SMART AIRPORT : Menanti Kehadiran Robot Check In di Bandara Ngurah Rai

Oleh: k23 12 Oktober 2018 | 02:00 WIB
SMART AIRPORT : Menanti Kehadiran Robot Check In di Bandara Ngurah Rai
Petugas memeriksa tiket penumpang di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Rabu (29/11)./ANTARA-Wira Suryantala

Satu robot berbentuk kotak persegi panjang ukuran setengah badan manusia berjalan dengan perlahan menuju kerumunan orang-orang. Ketika tepat berada di depan salah seorang penumpang, kotak itu akan langsung berhenti dan melayani proses check in.

Penumpang yang berhadapan dengan robot tinggal menempel dan merekam online tiket pada robot mesin itu. Dalam hitungan menit, boarding pass langsung keluar. Selanjutnya, robot akan mengeluarkan stiker bagasi dan tinggal ditempeli secara manual ke barang bawaan.

Ya, semudah itu melakukan check in di Bandara Ngurah Rai. Tidak perlu antre dan memakan waktu lama. Proses check in dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit dan secara self-service.

Robot itu bernama Kate Intelligent Autonomous Check in Kiosk yang mampu membuat penumpang melakukan self-service check-in tanpa bantuan petugas. Robot itu berwarna putih dan memiliki tinggi 1,392 mm, tebal 423 mm, dan lebar 514 mm.

Pengalaman itu diperkirakan baru akan hadir dalam kurun 6—9 bulan lagi. SITA sebagai perusahaan penyedia teknologi tersebut perlu waktu lebih lama untuk menyediakan jumlah mesin. Namun, optimisme mereka untuk menghadirkan layanan ini di Bandara Ngurah Rai sudah dapat dipastikan bakal terealisasi.

Pihak manajemen PT Angkasa Pura Supports pun telah menandatangani kerja sama dengan SITA dalam menghadirkan layanan teknologi di bandara. Bandara Ngurah Rai sendiri digadang-gadang akan menjadi bandar udara pertama di Indonesia yang akan menggunakan teknologi ini. Sebelumnya, teknologi sejenis telah diterapkan di Malaysia dan Jepang namun hanya dalam bentuk mesin tetap dan belum mampu melalukan pergerakan seperti yang dipamerkan di Bandara Ngurah Rai.

Maka, jika ini sudah teralisi janganlah kaget dengan kehadiran robot mobile yang akan melayani penumpang selama melakukan check in di Bandara Ngurah Rai. Ini adalah salah satu teknologi smart airport yang akan diadaptasi untuk meningkatkan layanan ke penumpang.

Adaptasi teknologi terkini sepertinya memang sangat perlu hadir di Bandara Ngurah Rai. Bagaimana tidak, trafik penumpang di Bandara ini tergolong tinggi. Selama 2017 saja, total penumpang di Bandara Ngurah Rai mencapai 21 juta penumpang.

Dengan tambahan predikat Best Airport 2017 untuk kategori bandara kapasitas 15-25 juta penumpang per tahun, sudah menjadi keharusan bagi Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai untuk terus meningkatkan inovasi layanan.

Direktur Pengembangan Usaha PT Angkasa Pura I (Persero) Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, Indonesia merupakan pasar penerbangan terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 110 juta trafik penumpang selama 2017 dan diprediksi tumbuh signigikan tiap tahunnya. Pada 2036, misalnya, Indonesia diprediksi akan masuk dalam empat besar pasar penerbangan dunia dengan prediksi 355 juta trafik penumpang.

Menurutnya, dengan potensi pertumbuhan trafik dan industri penerbangan yang tinggi, Angkasa Pura I semakin optimistis untuk unjuk diri sebagai 10 perusahaan pengelola penerbangan terbaik di Asia dengan mengoperasikan bandara sistem kelas dunia.

kerja sama

Bandara Gusti Ngurah Rai memilih bekerja sama dengan SITA, yang merupakan penyedia solusi IT dan komunikasi untuk melakukan transformasi perjalanan udara.

Saat ini hampir setiap maskapai penerbangan dan bandara di dunia telah bekerja sama dengan SITA untuk memberikan layanan teknologi terbaru.

Khusus di Bandara Ngurah Rai, Angkasa Pura dan SITA menghadirkan self-service check in kiosk, bag drop, and boarding gates.

“Saat ini kami siap bekerja sama dengan SITA dan memperkenalkan berbagai teknologi smart airport yang inovatif dan memungkinkan kami menerapkan operasional bandara kelas dunia dan meningkatkan kapasitas bandara-bandara kami,” katanya, Kamis (11/10).

Plt Direktur Utama PT Angkasa Pura Supports Trikora Harjo mengharapkan teknologi ini mampu menjadi solusi untuk mengurangi antrean panjang saat melakukan check in. Dia menarget teknologi ini akan digunakan segera di Bandara Ngurah Rai, Bali. “Kami sih harapkan sebanyak-banyaknya karena menyesuaikan dengan perkembangan bandara saat ini,” katanya.

Sebenarnya, SITA sendiri telah mendukung Angkasa Pura I sejak 2014 lewat teknologi Airport Connect yang merupakan platform umum untuk memungkinkan maskapai beroperasi secara lancar di 13 bandara yang dikelola AP I lainnya.

President SITA Asia Pasifik Sumesh Patel mengatakan Indonesia merupakan salah satu industri transportasi udara dengan pertumbuhan trafik yang cukup signifikan. Indonesia juga dilihat terus melakukan inovasi pada pesawat, bandara, dan infrastruktur sehingga menjadi pasar yang tepat untuk SITA.

Menurut dia, berdasarkan rencana pihaknya akan menyediakan 30 sampai 36 unit self service check-in kiosk untuk Bandara Ngurah Rai. Nantinya, 6—9 bulan lagi baru bisa dihadirkan karena menunggu kesiapan infrastruktur bandara.

Menurutnya, implementasi teknologi ini di Bandara Ngurah Rai bukan terletak pada nilai atau mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Namun, bagaimana, Bandara Ngurah Rai mampu mengurangi pengeluaran untuk penyedian perangkat check in biasa dan gaji pegawai lewat mengganti ke self service check-in kiosk.

“Kami telah sukses mengimplementasikan teknologi ini di berbagai negara di dunia, kontribusi ke depannya adalah Indonesia.”

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya