Mahasiswa Forensik Unair Bantu Identifikasi Jenazah Gempa Palu

Oleh: Choirul Anam 12 Oktober 2018 | 18:36 WIB
Mahasiswa Forensik Unair Bantu Identifikasi Jenazah Gempa Palu
Mahasiswa Pascasarjana Unair membantu tim DVI Mabes Polri mengidentifikasi jenazah korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala/Istimewa

Bisnis.com, MALANG--Sebanyak lima mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) program magister Ilmu Forensik membantu proses identifikasi forensik jenazah korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Pudji Hardjanto salah satu dari lima mahasiswa ilmu forensik Pascasarjana Unair sukarelawan di Palu mengatakan mereka bergabung dengan tim Disaster Victims Identification (DVI) Mabes Polri untuk melakukan fungsi identifikasi jenazah korban gempa dan tsunami Palu-Donggala.

“Ada lebih dari 800 jenazah yang telah diidentifikasi. Dalam sehari, sekitar 100 jenazah,” katanya dalam keterangan resminya, Jumat (12/10/2018).

Di hari-hari awal setelah bencana terjadi, pembusukan jenazah masih tampak wajar, namun padai ketiga dan seterusnya semakin rusak. Tim DVI hanya mengandalkan sidik jari saja, dan properti yang masih melekat di tubuh jenazah.

Kebanyakan pakaian sudah terlepas dan hilang dari jenazah. Banyak jenazah telanjang yang ditemukan. Salah satu jenazah yang berhasil diidentifikasi adalah warga asing dari korea yang diidentifikasi melalui sidik jari.

Identifiaksi forensik dilakukan di RS. Bhayangkara Palu. Karena banyaknya jenazah, tidak semua bisa teridentifikasi dengan baik.

Selain mahasiswa forensik Unair, tim lain yang bekerja di bawah kepolisian antara lain mahasiswa forensik dari dari Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Diponegoro, dan beberapa universitas lain yang memilikui studi forensik.

Saat ini, identifikasi forensik sudah ditutup karena memang jenazah sulit untuk dikenali. Satu-satunya adalah melalui DNA, namun butuh waktu dan sampel.

Selanjutnya, tim DVI melakukan identifikasi jika ada konflik yang menyangkut hukum. “Seperti yang pernah terjadi, rebutan jenazah dari dua keluarga karena kondisi jenazah yang mirip,” katanya.

Kini, mahasiswa forensik Unair bersama tim DVI menunggu identifikasi jika memang ada konflik. Sambil menunggu, mereka melaksanakan fungsi sosial dengan mendatangi pengungsi-pengungsi terkait kebutuhan yang mereka butuhkan serta turut menyalurkan bantuan kepada para pengungsi, termasuk bantuan yang datang dari Unair dalam bentuk tenda dan bahan makanan.

Kondisi terkini di Palu-Donggala, kata dia, kegiatan ekonomi sudah mulai membaik. Penjual makanan mulai ada, toko mulai buka, listrik lancar, BBM juga lancar

“ Bantuan tidak seperti kemarin-kemarin yang harus mencari ke sana kemari. Sekarang sudah banyak bantuan datang,” ucapnya.

Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana UnairProf.Anwar Ma'ruf, mengatakan ada lagi mahasiswa yang mau bergabung dengan tim terdahulu dari Unair, yakni dari psikologi terutama terkait trauma healing.

“Harapannya, semoga mahasiswa forensik ikut membantu saudara-saudara kita yang ada di Palu-Donggala, karena tenaga dari forensik sangat diperlukan dalam bencana seperti ini. Di sana mahasiswa bisa membantu sambil belajar,” ujjarnya.

Sebelumnya,  pada bencana di Lombok ada mahasiswa forensik Unair yang berangkat namun secara individual.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya