Rupiah Melemah, Cek Kesehatan di Dalam Negeri Saja

Oleh: M. Taufikul Basari 23 Oktober 2018 | 17:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Memeriksakan kesehatan di luar negeri bukan hal luar biasa bagi orang Indonesia. Nama-nama seperti Raffles Hospital Singapore, Prince Court Medical Centre, atau Gleneagles di Malaysia sudah jadi langganan sejumlah WNI.

Namun, sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah, mencari layanan kesehatan ke luar negeri perlu ditimbang-timbang lagi. Saat ini banyak diantara kita lebih selektif dalam mengeluarkan dana untuk konsumsi sehari-hari, cenderung lebih memilih membelanjakan uangnya untuk hal yang sangat penting.

Pandangan bahwa mutu dan fasilitas layanan kesehatan di luar negeri lebih baik, sejatinya tak 100% benar. Lihat saja, di dalam negeri, ada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang memiliki fasilitas mumpuni sekaligus bertaraf internasional.  Di sektor swasta, layanan kesehatan terbaik sudah banyak dikembangkan di Indonesia termasuk layanan pemeriksaan laboratorium dan klinik.

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu langkah seseorang melakukan tindak pencegahan terhadap suatu penyakit.

Dengan pemantauan sejak dini dan dilakukan secara berkala, seseorang dapat meminimalkan risiko penyakit ke tahap kronis. Melalui tahap preventif ini, dapat menekan pengeluaran untuk biaya pengobatan yang lebih banyak lagi.

Kata Dewi, tidak perlu harus jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium berstandar internasional. “Prodia menjadi satu-satunya laboratorium yang hasil pemeriksaannya dapat diterima di luar negeri dan tidak perlu dilakukan pemeriksaan ulang,” kata Dewi dalam rilisnya, Selasa (23/10/2013).

Prodia mengklaim telah mengembangkan beberapa pemeriksaan yang berstandar internasional, seperti pemeriksaan genetik Prodia Genomics yang saat ini berkembang dan banyak digunakan di beberapa negara, seperti Belanda.

Pemeriksaan genetik digunakan untuk mengetahui adanya risiko penyakit bawaan/ diturunkan atau risiko penyakit yang timbul karena pola hidup yang tidak sehat.

Dewi menjelaskan, pemeriksaan genetik yang banyak dikembangkan di luar negeri, mulai masuk ke Indonesia dan dikuasai oleh provider asing. Dengan memanfaatkan pemeriksaan dari negara luar, secara tidak langsung mengurangi devisa bagi pemasukan belanja di Indonesia.

Belum lagi data genetik yang mereka peroleh belum kita ketahui pasti apakah terjaga kerahasiaannya atau justru dimanfaatkan sebagai big data bagi mereka.

Pemeriksaan genetik deteksi dini meliputi Prosafe NIPT, untuk mengetahui kelainan kromosom 21,18,13 dan kelainan janin sejak usia kehamilan 10 minggu yang telah dilakukan pemeriksaannya di Lab Prodia.

Demikian juga, beberapa tes genetik lainnya seperti Diagnosis BCR ABL, JAK2; Farmakogenomik (CYP2C19, VKORC1, CYP2C9; Targeted Therapy (penetapan terapi kanker, EGFR, NRAS, KRAS, BRAF; hingga Nutrigenomik.

Dengan demikian, masyarakat memiliki banyak pilihan untuk memperoleh layanan kesehatan di dalam negeri dengan kualitas internasional, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri.

Editor: M. Taufikul Basari

Berita Terkini Lainnya