ANTISIPASI DAMPAK BENCANA : Kajian Gempa Layak Masuk RPJMD & Tata Ruang

Oleh: Peni Widarti, k23 12 Oktober 2018 | 02:00 WIB
ANTISIPASI DAMPAK BENCANA : Kajian Gempa Layak Masuk RPJMD & Tata Ruang
Warga mencari barang-barang yang masih diselamatkan dari serakan bangunan dan rumah yang terseret lebih dari 1,5 kilometer dan tertimbun lumpur akibat liquifaksi tanah pascagempa bumi di Desa Langaleso, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (8/10). /Antara

SURABAYA — Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau ITS mendorong pemerintah untuk memasukkan kajian gempa ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD dan tata ruang guna meminimalisir dampak gempa.n

Adapun kajian gempa yang bisa dimasukkan dalam RPJMD mencakup ancaman gempa untuk menilai besaran magnitudo, kerentanan tanah, penurunan tanah, kerentanan bangunan permukiman dan publik, kerentanan sosial serta mitigasi struktural dan nonstruktural atau pemberdayaan masyarakat.

Pakar geologi Pusat Studi Kebumian ITS, Amien Widodo mengatakan bahwa menyusul adanya patahan yang berpotensi menimbulkan gempa di Surabaya dan berkaca pada gempa Lombok, Palu, Donggala dan Situbondo, pihaknya melakukan penelitian terkait dengan kondisi tanah di Surabaya.

“Penelitian ini ditujukan sebagai sarana mitigasi agar bisa menekan kerugian baik materiil ataupun nonmateriil akibat gempa,” katanya, pada Kamis (11/10).

Dia menjelaskan, penelitian tersebut juga didasarkan pada penemuan dua patahan aktif yang melewati Kota Surabaya yang diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) awal September tahun lalu.

Kedua patahan itu adalah patahan Surabaya dan patahan Waru. Patahan Surabaya meliputi kawasan Keputih hingga Cerme. Sementara itu, patahan Waru yang lebih panjang lagi melewati Rungkut, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Saradan, bahkan sampai Cepu.

“Dengan adanya data seperti ini, kita harus memetakan dampak akibat gempa yang dihasilkan,” ujarnya.

Amien menerangkan, tanah memiliki karakteristik yang berbeda saat dikenai beban gempa. Ada yang bisa mengalami likuifaksi ataupun amplifikasi.

Likuifaksi merupakan peristiwa yang terjadi pada tanah yang memiliki lapisan pasir. Di dalam tanah tersebut terdapat air dalam kondisi jenuh yang kemudian akan mendorong ke atas dan mengakibatkan pasir dan air langsung keluar.

“Air itu menjadi bertekanan saat terkena beban gempa.”

Adapun amplifikasi merupakan gerakan yang merambat melalui tanah yang lunak dan menghasilkan amplitudo yang besar. Pembesaran ini yang nantinya akan mempengaruhi energi dari gempa tersebut.

“Dengan kata lain kekuatannya akan berlipat beberapa kali,” imbuhnya.

Kepala Laboratorium Geofisika Teknik dan Lingkungan ini menyebutkan bahwa kawasan Surabaya Timur dan Utara yang jenis tanahnya berupa endapan rawa lebih berpotensi untuk mengalami amplifikasi.

Amien menambahkan, sebagai upaya pencegahan dampak gempa yakni bisa dilakukan dengan cara pemadatan tanah serta penggunaan fondasi tiang pancang pada bangunan bertingkat guna mengurangi dampak dari amplifikasi.

“Sebenarnya sudah banyak yang tahu kalau kualitas tanah di Surabaya kurang baik, hal itu terlihat dari tingginya pengurukan tanah sebelum membuat bangunan.”

Pada Kamis (11/10), gempa bumi berkekuatan 6,4 SR mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali. Pusat gempa di Situbondo terjadi pada kedalaman 12 km dengan episentrum gempa bumi terletak pada koordinat 7,47 LS dan 114,43 BT.

Pusat Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan (BNPB) menyebut untuk sementara ini ada tiga korban meninggal dunia dan beberapa kerusakan akibat gempa ini.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim hingga kini belum meng-update perkembangan penanganan bencana alam karena masih menunggu data dari 22 BPBD kota/kabupaten yang terdampak.

TOWER TAH­AN GEMPA

Dari Denpasar, sebelumnya dilaporkan, AirNAv Indonesia akan membangun tower baru di Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie Palu dengan kemampuan mampu menahan gempa hingga kekuatan 9 skala richter (SR).

Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto mengatakan tower baru tersebut akan dibuat sesegara mungkin dengan pengerjaan 7—8 bulan ke depan. Pilihan untuk membuat tower baru lantaran tower lama yang kondisinya sudah retak dan tidak bisa diperbaiki. Adapun untuk tower tahan gempa tersebut nantinya akan lebih banyak menggunakan konstruksi baja. Selain Bandara Palu, pembangunan tower tahan gempa juga akan dilakukan di daerah rawan lainnya seperti Nusa Tenggara Barat, Yogyakarta, maupun Aceh.

Menurut dia, sebenarnya AirNav telah membangun beberapa tower baru yang mampu menahan gempa paling tidak dengan kekuatan 6—7 SR. Namun, melihat kejadian di Palu, kemampuan tower tahan gempa di daerah rawan rencananya akan ditingkatkan.

“Kita akan bekerja sama dengan BUMN untuk membuat kapasitas tower tahan gempa, beberapa tower baru kita sebenarnya sudah punya standar tinggi dengan mampu menahan gempa hingga 6 sampai 7 SR,” katanya, Senin (8/10).

Sementara itu, saat ini, Bandara Palu masih menggunakan mobile tower yang telah mampu meng-cover 98% lalu lintas penerbangan. Ke depannya, jika tower baru tersebut rampung, maka mobile tower akan dibongkar (demolish).

Adapun saat ini, dengan menggunkan mobile tower, tercatat lalu lintas penerbangan di Bandara Palu mencapai 150 flight per hari. Penerbangan tersebut mengangkut mulai dari bantuan hingga pengungsi yang ingin meninggalkan Palu.

Dia menyebut, mobile tower ini telah berfungsi sangat maksimal mengingat kemampuannya dalam mengaur lalu lintas penerbangan yang lebih tinggi dari kondisi normal. Dalam kondisi normal, rata-rata penerbangan di Bandara Palu hanya mencapai 30 sampai 40 flight per hari.

“Yang lebih penting dengan adanya mobile tower beroperasi di Palu lebih canggih tidak ada kekuranggan layanan terutama melayani pesawat bantuan besar bahkan pesawat jet reguler,” katanya.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya