KAWASAN INDUSTRI : Minat Ada, Pembelian Minim

Oleh: Finna U. Ulfah 12 Oktober 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA - Kondisi pertumbuhan properti di Indonesia masih mengalami progres yang merangkak. Demikian pula dengan lahan kawasan industri yang masih stagnan.

Director Industrial and Logistics Services Colliers International Indonesia Rivan Munansa mengatakan secara umum selama kuartal tiga hingga akhir 2018 kondisi sektor industri diperkirakan akan terus berjalan di tempat.

"Diperkirakan masih stagnan walaupun minat terhadap lahan industri sedikit meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya," ujar Rivan saat dihubungi Bisnis, Rabu (10/10).

Adanya permintaan tersebut, katanya, belum mampu menopang angka penjualan lahan industri yang memuaskan akibat masih banyak perusahaan yang cenderung bersikap menunggu dan belum melakukan keputusan pembelian.

Industri yang masih tinggi angka permintaannya terhadap pasar lahan industri adalah industri logistik, otomotif, dan perusahaan fast moving consumer goods (FMCG). Permintaan tersebut dikarenakan pasar Indonesia yang begitu luas dan perusahaan industri terkait masih terus berkembang dengan baik.

"Tetapi memang terdapat beberapa pengembang dengan lokasi pengembangan yang strategis, yaitu lokasi yang terdekat dengan Jakarta, memang tetap membukukan penjualan," kata Rivan.

Rivan memprediksi kondisi sektor kawasan industri akan mulai pulih dan kembali berkembang pada 2019 setelah pemilihan umum berakhir.

Sektor kawasan industri, lanjut Rivan, memerlukan stimulus seperti keadaan politik dan ekonomi yang lebih baik, seperti tingkat suku bunga dan nilai tukar rupiah yang stabil, untuk dapat membantu sektor industri kembali tumbuh.

Sementara itu, Head of Research PT Jones Lang LaSalle James Taylor mengatakan pertumbuhan pergudangan di kawasan industri sedikit lebih baik dibandingkan dengan aktivitas properti lainnya

"Aktivitas e-commerce memberikan dampak positif terhadap permintaan kawasan pergudangan modern," kata James saat acara pemaparan Jakarta Property Market Update Third Quarter 2018, Rabu (10/10).

Dia memaparkan saat ini ada sekitar 1,5 juta m2 kawasan pergudangan modern yang berada di kawasan Jabodetabek dan masih akan terus bertambah 350.000 m2 hingga 2021. Dia mencontohkan Logos yang sedang mengembangkan 155.000 m2 gudang modern yang akan selesai dibangun pada 2019.

Selain pergudangan modern, Logos juga akan membangun komplek logistik modern di area seluas 23 hektare di Kota Deltamas, Cikarang.

James juga menyampaikan yied yang didapat dari pasar kawasan industri pada kuartal III/2018 berjumlah 8,0% hingga 8,5%, sedangkan pertumbuhan harga tanah di kawasan industri area JaBoDeTaBek masih cenderung stabil.

Proses Lama

Direktur Utama PT Modern Industrial Estate Pascal Wilson mengaku penjualan lahan industri saat ini memang masih tersendat dan belum menunjukkan pertumbuhan yang baik.

"Karena kan di industri beda ya untuk menangani satu konsumen saja membutuhkan waktu yang banyak, tidak seperti produk komersial. Prosesnya lama karena juga terkait nilai investasi perusahaan yang membeli, sehingga butuh waktu panjang. Apalagi melihat nilai dolar sekarang tinggi, kedua regulasi dan tahun politik pasti ekonomi juga sedikit terganggu," ujar Pascal usai seremoni Groundbreaking Modern Halal Valley di Serang, Rabu (10/10).

Dia mengatakan telah mengantongi permintaan lahan industri 90 hektare pada Modern Halal Valley dan sebanyak 30 hektare pada Modern Cikande Industrial Estate yang sedang diusahakan untuk dapat terealisasi pada tahun ini.

Perusahaannya tidak akan merubah target penjualan hingga akhir tahun dan masih akan terus berusaha untuk mencapai nilai target penjualan yang mencapai Rp1 triliun.

Menurutnya, PT Modernland Realty Tbk. melalui anak perusahaannya PT Modern Industrial Estate meluncurkan klaster khusus industri halal, Modern Halal Valley., yang merupakan kawasan klaster industri halal terinteregasi pertama seluas 500 hektare yang berlokasi di Modern Cikande Industrial Estate.

"Modern Cikande Industrial Estate ingin berpartisipasi dalam mewujudkan visi Indonesia untuk membangun ekosistem halal yang lengkap untuk makanan halal dan industri terkait," ujar Pascal.

Modern Halal Valley akan terdiri atas tiga tahapan pengembangan dengan tahap pertama mengembangkan lahan seluas 150 hektare dan total investasi mencapai Rp500 miliar di luar harga lahan.

Pengembangan tahap pertama akan memfokuskan kepada 3 sektor industri seperti industri makan dan minuman (mamin), industri obat-obatan, dan industri kosmetik yang terdiri atas industri lokal hingga asing.

Head Officer Investor Relation Bekasi Fajar Industrial Estate, Seri, juga optimistis perusahannya mencapai target meski kondisi sektor kawasan industri masih tersendat. "Kami masih mau mencapai target kok, kami belum merubah target," ujarnya kepada Bisnis.

Perusahaan dengan kode saham BEST tersebut menargetkan akan menjual lahan industri seluas 35 hektare hingga 45 hektare sampai dengan akhir 2018.

Direktur PT Griya Idola Eddy Kalrli mengatakan di kawasan Industri Griya Idola Industrial Park (GIIP) yang merupakan anak perusahaan PT Barito Pasific Tbk di Cikupa, Tangerang akan dibangun pabrik, gudang (menengah, kecil dan multiguna), ritel, ruko, perkantoran, dan hotel. Selain itu juga akan dibangun pabrik eksklusif, gudang dengan kualitas tinggi, food pavilion, dan data center jika bisa dialokasikan.

Eddy menilai pengembangan kawasan industri di Cikupa, Tangerang, bagian barat luar Jakarta sangat berpotensi karena selama ini pembangunan kawasan industri terfokus di bagian Timur luar Jakarta. Sejumlah besar bisnis manufaktur, logistik, dan pergudangan mengisi kawasan industri di area seperti Karawang, Bekasi, dan Cikarang.

“Kami banyak menerima permintaan untuk lahan industry dan tingkat serapan di kawasan ini berada di angka 80%, jadi kami melihat ada potensi yang besar,” Lanjut Eddy

Eddy memaparkan pembangunan GIIP terbagi menjadi beberapa fase. Pada fase I, perusahaan penghasil produk sanitasi ROCA dari Spanyol sudah membangun pabrik pertama pada 7 hektare lahan dan segera beroperasi. Sementara itu, perusahaan lainnya yang ikut bergabung di antaranya dari sektor logistik, manufaktur atau perakitan dari berbagai industri termasuk otomotif, kesehatan, F&B dan consumer goods.

Editor: M. Rochmad Purboyo

Berita Terkini Lainnya