World Bank Ajak Dunia Mengadopsi Human Capital Index

Oleh: Dwi Nicken Tari 12 Oktober 2018 | 16:33 WIB
World Bank Ajak Dunia Mengadopsi Human Capital Index
Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim (kiri) dan Pendiri Alibaba Group Jack Ma menjadi pembicara pada diskusi panel Disrupting Development dalam Pertemuan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali Jumat (12/10/2018)./JIBI-Abdullah Azzam

Bisnis.com, NUSA DUA — Isu teknologi yang dapat mengubah lingkungan kerja di masa depan menjadi salah satu topik yang ramai didiskusikan dalam setiap sesi rangkaian Annual Meeting IMF—World Bank Group (WBG) di Bali sepanjang pekan ini.

Presiden World Bank Group Jim Yong Kim menyampaikan dalam Rapat Paripurna Annual Meeting IMF—WBG 2018, teknologi dan otomatisasi yang mengancam keberadaan beberapa pekerjaan telah menimbulkan pertanyaan dari berbagai penjuru dunia mengenai langkah yang harus diambil agar masyarakat tetap dapat menopang perekonomian keluarganya.

“Berita baiknya adalah kita telah mengetahui jawaban untuk membantu negara bersiap untuk masa depan. Kuncinya adalah memberikan investasi untuk masyarakat,” ujarnya, Jumat (12/10/2018).

Kim menjelaskan setiap inovasi memang akan mengubah beberapa bentuk pekerjaan, selanjutnya perubahan itu akan membentuk kesempatan baru dan menghasilkan lapangan pekerjaan yang baru pula. Bank Dunia pun telah merilis perangkat baru untuk membantu menyelesaikan masalah investasi untuk masyarakat, yaitu Human Capital Index, Kamis (11/10).

Indeks tersebut memberikan gambaran langsung mengenai hubungan kesehatan dan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Sejauh ini, sebanyak 28 negara telah berkomitmen untuk menjadi pengadopsi Proyek Modal Manusia (Human Capital Project) dan Bank Dunia akan bekerja sama dengan negara-negara tersebut untuk mendesain rencana meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan.

“Indonesia membuat target yang ambisius untuk mengurangi kekerdilan (stunting), dari 33% menjadi 22% pada 2022. Pemerintah melakukan sejumlah reformasi keuangan—termasuk memberikan pajak untuk rokok—untuk mengumpulkan lebih banyak sumber untuk investasi modal manusia,” imbuhnya.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya