Bank Jatim Tunda "Spin Off" UUS Jadi Tahun Depan

Oleh: Ipak Ayu H Nurcaya 29 Oktober 2018 | 08:17 WIB
Bank Jatim Tunda
Kegiatan di salah satu kantor cabang Bank Jatim./Antara-Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (Bank Jatim) memastikan rencana pelepasan Unit Usaha Syariah (UUS) akan rampung tahun depan.

Pasalnya, Bank Jatim menargetkan UUS akan menjadi anak usaha dengan modal minimal Rp1 triliun sebagai kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II.

Direktur Keuangan Bank Jatim Ferdian Satyagraha mengatakan awalnya perseroan merencanakan untuk melakukan pelepasan UUS atau spin off pada tahun ini. Namun, kendala permodalan menjadi isu utama.

"Kami targetkan kembali selesai pada Oktober 2019 . Kami harus memasukan 51% atau Rp520 miliar setoran dari pemerintah daerah (Pemda). Jadi kami masih menunggu Rp200 miliar lagi yang katanya akan disetor tahun depan," ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Ferdian mengemukakan skema itu guna memenuhi regulasi yang mewajibkan 51% kepemilikan Bank Pembangunan Daerah (BPD) oleh Pemda setempat. Selain masalah modal, dirinya mengaku UUS BPD Jatim sebenarnya sudah siap.

Sementara itu, rencana spin off ini juga akan berlanjut seiring dengan rencana Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) melakukan merger UUS BPD seluruh Indonesia. Hal ini guna menyelesaikan aturan yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar seluruh UUS beralihfungsi menjadi Bank Umum Syariah (BUS) pada 2023.

Menurut Ferdian, bank dengan kode saham BJTM ini sudah melayangkan rencana spin off sebelum Asbanda membuat rencana penggabungan.

"Kami tetap akan jalankan rencana awal kami, ke depan jika ada penyesuaian tentu kami tetap terbuka," tuturnya.

Dari sisi kinerja, pada kuartal III/2018, Bank Jatim membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,54% menjadi Rp1,06 triliun dari Rp1,01 triliun secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan laba bersih sebesar 3,99% menjadi Rp2,7 triliun dari realisasi tahun sebelumnya pada periode yang sama, yang sebesar Rp2,6 triliun.

Selain itu, pendapatan non bunga juga tumbuh sekitar 13%.

Bank Jatim berhasil menyalurkan kredit senilai Rp33,07 triliun,  tumbuh 7,74% dari Rp30,6 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Secara komposisi, pertumbuhan kredit perseoran ditopang oleh sektor konsumsi sebesar Rp21,02 triliun yang tumbuh10,52% secata tahunan. Adapun kredit komersial dan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masing-masing menyumbang Rp7,08 triliun dan Rp4,96 triliun.

Dari sisi likuiditas, Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan naik 20,13% secara tahunan menjadi Rp52,8 triliun. Hal ini disebabkan oleh naiknya deposito perseroan sebesar 23,05% menjadi Rp17,3 triliun dari Rp14,1 triliun. 

Kenaikan deposito ini merupakan lonjakan terbesar sepanjang tahun berjalan. Naiknya nilai deposito tersebut membuat rasio dana murah atau CASA perseroan turun menjadi 67,11% dari 68,93% pada periode yang sama tahun lalu.

Tahun ini, perseroan membidik pertumbuhan aset sebesar 8,5%, peningkatan kredit 10,65%, kenaikan DPK 10%.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya