PERTUMBUHAN EKONOMI KALTIM : Jangan Cuma Mengikis Tambang

Oleh: Sophie Razak 19 Oktober 2018 | 02:00 WIB
PERTUMBUHAN EKONOMI KALTIM : Jangan Cuma Mengikis Tambang
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018)./ANTARA-Irwansyah Putra

Seusai dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai kepala daerah di Kalimantan Timur pada awal Oktober 2018, serangkaian tugas mengadang Isran Noor dan Hadi Mulyadi. Salah satu tugas penting itu adalah mengurangi dominasi sektor pertambangan sebagai tulang punggung bagi perekonomian daerah di Bumi Etam itu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Kaltim, laju pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur (Kaltim) selama ini sangat terpengaruh oleh fluktuasi industri pertambangan. Tengok saja pada 2015 dan 2016, pertumbuhan ekonomi di Kaltim tercatat -1,20% dan -0,36%, seiring dengan kinerja sektor pertambangan yang juga tercatat minus.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Muhammad Nur mengatakan sektor pertambangan memberikan andil terbesar bagi perekonomian daerah.

Kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian Kaltim, lanjutnya, mencapai 46,33%. Dengan demikian, ketika sektor ini terkontraksi maka secara garis besar akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Potensi sumber daya alam yang melimpah di Kaltim masih rentan memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah. Fluktuasi harga komoditas bahkan menjadi kendala utama dalam percepatan ekonomi di Kaltim, katanya kepada Bisnis.

Oleh karena itu, Nur berharap agar ada pengalihan konsentrasi kontribusi ekonomi daerah dari pertambangan ke sektor lain, yakni industri pengolahan, pertanian, serta pariwisata. Dia meyakini bahwa potensi sektor ini dapat mendorong percepatan ekonomi daerah dalam kurun 5 tahun ke depan.

Dia mengatakan bahwa lapangan usaha ini memberikan andil terbesar senilai 18,81% atau senilai Rp29,22 triliun dari total PDRB Kaltim Rp155,4 triliun pada triwulan I/2018.

Kami sudah puluhan tahun tergantung pada SDA [sumber daya alam]. Kita bisa lihat dampak lesunya harga komoditas pada 2015"2016. Ini adalah kajian yang sifatanya global, terhitung sangat riskan. Sudah saatnya Kaltim bersiap-siap memperkuat fondasi ekonominya kearah sektor sumber daya alam yang terbarukan, ujarnya.

Dia memaparkan bahwa apabila pemerintah Kaltim memprioritaskan sektor industri pengolahan, pertanian akan tumbuh mencapai 8%, sedangkan pariwisata pertumbuhannya masih di bawah 1%.

Sesuai dengan yang direkomendasikan oleh pemprov, ekonomi Kaltim yang harapannya mengedepankan sektor pertanian dan pariwisata akan tahan terhadap guncangan. Namun, ini bukan berarti sektor lain tidak penting.

Tiga sektor tersebut sangat berpotensi untuk didorong agar pertumbuhan ekonomi Kaltim tumbuh dengan cepat, sehingga percapatan tersebut harus didukung oleh infrastruktur dan sarana yang memadai, jelasnya.

Berdasarkan data perekonomian Kaltim, pada triwulan II/2018 ekonomi Kaltim tumbuh 1,84 % year-on-year (y-o-y ). Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,77 % (yoy).

Pertumbuhan ekonomi Kaltim yang positif ini, secara tidak langsung juga membuat pergerakan ekonomi nasional tumbuh menjadi 5,27% pada triwulan II/2018. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya 5,06%.

SDM LEMAH

Rektor Universitas Balikpapan Piatur Pangaribuan menambahkan bahwa tingginya ketergantungan ekonomi Kaltim yang selalu bertumpu pada sektor pertambangan membuat masyarakat Kaltim abai terhadap penguatan dari sektor kualitas sumber daya manusia (SDM).

Akar permasalahan adalah pada pendidikan, sektor pertambangan terpuruk, sehingga masyarakat cenderung mengeluh karena kehilangan lapangan pekerjaan. Padahal, apabila masyarakat Kaltim dipacu untuk terus melakukan inovasi dan pengembangna kreativitas, baik dalam sektor apapun sekiranya mampu menjawab tantangan tersebut, tegas Piatur.

Dia tidak memungkiri bahwa kualitas SDM menjadi permasalahan penting di daerah, bahkan hal tersebut berlaku secara nasional. Menurutnya, sekitar 35% warga negara di seluruh pelosok negeri belum tersentuh pendidikan formal. Kondisi ini pula yang secara bertautan turut berpengaruh pada kualitas SDM secara nasional.

Pada sisi lain, Piatur menambahkan bahwa adanya invonasi pengembangan perekonomian daerah juga diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan di sektor pariwisata.

Namun, kendala yang dihadapi saat ini adalah pembangunan infrastruktur. Beberapa waktu lalu kami mengadakan pertemuan dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kaltim. Adapun, permasalahannya adalah pada dukungan pemerintah di sektor infrastruktur yang belum maksimal, jelasnya.

Isran mengaku akan memprioritaskan delapan sektor seusai memegang kendali pemerintahan di Kalimantan Timur bersama dengan Hadi Mulyadi.

Isran mengatakan bahwa delapan elemen yang ada akan menjadi prioritas, yakni masalah kemiskinan, infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pengembangan sumber daya manusia, termasuk terkait dengan difabel. Delapan yang kami siapkan dalam visi dan misi itu tidak ada yang tidak prioritas, katanya.

Menurutnya, dalam waktu dekat, pemerintah akan mengeksekusi program di bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Isran mengatakan bahwa pemerintah Kalimantan Timur akan membenahi infrastruktur yang menjadi penghubung antarkabupaten dan kota serta kampung.

Sayangnya, belum semua visi misi Isran masuk dalam rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) 2019 karena dokumen itu telah disahkan pada 26 Juni 2018 oleh Awang Faroek Ishak.

Kemungkinan, program yang ada dalam visi dan misi tersebut baru bisa berjalan pada anggaran perubahan tahun depan. Namun, bukan berarti tak ada program yang selaras dengan visi misi Isran Noor.

Berdasarkan RKPD 2019, beberapa prioritas juga difokuskan pada pembangunan manusia, melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan dasar, serta pengurangan kesenjangan antarwilayah melalui penguatan konektivitas kemaritiman.

Seluruh program tersebut disusun guna memperkuat daya saing investasi untuk mempercepat penghiliran industri, yang berorientasi kepada peningkatan investasi baik dari dalam maupun luar negeri.

Jika terjadi peningkatan investasi, daya dukung penghiliran industri akan semakin besar. Apabila penghiliran industri berjalan dengan baik, target pertumbuhan dan struktur ekonomi Kaltim yang berkualitas berdasarkan program pembangunan pada 2019 akan bisa terlaksana.

Pada akhirnya, ketergantungan ekonomi yang selama ini sulit lepas dari sektor pertambangan, sedikit demi sedikit akan terkikis di Bumi Etam.

PARIWISATA

Belum lagi jika Pemprov Kaltim serius membangun dan memperkuat sektor pariwisata. Namun lagi-lagi, sektor pariwisata sebagai salah satu sektor yang diharapkan menjadi penopang ekonomi Kaltim masa depan pun terkendala oleh sejumlah faktor di antaranya infrastruktur atau akses jalan di sejumlah kawasan tujuan wisata.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Syafruddin Pernyata saat ini destinasi yang menjadi andalan warga Kaltim adalah wisata alam dan budaya.

Adapun, beberapa destinasi wisata itu seperti Derawan dan Labuan Cermin yang terkenal karena keindahan alam tersebut. Namun, semua destinasi itu masih sulit untuk diakses para wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Sekitar 70% kawasan wisata di Kaltim bergantung pada infrastruktur. Saat ini, anggaran pemerintah hanya Rp5,5 miliar per tahun. Bisa dibayangkan bagaimana industri pariwisata bisa berkembang dengan baik? ucap Syafruddin.

Sementara itu, industri wisata sungai yang menjadi prioritas di Kaltim juga mengalami kendala yang sama. Saat ini, pemerintah mengoperasikan lima unit kapal wisata untuk warga Kaltim.

Ini dilakukan agar warga Kaltim bisa jauh lebih mengenal sungai Mahakam sebagai salah satu sungai yang menopang beraneka satwa endemik. Masalahnya sama, yaitu belum adanya dermaga yang menunjuang kegiatan tersebut. Tentunya ini juga menghambat percepatan perekonomian di sektor pariwiata, tuturnya.

Dia menegaskan, apabila pariwisata diharapkan mampu menjadi lokomotif perekomonian saat ini, harus disertai dengan komitmen yang kuat dari pemerintah untuk melakukan transformasi ekonomi besar-besaran di Kaltim.

Memang benar bahwa tak ada pihak yang dapat meremehkan potensi pariwisata Kaltim karena terbukti masih sangat besar. Namun, apalah artinya transformasi ekonomi daerah jika komitmen untuk mendorong percepatan infrastruktur pendukung tak bisa dimaksimalkan. (k37)

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya