Cerita Khas Venzha Peserta Pelatihan Apabila Dikirim ke Mars

Oleh: Salsabila Annisa Azmi 12 Oktober 2018 | 07:52 WIB

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Vincensius Christiawan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang mengikuti simulasi Mars Desert Research Nation (MDRS) oleh The Mars Society di Utah, Amerika Serikat.

Simulasi bertahan hidup di planet Mars itu menumbuhkan semangat dan harapan baru bagi pria yang akrab disapa Venzha ini untuk berkontribusi mengembangkan dunia sains di Indonesia yang tertinggal 30 tahun dengan negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat.

Kediaman Venzha yang terletak di daerah Jokteng Kulon dipenuhi benda-benda berbau ruang angkasa. Mulai dari kumpulan komik science fiction era 1950 hingga 1980 yang tersusun rapi di rak kayu, action figure alien yang terpajang rapi di lemari-lemari kaca, hingga koleksi mainan UFO yang pernah beredar di Indonesia sejak era 1950. Di depan pintu masuk kediamannya, terpajang karyanya yang sempat dipamerkan di Art Jog 2016 bertajuk Universal Influence, yaitu menara Indonesia Space Science Society (ISSS).

Karya berbentuk roket yang berfungsi sebagai transmitter suara dari bumi ke ruang angkasa itu merupakan bagian dari sejarah pertemuan pertamanya dengan Direktur The Mars Society Jepang, Yusuke Murakami, sosok yang mengantarkannya hingga lolos menjadi peserta MDRS.

“Waktu Art Jog 2016 dia datang, dia memang sedang mencari seniman kontemporer yang fokus ke space science untuk berkolaborasi dengan NASA di Art Science Museum. Dia lihat karya saya, saya beranikan ajak dia ke seminar Search for Extra Terrestrial Intelligence (SETI) di Kota Jogja, di sana saya tanya ke dia soal MDRS,” kata pendiri laboratorium seni HONFabLab itu.

Menanggapi pertanyaan Venzha, dahi Yusuke dilihatnya berkerut, Yusuke langsung bertanya pada Venzha, “Kamu sakit apa?”. Kalimat tanya itu bukan untuk mempertanyakan kewarasan Venzha yang berminat mendaftar. Namun untuk mengikuti MDRS, seorang manusia tak boleh sakit sedikitpun. Pasalnya, MDRS berlangsung ala semi-militer dengan tingkat disiplin yang tinggi.

Peserta harus kuat mental dan fisik, sebab MDRS digelar untuk mempelajari dan menganalisis dari banyak cabang ilmu untuk mencari tahu seberapa layak Mars jadi tempat tinggal manusia dan membawa ilmu turunan dari pelatihan itu untuk generasi mendatang.

“Setelah itu rentetan pertanyaan langsung keluar dari mulut beliau, seperti ‘Kamu bisa berhenti merokok?’ ‘Kamu kuat tidak?’, saya jawab saya sanggup. Setelah itu saya pergi ke Jepang untuk wawancara, dua kali, di tahun 2016 dan 2017. Saya mendaftar di tahun 2016 untuk berangkat di tahun 2018. Iya, kayak haji gitu, berangkatnya ngantri,” kata Venzha.

Venzha hanya tertawa kecil ketika ditanya mengapa dirinya terpilih menjadi peserta MDRS bersama enam orang lainnya yang berasal dari berbagai negara. Menurutnya, para juri melihat kesungguhannya.

Saat itu tak ada lagi seniman yang pecinta sains dan ruang angkasa yang rela melakukan crossing ilmu selama bertahun-tahun dengan para scientist Indonesia yang tersebar di seluruh dunia.

Bidang ilmu yang dia seberangi dirasa cukup jauh, yaitu dari seni ke sains berbau ruang angkasa. Namun nyatanya dia berhasil menyerap ilmu tentang ruang angkasa dari para scientist yang rutin diajaknya berkomunikasi.

Maka setelah dinyatakan lolos, dia puaskan hatinya melakukan apapun yang dia inginkan selama setahun. Enam bulan mendekati keberangkatan, Venzha berhenti merokok, motor satu-satunya dia jual dan dia belikan sepeda. Setiap hari selama enam bulan, Venzha mengendarai sepeda kemana pun dia hendak pergi.

“Saya juga mengurangi kontak dengan televisi. Handphone? Oh masih, tetapi frekuensinya saya kurangi. Sebab di sana nanti tidak akan ada televisi dan handphone. Saya takut kalau enggak persiapan, saya tidak bisa bertahan di sana,” kata dia sambil tertawa kecil.

Medan Ekstrem

Venzha tiba di Utah, Amerika Serikat untuk menjalani pelatihan semi militer selama sebulan penuh. Di sana dia tinggal di sebuah kabin berkubah dengan ukuran sangat kecil. Kabin itu digunakan untuk berdiskusi, makan dan tidur. Ada juga toilet di kubah dengan diameter kurang lebih 5 meter yang dilengkapi tandon-tandon air.

Di sana Venzha bertemu dengan teman satu timnya. Beberapa di antaranya Yusuke Murakami, manusia yang pernah tinggal di Antartika selama 18 bulan dan Ahli Biologi Jepang Kai Takeda. Mereka juga ditemani robot aibo yang berbentuk anjing, robot-robot itu berbicara dua bahasa, bahasa Jepang dan bahasa Inggris.

“Masing-masing dari kami ada tugasnya sendiri, kalau saya tugasnya mengoperasikan alat pendeteksi radiasi matahari. Sebelumnya saya sudah bikin alat itu dulu di Indonesia, bersama Dosen Jurusan Teknik Informatika Universitas Sanata Dharma, Pak Yudianto Asmoro,” kata dia.

Selain tugas pokok, masih ada tugas lain yang diterima oleh tim. Contohnya mencari benda aneh atau sampah di gurun kemudian menelitinya dan melaporkan kepada sang commander. Semua dilakukan dengan penuh analisa dan perhitungan, apabila peserta tertangkap basah tak punya perencanaan akan dijatuhi hukuman.

Venzha masih ingat bagaimana dia harus bertahan di suhu hamparan gurun Utah sangat ekstrim. Ketika malam hari, suhu dapat menyentuh minus 20 derajat celcius, sedangkan ketika siang hari bisa mencapai 42 derajat celcius. Dalam kondisi tersebut, peserta tak boleh mandi dan minum seenaknya. Air yang digunakan penuh perhitungan matematis. Peserta hanya diperbolehkan mandi seminggu sekali dengan 5-6 liter air.

“Di suhu ekstrem gurun itu, air dari shower serasa jarum yang menusuki kulit. Sudah gitu kami harus cepat dan hemat melakukan Army Shower nya, tidak boleh lebih dari 5 liter. Kalau tidak nanti dimarahi, dibilang tidak menghargai nyawa orang lain. Pokoknya gimana caranya air itu harus cukup selama sebulan sampai misi selesai, kalau enggak ya mati dong kita,” kata dia.

Selain untuk mandi dan minum, tandon air juga ditemukan di dekat kubah yang berfungsi untuk menanam dan menumbuhkan aneka jenis sayur dan buah-buahan. Mereka harus menyirami bibit tanaman dengan air yang terukur, nantinya ketika tumbuh sayur dan buah itu akan dikonsumsi.

Bagi Venzha hal-hal teknis semacam itu yang paling susah dan membuatnya tertantang. Dia harus mengatur pembukaan kubah kabin yang luasnya disesuaikan dengan perubahan suhu gurun yang sangat ekstrim. Salah perhitungan sedikit saja, bibit yang ditanam akan gagal tumbuh. Bahan makanan mereka pun berkurang.

Meskipun begitu makanan pokok mereka tetap space food berbentuk seperti odol dengan bermacam rasa seperti kari, keju dan apel. Satu peserta membutuhkan dua space food perharinya untuk mendapat energi yang memadahi.

“Rasanya enak banget,” kata Venzha sambil menunjukkan sisa space food berbentuk segitiga yang kebetulan diletakkan di ruang tamunya.

Menjalani serangkaian kegiatan semi militer di gurun dengan suhu ekstrem bukan berarti peserta akan berangkat ke Mars. Venzha mengaku sudah terlampau sering menemui orang yang salah persepsi akan kegiatannya satu itu.

Venzha memaparkan perkembangan teknologi roket untuk menuju Mars. Dahulu diprediksi memerlukan waktu 2,5 tahun untuk sekali tempuh. Dengan kemajuan teknologi dari yang tadinya menggunakan pembakaran roket menjadi cahaya, seorang astronot diperkirakan hanya perlu 6 hingga 9 bulan untuk sampai ke Mars.

Prediksi terbaru dikatakan oleh Elon Musk, hanya membutuhkan waktu 80 hari bagi roket dengan teknologi terbaru untuk sampai ke Mars. “Tetapi sampai sejauh ini belum ada teknologi yang mengantarkan ke Mars,” kata Venzha.

Venzha mengatakan, sejatinya tugas MDRS adalah mengadvokasi peserta pelatihan untuk menghasilkan banyak turunan ilmu dari pelatihan itu. Misalnya analisa kesiapan teknologi beserta kekurangan dan kelebihannya untuk dianalisis dan dilengkapi generasi mendatang.

“Ikut bukan berarti pasti berangkat ke Mars. Siapa tahu ketika teknologinya sudah ada, kami sudah mati kan? Ini buat generasi mendatang. Saat ini sudah ada 1.000 orang yang pernah mengikuti MDRS. Perkembangan teknologi juga semakin pesat, nanti kalau teknologi sudah jadi, pasti astronot yang udah pengalaman yang mengorbit duluan. Kalau kami sekarang hanya transfer ilmu saja ke generasi selanjutnya,” kata Venzha.

Salah satu ilmu yang bisa dinikmati generasi mendatang, contohnya adalah film dokumenter selama mereka menjalani pelatihan. Saat mereka berlatih, mereka direkam oleh 40 kamera yang terpasang di gurun Utah. Saat ini film dokumenter tersebut tengah digarap dan disponsori oleh NHK Jepang. Harapannya generasi mendatang bisa melakukan analisa dari proses pelatihan tersebut.

Venzha pun sejalan dengan paham bahwa ilmu yang didapatkan dari MDRS atau suatu saat nanti, Mars, harus dikembalikan ke bumi dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia di bumi. Sebab menurutnya, Mars bukanlah tempat yang cocok untuk hidup manusia.

Jika manusia membutuhkan tempat lain untuk hidup selain bumi, masih banyak planet lain yang masih diteliti yang lebih cocok untuk habitat hidup manusia.

Jenius Indonesia

Keprihatinan selalu muncul dalam diri Venzha ketika melihat banyak ilmuwan dan scientist Indonesia yang jenius memilih bekerja di luar negeri. Diakuinya belum ada fasilitas yang memadahi di setiap institusi sains Indonesia. Ketika berkunjung ke gedung-gedung institusi yang memfasilitasi ilmu sains di Indonesia, hanya terlihat beberapa buku dan kertas tersusun di rak.

Pemandangan yang sangat berbeda dengan laboratorium sains di beberapa negara, hasil temuan ditampilkan dan terpajang beberapa miniatur seperti roket dan tata surya.

Teknologi yang dihasilkan pun sangat tertinggal dengan negara lain. Venzha memprediksi ketertinggalan ilmu sains Indonesia dengan negara maju adalah 30 tahun. Maka sepulangnya dari MDRS, dia bergegas mengunjungi SETI pusat di California, Silicon Valley, untuk melaporkan hasil analisa MDRS nya.

“Kemudian balik ke Los Angeles, tepatnya ke Space X. Itu perusahaan semacam NASA tapi swasta. Setelah semua ilmu terkumpul saya ke LAPAN menghadap pak Thomas Jalaludin, dan beliau nawarin kolaborasi. Nanti November orang LAPAN akan ke sini membicarakan proyek kami,” kata Venzha.

Tak hanya itu, dengan prinsipnya yang selalu mengedepankan kolaborasi dengan scientist Indonesia, baik di luar maupun dalam negeri, Venzha masih aktif menggandeng para jenius sains di Indonesia untuk bergabung dalam ISSI.

“Sekarang saya mengumpulkan senior-senior LAPAN dan ahli astronomi untuk saling support dalam ISSI. Mereka benar-benar brilian, luar biasa, sayang kalau ilmu di otak mereka yang rasanya saya pengen ijolan itu, enggak dikembangkan. Dan hingga saat ini mereka sangat antusias dengan rencana-rencana kami, mereka emang udah nunggu hal semacam ini sejak lama,” kata dia.

Menurut Venzha kendala utama institusi sains saat ini adalah semuanya saling asing di laboratorium masing-masing. Maka dengan ISSI, Venzha mulai memikirkan proyek dasar. Menurutnya untuk awal tak terlalu muluk, cukup menciptakan buku tentang sains yang dijamin belum pernah ada di Indonesia. Tujuannya untuk mengubah paradigma generasi muda yang masih linier dalam memilih profesi, dan generasi muda pegiat sains yang masih takut bermimpi.

Sedangkan rencana pribadi kedepannya, Venzha berencana mengikuti simulasi di Antartika pada Februari hingga Maret 2019 di Jepang.

“Namanya simulasi kapal Shirase Expedition, kepanjangannya Simulation of Human Isolation Research for Antartica Based Space Engineering. Itu akan lebih ekstrim, karena tidak ada ruang terbuka. Bener-bener ada di ruang tertutup dengan suhu yang bisa dinaik-turunkan secara ekstrem oleh pelatihnya. Yang jelas, ilmunya nanti juga akan saya transfer ke HONF atau ISSI,” kata dia.

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya