KAWASAN INDUSTRI : Jawa Tengah Diminta Optimalkan Ruang Existing

Oleh: Lucky L. Leatemia 11 Oktober 2018 | 02:00 WIB
KAWASAN INDUSTRI : Jawa Tengah Diminta Optimalkan Ruang Existing
(ilustrasi)./ANTARA-Zabur Karuru

SEMARANG — Kalangan pengusaha meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah fokus memaksimalkan investasi di kawasan industri yang sudah ada sebelum mengincar kawasan lain.

Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Dedi Mulyadi Ali mengatakan investasi baru yang masuk ke Jateng belakangan ini kebanyakan berupa investasi jangka pendek. Oleh karena itu, cukup wajar bagi pemprov untuk memacu kawasan industri guna menarik investasi jangka panjang.

Namum, menurutnya, sebelum berpikir untuk membuka kawasan industri yang baru, Pemprov Jateng harus bisa memaksimalkan potensi kawasan industri yang sudah ada atau existing.

Dia mengungkapkan kawasan industri existing masih memiliki banyak ruang yang belum terpakai. “Kawasan existing saja belum penuh, sementara itu kalau mau buka yang baru perlu banyak persiapan yang memakan waktu lama,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (10/10).

Dedi menambahkan, masih banyak perbaikan yang bisa dilakukan dalam kawasan industri yang sudah ada. Hal tersebut diyakini bisa menarik investor masuk.

Menurut Dedi, selain infrastruktur dan fasilitas yang ada, faktor perizinan menjadi kunci bagi suatu kawasan industri agar dilirik investor.

“Yang sudah ada itu diberi daya tarik. Dari infrastruktur dan fasilitas jelas harus memadai. Selain itu, perizinan juga bisa dipermudah,” tuturnya.

Adapun Pemprov Jateng berupaya mengoptimalkan tujuh kawasan industri untuk menarik banyak investor. Ketujuh kawasan industri tersebut tersebar di beberapa daerah yakni Semarang, Demak, Kendal, dan Cilacap.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Prasetyo Aribowo mengatakan pemerintah saat ini sedang memacu investasi dengan menarik banyak investor untuk membuka usaha di Jawa Tengah.

“Tujuh kawasan industri besar terus kami pacu agar menarik banyak investor. Dengan banyaknya investor yang masuk diharapkan perekonomian di Jawa Tengah semakin meningkat,” kata Prasetyo.

Prasetyo menuturkan pihaknya telah menginstruksikan kepada tiap-tiap pemerintah daerah (pemda) di setiap kabupaten/kota yang ada di Jateng untuk menyediakan kawasan industri.

Dia berharap, semua kabupaten/kota di Jateng sanggup menyediakan kawasan industri untuk mendongkrak perekonomian daerah.

Di sisi lain, beberapa daerah khususnya di Jateng bagian selatan seperti Kebumen dan Cilacap sudah menyediakan lahan seluas 400 hektare untuk membuat kawasan industri baru. Hal ini dirasa cukup positif untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat.

“Kami telah menginstruksikan kepada setiap Pemda menyediakan lahan untuk industri. Dengan dibukanya kawasan industri baru maka ekonomi masyarakat akan terdongkrak,” ujarnya.

Dia menambahkan, di Kota Semarang saat ini, sedang dilakukan pengerjaan satu kawasan industri baru.

STRATEGI

DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah mulai fokus untuk mendorong investasi melalui pengembangan industri skala besar.

Prasetyo mengatakan, pihaknya saat ini sudah berada dalam tahap II dalam konteks perencanaan jangka panjang. Adapun sebagian proses dalam tahap II yang mencakup pengembangan infrastruktur dan energi sudah hampir diselesaikan.

“Sudah hampir selesai ini [tahap II]. Baik jalan, energi, maupun pelabuhan sudah jalan. Kita sedang menuju pengembangan industri skala besar yang nanti tentunya harus bisa mendorong integrasi dengan usaha kecil menengah di masyarakat,” ujarnya, Selasa (9/8).

Adapun terkait dengan upaya meningkatkan penanaman modal di Jateng, Prasetyo mengungkapkan masih 10 masalah yang harus dihadapi. Beberapa di antaranya merupakan masalah lama yang cukup sulit untuk diselesaikan.

Menurutnya, penguasaan potensi informasi secara mendetail masih lemah. Begitu pula dengan publikasi dan promosi yang dinilai belum optimal hingga saat ini.

Selain itu, masih banyak sengketa terkait perizinan dan lahan. Beberapa regulasi pun kerap berubah-ubah, sehingga menghambat penanaman modal di Jateng.

Prasetyo pun mengakui pemanfaatan teknologi informasi belum maksimal, sementara di sisi lain pengendalian dan pengawasan penanaman modal kian rumit karena jenis usaha yang cukup banyak.

“Untuk itu, sekarang kita mencoba mengatasi beberapa isu di antaranya adalah bagaimana meningkatkan promosi penanaman modal, mempercepat perizinan, dan mengawal investasi yang masuk,” tuturnya.

“Beberapa masalah sedang kami godok untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi, sehingga ke depannya pelayanan perizinan bisa lebih baik lagi,” katanya.

Lebih lanjut, DPMPTSP Jawa Tengah telah menerbitkan 7.516 sertifikat perizinan sampai akhir September 2018. Angka ini cukup banyak seiring dengan geliat ekonomi di Jawa Tengah yang terus mengalami tren positif.

Adapun, sampai kuartal ke II. Investasi di Jateng mencapai Rp27,6 triliun, capaian ini cukup berhasil karena target yang telah ditetapkan yakni Rp24 triliun. Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp20,44 triliun, maka realisasi pada paruh pertama tahun ini lebih tinggi 35%.

Sementara itu, pencapaian itu juga berarti bahwa realisasinya telah mencapai 59% dari target tahun ini senilai Rp47,15 triliun.

Prasetyo menuturkan sektor energi masih menjadi primadona industri di Jawa Tengah, sedangkan sektor tekstil dan bahan kimia juga memberikan andil cukup besar untuk industri baik yang berasal dari penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi menilai pelayanan yang diberikan DPMPTSP sejauh ini sudah cukup baik. Namun, dia juga mengakui masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi.

“Para pengusaha mengharapkan ada transparansi baik dari biaya maupun waktu untuk mengurus perizinan. Harus konkrit dan jangan terlalu rumit,” ujarnya.

Ekonom dari Universitas Diponegoro Akhmad Syakir Kurnia mengatakan kendati pemerintah provinsi akan fokus mendorong investasi industri skala besar, perhatian terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) jangan sampai ditinggalkan.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya