUPR diminta untuk membangun 65 bendungan pada periode 2015—2019, yang terdiri atas 16 pembangunan bendungan lanjutan dan 49 bendungan baru.

“Kalau untuk 16 pembangunan bendungan lanjutan sudah kami selesaikan. Kalau pembangunan 8 bendungan baru ini selesai, sudah ada 10 yang selesai untuk pembangunan bendungan baru dari total 49 yang direncanakan,” jelas Hari.

Direktur Operasi II PT Hutama Karya (Persero) Tbk. Suroto mengatakan bahwa di bidang pengerjaannya, perseroan tengah memfinalisasi konstruksi pembangunan Bendungan Keureuto di Aceh dan Leuwikeris di Jawa Barat.

“Untuk pengerjaan konstruksi yang kami dapatkan, Keureuto dan Leuwikeris kami harapkan rampung pada akhir tahun ini. Untuk Bendungan Bintang Bano dan Waingapu tengah on progress,” ujarnya.

Suroto mengatakan bahwa Hutama Karya sendiri belum lama ini memenangi paket pengerjaan konstruksi Bendungan Tiga Dihaji paket I senilai Rp1,07 triliun yang dikerjasamakan dengan kerja sama operasi bersama PT Basuki Rahmanta Putra.

Dalam paket itu, Suroto mengatakan bahwa pihaknya kebagian untuk membangun bagian bendung sehingga perkiraan konstruksi bakal baru dimulai pada 2020.

“Kebetulan kami bagian bendungnya, biasanya paket I itu jalan akses dulu, spillway, baru kami masuk. Mungkin kami akan mulai konstruksi pada 2020,” ujarnya. (B)

Editor: Zufrizal

Berita Terkini Lainnya