DIRUT INKA BUDI NOVIANTORO : "Serunya Berbisnis dengan China"

Oleh: Dinda Wulandari, Surya Mahendra Saputra 31 Oktober 2018 | 02:00 WIB
DIRUT INKA BUDI NOVIANTORO :
Pekerja mengerjakan produksi kereta Light Rail Transit (LRT) di pabrik kereta PT Inka Madiun, Jawa Timur, Senin (7/5/2018)./ANTARA-Siswowidodo

PALEMBANG — PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA telah menghadirkan kereta api ringan (light rail transit/LRT) pertama yang beroperasi di Tanah Air. LRT yang kini lalu lalang di Kota Palembang itu tentu menjadi proyek vital dalam perjalanan perusahaan di industri manufaktur perkeretaapian. Apa dan bagaimana akselerasi perusahaan ke depan? Bisnis mewawancarai Direktur Utama INKA Budi Noviantoro, Selasa (30/10). Berikut petikannya.

Bisa diceritakan perkembangan PT INKA dari periode sulit hingga sangat ekspansif seperti saat ini?

INKA dibentuk pada 1981, dulu masih di bawah Departemen Perhubungan. Selanjutnya merapat ke BPIS [PT Bahana Pakarya Industri Strategis, holding company). Lalu sejak 2012 sampai saat ini di bawah Kementerian BUMN.

Dulu sempat pindah-pindah dari Kementerian Perhubungan kemudian balik lagi Ke BPIS. Jadi INKA dibentuk itu dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Len Industri dalam rangka membentuk suatu industri strategis, industri kereta api.

Kami punya lahan 22 hektare di Madiun dan sudah penuh. Kami kerja 24 jam penuh tidak pernah off, lampu tidak pernah mati. Kami juga sedang kembangkan workshop baru di Banyuwangi. Alhamdulillah saat event IMF di Bali, ada satu pabrik lokomotif di Amerika akan join, investasi sekitar US$30 juta untuk buat pabrik lokomotif satu line di Banyuwangi.

Produk kami itu mulai dari diesel, EMU [electric multiple unit] seperti KRL, LRT, kereta bandara. Kemudian kereta penumpang, kami juga buat lokomotif. Banyak sekali produk yang kami hasilkan, sudah ribuan termasuk juga gerbong barang.

Kami punya teknologi untuk memproduksi rolling stocks. Dimulai sejak 1982, INKA baru bisa bikin gerbong barang, pada 1984 sudah bisa buat kereta penumpang, pada 1992 buat kereta argo, kemudian ada lokomotif pada 2016, dan 2017 sudah bisa buat LRT.

Kemudian kami juga punya diversifikasi usaha seperti bus. Ada bus loh INKA itu. Ada 56 unit untuk Trans Jakarta dulunya.

Apakah ada rencana untuk terlibat merancang kereta cepat?

Kami sudah mendesain kereta medium speed dengan kecepatan 160 km per jam. Nah, ada juga kereta dengan desain yang bagus sedang kami buat, yakni I yang masuk kategori middle speed, kecepatan 160 km per jam.

Itu sudah kami siapkan desainnya untuk kereta cepat Jakarta—Surabaya. Moncongnya sudah mancung tidak pesek lagi karena kecepatan sudah 160 km per jam. Kita sebagai anak bangsa harus mampu. Kenapa saya harus ngomong gini? Karena kemarin kita di-enyek sama China, dipikir enggak bisa Indonesia bikin kereta cepat. Saya ditantang, ayo!

Bagaimana roadmap produksi kereta cepat yang akan diproduksi INKA?

Sekarang sudah ada Poltek Madiun prodi khusus perkeretaapian. Saya jadi dosennya 3 bulan. Kami sudah menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi. Kami tidak sendirian mengembangkan kereta, ada ITB, ITS, UGM, UNS, dan lainnya. Ada beberapa penelitian yang dibiayai oleh Kemenristek Dikti. Jadi INKA ini tidak sendirian bahkan kami MoU dengan semua perguruan tinggi di Jawa, serta BPPT. Sudah banyak penelitian tetapi belum sampai ke tahap expand untuk kereta cepat, tetapi kita mengarah ke sana. Kami meneliti teknologinya, bahkan interiornya.

Apakah INKA punya benchmarking untuk desain dan produksi kereta?

Kami bisa buat kereta setelah belajar dari Nippon Sharyo, Jepang. Kami kirim engineer ke Jepang untuk mengambil ilmu. Kami contoh awalnya, tetapi sekarang kami sudah bisa buat komponen sendiri, termasuk bikin AC kereta.

Kami punya engineer anak-anak muda sebanyak 180 orang, masih berusia 35 tahun. Direktur dari perusahaan Spanyol juga datang ke INKA dan kaget, datangnya kemarin juga pas momen IMF-World Bank.

Kami juga buat kereta sleeper car [kereta tidur], Kami buat cuma 3 bulan persis seat-nya seperti kelas Qatar Air yang bisnis. AC kereta sudah dibuat INKA, harganya kalau kita impor itu bisa Rp700 juta. Dan kami dipercaya Malaysia untuk buat AC kereta sebanyak 250 unit.

Bagaimana INKA bersaing di pasar internasional dan seperti apa tantangannya?

INKA ini adalah satu-satunya pabrik rolling stocks di Asia Tenggara, coba cari di google maps di Thailand di mana-mana tidak ada.

Jadi, setiap saya jualan pasti ketemu China. Kalau saya ketemu Jepang, pasti mundur Jepang, tinggal saya bersaing dengan China di mana pun itu. Saya ke Kamerun, Senegal ketemunya dengan China. Mereka dengar informasi seperti LRT mogok wah senang. Mereka bilang tuh kan mogok kan kereta Indonesia. Ini seperti tanding sepak bola saja, kalau China ketemu INKA wah seru pasti. Saya kemarin ke Filipina menang, saingannya lagi-lagi China.

Bagaimana kinerja keuangan INKA saat ini?

Kami sudah bisa mencatatkan laba bersih, dari minus Rp96,78 miliar jadi untung Rp72 miliar. Saya kira dari beberapa perusahaan di industri strategis, INKA sudah lumayan.

Di antara industri strategis yang masih rugi adalah KS [PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., makanya di antara pabrik kementerian BUMN yang masih rugi ya KS. Kami akan bantu, jika memang ada spesifikasi yang bisa kami beli dari KS ya kami beli, tapi kadang ada beberapa spesifikasi yang tidak bisa dipenuhi, jadi mesti impor.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya