Kemenperin Teken Kerja Sama dengan Enterprise Singapore

Oleh: Wibi Pangestu Pratama 11 Oktober 2018 | 20:39 WIB
Kemenperin Teken Kerja Sama dengan Enterprise Singapore
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto secara simbolis menyerahkan kunci kepada Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis saat kickoff electrified vehicle comprehensive Study di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 4 Juli 2018. /Kemenperin

Bisnis.com, NUSA DUA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) jalin kerja sama strategis dengan Enterprise Singapore dalam Pertemuan International Monetary Fund-World Bank Group (IMF-WBG) di Nusa Dua, Bali pada Kamis (11/10).

Kerja sama dengan lembaga pengembangan usaha pemerintah Singapore tersebut bertujuan mendorong implementasi industri 4.0 di Indonesia.

Komitmen bilateral tersebut tertulis dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemenperin, Ngakan Timur Antara dengan CEO Enterprise Singapore, Png Cheong Boon.

Penandatanganan tersebut turut disaksikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wakil Perdana Menteri Singapura Teo Chee Hean beserta beberapa menteri kabinet kerja.

Nota kesemapahaman tersebut antara lain berisi penghubungan industri di Indonesia dengan penyedia teknologi di Singapura, eksplorasi inisiatif untuk mendorong adopsi solusi inovasi manufaktur antar industri, dan pengembangan kurikulum pelatihan industri.

Ngakan mejelaskan bahwa nota kesepahaman tersebut sejalan dengan penerapan Making Indonesia 4.0 yang digaungkan Kemenperin.

“Kerja sama itu termasuk di dalamnya fasilitasi pertukaran antarlembaga mengenai rancangan atau implementasi fasilitas inovasi manufaktur kepada industri Indonesia, dan pengembangan platform inovasi yang akan menjadi jembatan digital bagi produsen Indonesia dalam mengakses solusi industri 4.0,” ujar Ngakan dalam keterangan resmi, Kamis (11/10).

Ngakan optimistis nota kesepahaman yang sejalan dengan agenda pemerintah ini mampu mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil sebesar 1%-2% per tahun, yang mampu PDB per tahun tumbuh dari baseline 5% menjadi 6-7% selama 2018-2030.

Ia pun menilai rasio ekspor netto akan meningkat kembali 10% terhadap PDB.

Ngakan menambahkan adopsi teknologi dan inovasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas industri dalam negeri. Hal itu pun dapat memicu terbukanya 10 juta lapangan kerja baru pada 2030.

“Aspirasi besar yang ditetapkan, yakni menjadikan Indonesia masuk pada jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. Maka itu, kuncinya adalah menyiapkan kompetensi SDM dan infrastruktur digital," tambah Ngakan.

Editor: Maftuh Ihsan

Berita Terkini Lainnya