Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ini Faktor Pendorong Kinerja Arwana Citramulia (ARNA)

Emiten produsen keramik PT Arwana Citramulia Tbk. membukukan kenaikan pendapatan sebesar 15,5% pada Januari—September 2018. Kinerja positif tersebut diperoleh dari kenaikan penjualan perseroan sekaligus komposisi harga penjualan yang lebih baik.

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen keramik PT Arwana Citramulia Tbk. membukukan kenaikan pendapatan sebesar 15,5% pada Januari—September 2018. Kinerja positif tersebut diperoleh dari kenaikan penjualan perseroan sekaligus komposisi harga penjualan yang lebih baik.

Direktur Keuangan Arwana Citramulia Rudy Sudjanto mengatakan perseroan terus mendorong kenaikan penjualan keramik baik di pasar domestik maupun pasar ekspor. Pada kuartal III/2018, harga penjualan rata-rata (average selling price/ASP) perseroan meningkat 4,4%.

“Faktor yang menumbuhkan penjualan bersih kami adalah kenaikan volume penjualan sebesar 11%. Selain itu, harga penjualan rata-rata juga meningkat karena mix product,” ungkap Rudy saat dikonfirmasi Bisnis.com, Senin (15/10).

Sejak awal tahun ini, emiten dengan sandi ARNA tersebut memang menerapkan strategi product mix sehingga mendorong penjualan produk yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi. Dengan strategi tersebut, perseroan meningkatkan penetrasi produk kelas menengah-atas yang memiliki margin lebih besar.

Perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induk mencapai Rp115,94 miliar, meningkat 38,22% dibandingkan dengan periode sama 2017. Capaian hingga kuartal III/2018 perseroan tersebut telah mencapai 76,6% dari target laba bersih perseroan pada 2018 yang sebesar Rp151,32 miliar.

“Untuk mencapai target laba bersih sebesar Rp151,32 miliar tersebut, kami optimistis karena kami hanya membutuhkan Rp35,4 miliar lagi, sedangkan pada kuartal III/2018 kami membukukan laba bersih sebesar Rp46,32 miliar,” ungkap Rudy.

Sementara itu, pada Januari-September 2018 perseroan menderita rugi kurs yang mencapai Rp3,91 miliar, turun cukup dalam jika dibandingkan laba kurs perseroan pada periode sama tahun lalu yang sebesar Rp479,16 miliar.

Menurut Rudy, rugi kurs yang menmbengkak cukup signifikan tersebut disebabkan sejumlah belanja perseroan yang harus menggunakan dolar yaitu bahan baku glazur dan gas. Untuk itu, perseroan mengimplementasikan efisiensi pada lini produksinya.

Adapun, berdasarkan rencana kerja perseroan, ARNA akan menambah kapasitas pabrik sebesar 6 juta meter persegi pada 2019, sehingga kapasitas produksi total perseroan mencapai 63,37 juta meter persegi dari saat ini 57,37 juta meter persegi.

Untuk dapat meningkatkan kapasitas pabrik di Sumatera Selatan tersebut, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp150 miliar yang pengeluarannya bertahap mulai dari tahun ini.

Setelah merampungkan penambahan kapasitas pada pabrik di Sumatera Selatan, pada 2020 perseroan akan menambah kapasitas pabrik di Mojokerto sebesar 6 juta meter persegi keramik lagi dengan investasi Rp300 miliar. Terakhir, pada 2022 perusahaan akan kembali meningkatkan kapasitas 6 juta meter persegi di di pabrik Mojokerto dengan investasi Rp300 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dara Aziliya
Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper