Konferensi ICBE 2018: 22 Mitra Teken Deklarasi Manokwari

Oleh: Yanita Petriella 11 Oktober 2018 | 14:43 WIB
Konferensi ICBE 2018: 22 Mitra Teken Deklarasi Manokwari
Warga mengamati patung Yesus yang masih dalam tahap pembangunan di puncak Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat. Patung Yesus setinggi 30 meter tersebut dibangun atas inisiatif pemerintah RI melalui Kemendikbud dan Kemen PU sebagai tanda peringatan penyebaran peradaban, pendidikan, agama di Irian (Papua) yang dimulai pada 5 Februari 1855 oleh dua pendeta Kristen, Ottow dan Geisher./Antara

Bisnis.com, MANOKWARI - Sebanyak 22 mitra menandatangani deklarasi Manokwari yang merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani oleh kedua Provinsi pada saat pembukaan International Conference on Biodiversity, Ecotourism and Creative Economy (ICBE)

Deklarasi Manokwari memiliki visi bersama Tanah Papua yaitu Tanah Papua Damai, Berkelanjutan, Lestari dan Bermartabat yang berisi 14 item. Adapun 22 mitra ini antara lain akademisi, BUMN, dan aktivis lingkungan. Tentunya deklarasi ini juga ditandatangani oleh Gubernur Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua. Namun, sejak awal konferensi hingga penutupan tak ada kehadiran Gubernur Papua. 

Gubernur Provinsi Papua Barat Drs Dominggus Mandacan yang mengatakan konferensi ini akan menjadi sebuah awal dari pekerjaan yang besar di Tanah Papua.

“Seperti penyelesaian Perdasus (Peraturan Daerah Khusus) pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua Barat dan Perdasus pengakuan Hak Masyarakat Hukum Adat, penyelesaian revisi RTRW (Rancangan Tata Ruang dan Wilayah), penyelesaian revisi proses pemberian perizinan konversi lahan, dan kalau dianggap perlu menyusun Perdasus untuk pengaturan pemberian izin konversi lahan yang melibatkan masyarakat pemilik lahan,” ujarnya saat penutupan ICBE 2018, Rabu (10/10/2018) malam.

Deklarasi Manokwari merupakan dasar dan arahan utama dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Untuk itu dirinya meminta semua yang terlibat di dalam Konferensi ICBE untuk bekerjasama dalam pengimplementasian deklarasi.

“Kalau kami bekerjasama dengan baik, maka kami bisa kerjakan pekerjaan sesulit apapun,” ucapnya. 

Salah satu poin dalam kesimpulan tersebut ialah membentuk Museum Sejarah Alam dan kebun raya di Tanah Papua demi menunjang upaya konservasi dan penampungan koleksi, penelitian dan peningkatan pemahaman dan apresiasi tentang keanekaragaman hayati dan alam dan budaya Papua. 

Menurutnya, pendirian bangunan edukasi tersebut diyakini dapat menjadi salah satu instrumen pendukung niatan Pembangunan Berkelanjutan yang dikumandangkan kedua provinsi.

 Wakil Ketua Tim Kerja ICBE 2018 Keliopas Krey menambahkan museum dapat menjadi bank data dan sarana edukasi terhadap hasil penelitian di Tanah Papua sehingga tiap kebijakan dapat mengacu pada kajian-kajian ilmiah yang ada.

“Data-data yang selama ini sulit diakses dan tersebar di mana-mana itu bisa dihimpun di museum ini. Semua siswa dari TK sampai Perguruan Tinggi mereka bisa datang untuk akses informasi data-data koleksi spesimen dan budaya kita di museum ini,” ucapnya. 

Dengan adanya museum juga dapat memperkuat budaya meneliti di Tanah Papua. Dengan demikian, kekayaan Tanah Papua yang masih minim eksplorasi sebelumnya dapat terkuak dan dijadikan dalam satu wadah. Pembangunan museum juga penting, Papua sendiri mengandung 50% keanekaragaman hayati di Indonesia.

“Tapi kami harap ada juga regulasi yang akan mengatur pendanaan penelitian di Papua ini. Karena urusan penelitian ini kerap kesulitan dana juga,” terang Keliopas.

Kepala Bidang Zoologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hari Sutrisno mengatakan pihaknya mendorong diwujudkannya pembangunan museum di tanah Papua.  Menurutnya, penelitian yang cukup banyak di Tanah Papua dari kalangan akademisi lokal hingga peneliti asing dapat diakomodir di satu tempat.

"Penelitian di tanah Papua ini banyak dan bisa dijadikan ke dalam satu koleksi museum. Kami harapkan nanti mereka jadi satelitnya yang di Bogor, jadi mereka merupakan satu dengan kami tapi mereka adalah satelitnya,” ucapnya.

Dia menyarankan agar museum juga dibarengi dengan pembangunan Kebun Raya seperti yang terkandung dalam deklarasi. Hal itu demi mengincar banyaknya pengunjung.

“Itu yang terjadi di Bogor, semua pengunjung museum pasti juga adalah pengunjung kdbun raya, jadi mereka dapat dua benefit ketika datang berkunjung,” kata Hari. 

Editor: Wike Dita Herlinda

Berita Terkini Lainnya