PENGEMBANGAN PARIWISATA : Fokus Harus Diarahkan ke Papua

Oleh: Yanita Petriella 12 Oktober 2018 | 02:00 WIB

MANOKWARI — Destinasi wisata di Provinsi Papua dan Papua Barat berpotensi menyumbang 25% terhadap total kunjungan wisatawan secara nasional per tahun, apabila pemerintah serius dalam membangun infrastruktur penunjang.

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari menjelaskan, potensi bisnis wisata di kedua provinsi Tanah Papua itu sangatlah besar karena keduanya memiliki kekhasan dan keotentikan budaya.

Menurut datanya, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke kedua provinsi tersebut berkontribusi sekitar 8% terhadap total kunjungan turis asing ke Tanah Air setiap tahunnya.

Adapun, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) ke Papua dan Papua Barat mencakup 2% dari total pergerakan turis domestik setiap tahunnya.

“Saat ini kunjungan wisatawan ke Tanah Papua kecil sekali, karena turis lebih banyak ke Bali, Jakarta, dan Batam. Untuk ke Tanah Papua membutuhkan biaya transportasi yang mahal. Jauh lebih murah kalau ke Singapura atau Jepang bagi wisnus. Jadi, jika pemerintah serius membangun infrastruktur penunjang, saya yakin kontribusi kunjungan wisatawan ke Papua dan Papua Barat bisa naik menjadi 25% per tahun,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (11/10).

Dia berpendapat, selain masalah akses transportasi, tidak banyaknya wisatawan yang datang ke Tanah Papua disebabkan karena kurang menariknya pengemasan produk yang ditawarkan dan minimnya amenitas di lokasi destinasi wisata.

Padahal, Bumi Cendrawasih memiliki destinasi wisata alam dan kawasan endemik burung surgawi (birds of paradise) yang mampu menarik kunjungan wisatawan terutama pelancong asing.

“Ini memang perlu keseriusan pemerintah. Di Tanah Papua banyak destinasi yang tak dimiliki negara lain terutama untuk keanekaragaman hayatinya. Infrastruktur penunjang ecowisata di Tanah Papua inilah yang harus segera dibangun,” tutur Azril.

Saat ditemui Bisnis di kediamannya, Bupati Pegunungan Arfak (Pegaf), Papua Barat Yosias Saroy menuturkan, sebenarnya ada banyak potensi pariwisata di kabupatennya. Misalnya, gua terdalam kedua di dunia, danau Anggi Gida (Danau Perempuan) dan Anggi Jigi (Danau Laki), gua di Dohu, air terjun, penangkaran kupu-kupu, penangkaran burung cendrawasih di Kuaw, rumah adat kaki seribu, dan jalur perlintasan bukit.

“Setiap bulannya, wisatawan yang datang ke wilayah kami mencapai 10 hingga 15 orang. Namun, turis yang datang belum dikenakan pajak dan retribusi karena peraturan daerahnya masih digodok. Pasalnya, Kabupaten Pegaf ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Manokwari yang baru berdiri sejak 2012.”

Saat ini, sebut Yosias, Pemkab Pegaf merencanakan pembangunan homestay yang melibatkan masyarakat adat dalam pengelolaannya. Kabupaten Pegaf juga tengah menata aturan pariwisata, yakni dengan melarang didirikannya permukiman dan keramba di dekat danau.

Dia mengungkapkan, saat ini yang dibutuhkan untuk menunjang sektor pariwisata adalah pembangunan infrastruktur jalan dan listrik. Sebab, belum semua desa di kabupaten tersebut memiliki aliran listrik dan jalan penghubung.

OKUPANSI HOTEL

Ditemui secara terpisah, anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Papua Barat Adri Syawal menuturkan, okupansi hotel di Provinsi Papua Barat pada akhir tahun lalu mencapai 72% dan diproyeksikan mencapai 75% hingga akhir tahun ini.

Tren peningkatan okupansi kamar hotel tersebut merupakan dampak dari banyaknya maskapai yang melakukan penerbangan langsung ke Papua Barat seperti ke Manokwari dan Sorong.

“Kenaikan okupansi hotel setiap tahunnya ini karena ada penerbangan langsung dari Surabaya, Ujung Pandang, dan lain sebagainya. Selain itu, karena ada penambahan kamar di Papua Barat. Saat ini terdapat 30 hotel di Papua Barat.”

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat Christian menambahkan, jumlah wisman dan wisnus yang menginap di homestay Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat mencapai sekitar 500 hingga 1.000 orang pada tahun lalu.

Hingga akhir tahun ini, diperkirakan jumlah wisatawan yang menginap di homestay bisa mencapai 2.000 orang. Adapun, homestay di Kabupaten Raja Ampat memiliki total 300 kamar.

“Yang paling banyak wisatawannya itu dari mancanegara. Biasanya ramai datang pada periode September hingga Maret. Namun, untuk April hingga Agustus tahun ini tak begitu ramai karena pengaruh angin di sini,” ujarnya.

Apabila sedang tak ramai dikunjungi wisatawan, lanjutnya, perolehan pendapatan seluruh homestay di Raja Ampat mencapai Rp800 juta hingga Rp1 miliar dalam sebulan. Namun, apabila banyak wisatawan yang tengah berlibur, omzet homestay di Raja Ampat bisa mencapai Rp2 miliar per bulan.

“Agustus itu bulan sepi, tapi kami bisa peroleh Rp2 miliar. Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, perolehan bisnis homestay beda-beda di Raja Ampat, ada yang tahun ini naik pendapatannya ada yang turun,” kata Christian.

Dari Provinsi Papua, Asisten II Sekretaris Daerah Provinsi Papua Noak Kalise mengungkapkan, sektor pariwisata memiliki peranan penting terhadap peningkatan ekonomi daerah. Terlebih, provinsi tersebut memiliki banyak destinasi wisata seperti pegunungan Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid, lalu wisata di Wamena.

“Yang harus dilakukan saat ini adalah pembenahan dan promosi paket wisata. Tentu kami sadari pembenahan tak dapat dilakukan sendiri karena dana kami terbatas, harus bermitra dengan lain terutama dengan pihak swasta,” ucapnya.

Dari sisi pelaku usaha, pemilik operator Adventure Carstensz Maximus Tipagau memaparkan, untuk menunjang wisata Pegunungan Cartensz dibutuhkan pembangunan bandara perintis dan helipad di Ugimba, yang telah ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2014.

Selain itu, sebutnya, dibutuhkan fasilitas jalan setapak dan jembatan yang lebih aman bagi turis di sepanjang jalur pendakian Sugapa—Ugimba—Carstensz.

“Kami juga butuh shelter wisata dan toilet di sepanjang jalur pendakian, serta fasilitas kereta gantung yang melintasi puncak Carstensz dan lembah danau-danau untuk mengurangi beban lingkungan akibat banyaknya turis mendaki,” tuturnya.

Editor: Wike Dita Herlinda

Berita Terkini Lainnya