Begini Cara BPOM Dukung Regulator di Palestina

Oleh: Annisa Sulistyo Rini 15 Oktober 2018 | 22:35 WIB
Begini Cara BPOM Dukung Regulator di Palestina
Kepala BPOM Penny Lukito melakukan pengawasan distribusi bantuan obat dan makanan yang dikirim kepada korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (19/8)./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA--Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendukung Palestina dalam pengembangan kapasitas regulator melalui program pelatihan internasional yang berkesinambungan dalam 3 tahap.

Penny K. Lukito, Kepala BPOM, mengatakan dukungan BPOM untuk Palestina tersebut merupakan salah satu realisasi kerja sama Selatan-Selatan. Pada tahun ini pelatihan akan fokus pada pertemuan untuk melakukan pembandingan sistem pengawasan obat dan makanan di Palestina serta menilai dan mengidentifikasi kesenjangan kapasitas teknis dan fungsional untuk melaksanakan fungsi regulasi obat dan makanan. 

"Selanjutnya dapat dibuat prioritas kebutuhan pelatihan dalam pengembangan pelatihan untuk inspektur pengawas Palestina," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (15/10/2018).

Pada tahun kedua, kerja sama teknis akan memberikan pelatihan mendalam tentang bidang tertentu dan pada tahun ketiga kerja sama teknis berfokus pada tahap pengimplementasian fungsi regulasi di Palestina.

Penny menyampaikan kerja sama teknis tahun pertama pada 2018 ini dilatarbelakangi oleh prinsip solidaritas atas beberapa tantangan yang dihadapi Palestina dalam bidang kesehatan, antara lain keterbatasan akses terhadap obat generik dan isu terkait kemandirian obat.

“Sebagai salah satu negara terkemuka dalam produksi vaksin, Indonesia sangat berkomitmen untuk membantu negara berkembang lainnya, terutama negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk meningkatkan kapasitas di bidang pengembangan vaksin," lanjutnya.

Dia menambahkan BPOM sebagai bagian dari Pemerintah Indonesia sangat tertarik untuk mengambil peran penting dalam pengelolaan obat-obatan dan vaksin yang akan membantu negara anggota OKI dalam meningkatkan kapasitas mereka dalam peraturan obat dan produksi, khususnya vaksin.

Pelatihan pada tahap I mengambil tema “Strengthening Cooperation in The Field Of Drug Control Through Knowledge Sharing”, dilaksanakan tanggal 15-19 Oktober 2018. Pelaksanaan kegiatan ini bersamaan dengan digelarnya Pekan Solidaritas Palestina yang diselenggarakan tanggal 15-21 Oktober 2018 di Jakarta, untuk memperingati 29 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara.

Momentum ini diharapkan dapat lebih memperkuat hubungan bilateral kedua negara, serta dapat menggali potensi kolaborasi ekonomi antara Indonesia dan Palestina, khususnya di bidang obat. 

"Kami berharap kerja sama ini dapat memperkuat kapasitas regulator Palestina dalam memastikan bahwa produk yang dipasarkan di Palestina adalah produk yang aman, berkhasiat, dan berkualitas baik," kata Penny.

Adapun, Palestina merupakan salah satu negara prioritas yang menerima bantuan pengembangan kapasitas di antara negara-negara berkembang. Prioritas tersebut merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam kerangka kerja Kerjasama Selatan-Selatan. 

Program peningkatan kapasitas yang disediakan oleh Pemerintah Indonesia di Palestina dilakukan di berbagai bidang untuk mendukung pembangunan multi-sektor di Palestina, salah satunya di bidang kesehatan.

Pada kunjungan kerja ke Yordania dan Markas Besar Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada November 2017 lalu, Penny menyampaikan komitmen BPOM untuk mendukung Palestina dalam pengembangan kapasitas obat-obatan dan fungsi rutinisasi makanan, yaitu otorisasi uji klinis, otorisasi pemasaran, inspeksi peraturan, pengujian laboratorium, release vaksin, farmakovigilan serta pengawasan dalam bentuk pelatihan dan saran teknis.

Editor: Maftuh Ihsan

Berita Terkini Lainnya