Industri Alat Tenaga Listrik Semakin Berkembang

Oleh: Annisa Sulistyo Rini 09 Oktober 2018 | 19:39 WIB
Industri Alat Tenaga Listrik Semakin Berkembang
Karyawan memeriksa kesiapan alat untuk pasokan listrik pergelaran Asian Games 2018 di gardu induk Area Pelaksana Pemeliharaan (APP) Cawang, Jakarta, Selasa (10/7/2018)./JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA--Industri mesin dan peralatan pendukung ketenagalistrikan di Indonesia dinilai semakin berkembang seiring dengan peningkatan permintaan di pasar domestik.

Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian, mengatakan perkembangan industri ini juga mendorong pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sehingga dapat mensubstitusi produk impor.

“Industri kita sudah mampu memproduksi mulai dari peralatan pembangkit listrik sampai transmisi dan distribusi listrik,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (9/10/2018).

Beberapa produk penunjang ketenagalistrikan yang telah berhasil dibuat oleh industri dalam negeri, di antaranya komponen utama pembangkit seperti gas insulated switchgear /GIS, boiler, generator, power transformator, pompa, balance of plant (BOP), tower transmisi, konduktor, trafo distribusi, dan panel listrik.

Saat ini, Airlangga menyebutkan, permintaan produk GIS untuk memenuhi kebutuhan transmisi tenaga listrik di Indonesia mencapai 150 set per tahun dengan nilai TKDN hingga 35%.

Salah satu perusahaan bidang teknologi elektrifikasi, robotik, otomatisasi industri dan jaringan listrik asal Swiss, PT ABB Sakti Industri, meresmikan pabrik panel listrik tegangan tinggi atau gas insulated switchgear (GIS) di Tangerang pada hari ini, Selasa (9/10/2018)

Fasilitas manufaktur baru yang menproduksi GIS tegangan tinggi ini merupakan yang keempat dibangun ABB Sakti Industri di Indonesia dalam waktu tiga tahun terakhir sebagai bagian investasi sebesar US%30 juta.

GIS merupakan sistem switchgear (pemutus arus on atau off) yang dikemas dalam tabung compact dengan menggunakan bahan bakar gas sebagai media isolasinya. Hal ini memungkinkan penggunaan aman di ruang tertutup maupun lingkungan terbuka. Selain itu, GIS memberikan perlindungan terhadap pemadaman listrik serta menjamin kestabilan pasokan listrik.

Mengenai pembangunan fasilitas baru ini, Airlangga menyatakan apresiasinya dan berharap agar ABB Sakti Industri dapat melakukan transfer teknologi supaya daya saing dan kemampuan industri dalam negeri dalam mendukung pembangunan pembangkit listrik lebih meningkat.

Apalagi, lanjutnya, pemerintah sedang menggenjot penggunaan produk dalam negeri di semua sektor pembangunan khususnya pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Hal ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

“Menurut aturan tersebut, penggunaan produk lokal menjadi salah satu poin utama di dalam pembangunan pembangkit tenaga listrik sebesar 35.000 MW dan jaringan transmisi 46.000 km,” jelas Airlangga.

Di sisi lain, Kemenperin juga telah menerbitkan regulasi pengoptimalan TKDN untuk pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 54 tahun 2012 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri Untuk Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

Airlangga menyakini dengan kebijakan penggunaan produk dalam negeri dan pesatnya pembangunan infrastruktur ketenagalisrtikan, akan membawa efek berganda yang luas terutama guna mendongkrak kinerja sektor industri nasional.

“Keberadaan listrik ibarat jantung bagi kehidupan sektor industri. Itu sebabnya, tidak berlebihan apabila investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia selalu menanyakan ketersediaan pasokan listrik,” paparnya.

Editor: Maftuh Ihsan

Berita Terkini Lainnya