Aktivitas Bisnis Generasi Milenial Makassar Makin Eksis

Oleh: Amri Nur Rahmat 31 Oktober 2018 | 13:45 WIB
Aktivitas Bisnis Generasi Milenial Makassar Makin Eksis
Generasi milenial/Istimewa

Bisnis.com, MAKASSAR--Kelompok generasi milenial di Makassar kini tidak hanya atraktif dalam kegiatan produktif konvensional sektor rill melalui industri kreatif.

Dominasi kelompok ini secara kentara terlihat pula aktivitas produktif berbasis digital, investasi berbasis digital di sektor pasar modal.

Adapun kelompok milenial sendiri dikategorikan sebagai generasi yang terlahir pada rentang waktu 1981 hingga 1996, dengan kata lain berusia memasuki 20 tahun hingga jelang 40 tahun pada 2018 ini. 

Di Makassar sendiri, kelompok generasi ini telah sangat mendominasi struktur kuantitas investor ritel pasar modal dengan persentase yang cukup siginikan. Meski otoritas bursa membagi investor ritel dalam tiga kategori usia, kelompok milenal tetap tidak terbantahkan mendominasi.

Sekadar ketahui, investor ritel pasar modal atau sama dibagi menjadi tiga kategori usia yakni usia 18-30 tahun, lalu usia 31-40 tahun serta usia 41 tahun ke atas. Kemudian dari data statistik investor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Makassar mencatat, kategori usia 18-30 tahun di kota tersebut mencapai 41,1%, lalu 31-40 tahun mencapai 26,9% sedangkan sisanya telah berusia lebih dari 41 tahun.

Kepala BEI Perwakilan Makassar Fahmin Amirullah memandang fenomena meilenal yang semakin gandrung investasi pasar modal, turut ditopang oleh aktifnya digitalisasi pada berbagai aspek yang disediakan menyesuaikan dengan karakteristik kelompok tersebut.

"Apalagi milenial Makassar itu sama halnya dengan pada umumnya di Tanah Air, yakni sangat mengandalkan gadget-nya untuk mencari informasi terkait portfolio investasi. Kemudian kebiasaan millenial yang sering nongkrong, mereka manfaatkan untuk membuat komunitas investor juga," papar Fahmin kepada Bisnis, Rabu (31/10/2018).

Pertumbuhan komunitas investor yang terdiri dari milenial dengan latar belakang yang beragam mulai dari pelajar, mahasiswa serta generasi muda yang memiliki pekerjaan tetap, sangat aktif melakukan interaski antarsesama.

Melihat hal tersebut, BEI Perwakilan Makassar kemudian berkolaborasi dengan pelaku usaha coffe shop lokal Makassar mendirikan sebuah fasilitas edukasi dan literasi pasar modal menyesuaikan dengan karakter milenial Makassar yang gemar beriteraksi ala warung kopi. 

Langkah tersebut lalu dimanifestasikan melalui coffe shop dengan nama 1Lot Coffe, yang mana selain meyediakan menu sebagaimana lazimnya warung kopi, juga menyediakan beragam informasi serta layanan edukasi perihal investasi pasar modal.

Setiap pengunjung juga bisa mengakses maupun memantau pergerakan harga sama serta sejumlah indeks portofolio investasi pasar modal melalui layar monitor yang tersedia pada sudut 1Lot Coffe yang didirikan pada Maret 2018 lalu.

Selain itu, akses informasi melalui platform konvensional seperti buku menyangkut pasar modal juga disediakan untuk dibaca secara gratis oleh pengunjung. Seluruh menu yang disediakan juga mengadopsi istilah pasar modal.

Menurut Fahmin, perkembangan dan pertumbuhan investor ritel dinilai pula sangat bagus dari kehadrian 1Lot Coffe tersebut dan membuat pemilik coffe shop bersiap membangun unit lainnya dengan konsep yang sama.

"Bahkan transaksi juga sering dilakukan investor saat nongkrong di kafe ini. Apalagi semuanya sudah serba digital, terpantau real time. Kemudian sudah ada aplikasi perdagangan, transaksi di smartphone, sangat cocok bagi milenial ini," tutur dia.

Fahmin menguraikan, perkembangan platform digital dinilai sangat berperan penting dalam menggairahkan milenial untuk belajar, memulai investasi di portofolio pasar modal hingga melakukan trading.

Kemudian ada pula penyediaan produk investasi atau reksa dana oleh marketplace berbasis daring dan sangat ampuh menarik milenial untuk kemudian menjadi investor pemula. 

"Tren belanja online juga sedang katif-aktfinya di Makassar, milenial banyak yang mengakses. Dan menariknya, tidak hanya untuk belanja produk konsumtif, tetapi juga produk investasi. Sekali lagi, karena ini sesuai dengan karakter milenilal, ekonomi digital secara umumnya," papar Fahmin.

Sementara itu, jumlah investor ritel yang tercatat di BEI Perwakilan Makassar dalam kurun waktu setahun terakhir mencatatkan peningkatan cukup siginfikan.

Ini tercermin dari kuantitas akun single investor identification (SID) per September 2018 yang tercatat BEI Perwakilan Makassar mencapai 12.284 SID, atau melesat naik hingga 47,95% dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 8.303 SID.

Para pemilik akun SID itu sebagian besar berdomisili di Makassar, sedangkan selebihnya berasal dari sejumlah kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Selatan. Secara umum dalam kurun waktu terakhir, terjadi penambahan sebanyak 3.981 investor ritel di Makassar dan sekitarnya.

Demikian halnya dengan jumlah akun sub rekening efek atau SRE juga naik cukup tinggi, yang mana per September 2018 sebanyak 14.244 rekening atau naik 48,92% dari tahun lalu yang masih sebanyak 9.686 rekening. 

Perlu diketahui, peningkatan kuantitas SID maupun SRE menjadi indikator perkembangan investor ritl untuk transaksi saham dan belum mencakup reksadana maupun SBN yang pemasarannya melalui pasar modal.

"Investor Makassar juga relatif aktif bertransaksi, sudah lebih banyak yang melakukan transaksi melalui platform online trading terutama investor ritel dari lingkup kampus maupun kelompok milenial secara umum. Gambaran saja, total aset saham yang dimiliki investor ritel Makassar per September 2018 itu mencapai Rp2,12 miliar," ujarnya.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala OJK Regional 6 Sulampua Zulmi menilai pemanfaatan pasar modal sebagai instrumen investai oleh masyarakat Makassar dan Sulsel secara umum berada pada level pertumbuhan dengan klasifikasi agresif terutama di wilayah timur.

Menurut dia, pasar modal bahkan menjadi menjadi sektor industri jasa keuangan dengan catatan kinerja paling impresif di Sulsel jika dibandingkan dengan sektor lainnya tergambar dari pertumbuhan jumlah investor per September 2018.

OJK Regional 6 mencatat, investor pasar modal secara kumulatif baik untuk saham, reksadana serta investasi Surat Berharga Negara (SBN) di Sulsel mencapai 23.285 investor dengan pertumbuhan hingga 52,68% agregat tahunan.

"Nilai transaksi juga tumbuh 75,95% menjadi mencapai Rp8,30 triliun. Capaian ini tidak lepas koordinasi yang intensif dan sinergi yang produktif antara OJK, BEI, stakholder industri pasar modal lainnya serta dukungan pemda juga," tutur Zulmi.

Dia menjelaskan, industri pasar modal menjadi bagian pula dari program inklusi melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) Sulsel yang menghasilkan hingga 7.563 akses saham dan reksadana bagi masyarakat di Sulsel, termasuk di kabupaten/kota.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya