PROYEK KOMERSIAL DI JAKARTA : Hotel Bintang 3 Mendominasi hingga 2020

Oleh: Maria Elena 08 Oktober 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — Colliers International Indonesia menyebutkan bahwa hingga 2020, pengembangan hotel di Jakarta akan banyak didominasi oleh hotel berbintang tiga.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan bahwa pasokan hotel di kawasan Jakarta sampai 2020 akan didominasi oleh hotel berbintang tiga dengan 43% dari pasokan kamar diperkirakan beroperasi pada 2019. Sebagian besar pasokan tersebut berasal dari proyek yang tertunda.

"Hal tersebut dikarenakan Jakarta adalah kota bisnis, bukan destinasi wisata. Bisa dilihat dari tingkat okupansi hotel ketika musim liburan pasti akan menurun," kata Ferry saat acara Colliers Press Luncheon Q3 2018, belum lama ini.

Oleh karena itu, menurutnya, pembangunan hotel berbintang tiga dinilai paling tepat khususnya dilihat dari sisi bujet bagi lembaga pemerintah dan pasar korporasi di Jakarta.

Ferry mencontohkan jika dilihat dari sisi pemerintah, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 45/PMK.05/2007 tentang Perjalanan Dinas Jabatan Dalam Negeri bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap disebutkan bahwa pegawai negeri diberi fasilitas hotel berbintang empat atau tiga, sedangkan hotel berbintang lima untuk direktur/deputi, menteri, dan jajaran menteri.

Colliers mencatat bahwa ada dua hotel baru berbintang tiga, yaitu Erian Hotel di kawasan Jakarta Pusat dan Best Western Senayan di Jakarta Selatan segera dibuka pada kuartal ketiga tahun ini dan akan menambah 208 pasok kamar di Jakarta.

Dengan penambahan tersebut, total jumlah kamar hotel berbintang di Jakarta menjadi 40.163 dikontribusi oleh 198 hotel.

Selain hotel berbintang tiga, Ferry menilai bahwa hotel berbintang empat juga cukup populer di kawasan Jakarta. Sejak 2016, pembangunan hotel di Jakarta sudah didominasi oleh hotel berbintang tiga dan empat.

Ferry menjelaskan bahwa lokasi pembangunan hotel di Jakarta selalu mengikuti lokasi perkantoran karena kebanyakan menara kantor, kantor pemerintahan, dan kedutaan berlokasi di kawasan pusat niaga (CBD), Jakarta selatan dan Jakarta Pusat sehingga pembangunan hotel banyak berlokasi di area tersebut.

Kedua wilayah tersebut, tuturnya, merupakan area yang paling menguntungkan untuk proyek pembangunan hotel karena pendapatan yang diperoleh cukup besar.

GANTI NAMA

Colliers juga mencatat bahwa pada kuartal ketiga 2018, hotel berbintang empat yang sudah beroperasi selama 14 tahun memutuskan untuk mengganti nama dan operator.

Contohnya, Arion Swiss-Bellhotel Kemang menjadi Park Regis Arion Kemang. PT Arion Paramita Group berkolaborasi dengan StayWell Holdings, salah satu grup manajemen hotel terbesar di Asia Pasifik.

Selain itu, Intercontinental akan kembali membuka hotel baru di area Pondok Indah yang merupakan area residensial.

Hal itu, kata Ferry, merupakan strategi mereka untuk menampung pasar dari kawasan sepanjang Jalan T.B. Simatupang.

"Hotel itu bisa menjadi pilihan bagi pebisnis agar dekat dengan area bisnis dan tetap dekat dengan kawasan hiburan," katanya.

Director of Marketing Archipelago Erika Anggreini mengatakan bahwa para pengembang masih tertarik membangun hotel bujet di Indonesia.

Brand hotel bujet pada umumnya lebih menarik dibandingkan dengan hotel melati atau hotel yang lebih murah daripada hotel bujet. Hotel bujet menawarkan beberapa hal yang tidak terdapat di hotel melati dan serapan hotel bujet lebih tinggi.

Erika mengatakan bahwa pengembangan proyek Archipelago selalu mengikuti tren konsumen, seperti dekat dengan ruang ritel yang sangat sempurna dengan lalu lintas padat.

Pengembangan properti yang berdekatan dengan Starbucks juga membantu Archipelago dalam branding dan peningkatan pemesanan.

"Saat ini kami memiliki beberapa proyek pembangunan hotel di Jakarta seperti Aston Kartika Grogol yang berbintang empat dan Aston Inn Kemayoran yang berbintang tiga," kata Erika, Jumat (5/10).

Dia menambahkan bahwa Aston Kartika Grogol Hotel & Convention Center dan Aston Inn Kemayoran masih dalam tahap pembangunan. Pembangunannya akan selesai pada akhir kuartal pertama atau awal kuartal kedua 2019.

Aston Inn Kemayoran diperkirakan berjumlah 142 kamar, sedangkan Aston Kartika Grogol Hotel & Convention Center memiliki jumlah kamar kurang lebih 189 unit.

Sementara itu, Director PT Ciputra Property Tbk. Artadinata Djangkar mengatakan bahwa secara industry, pada umumnya hotel berbintang tiga dan empat tingkat okupansinya lebih baik jika dibandingkan dengan hotel berbintang lima.

Meskipun tingkat okupansi hotel berbintang tiga dan empat lebih tinggi, lanjutnya, hotel berbintang lima lebih tepat dibangun jika ingin mengangkat citra sebuah superblok.

"Pasar untuk hotel bintang tiga dan empat memang lebih baik, hotel bintang lima lebih tepat untuk branding dan ke depannya kami berencana membangun hotel bintang lima," katanya, Jumat (5/10).

Artadinata mengatakan bahwa Grup Ciputra sedang berencana membangun 2 hotel berbintang lima dengan lokasi yang sudah dibidik saat ini adalah area Jakarta dan Bali. (B)

Editor: Zufrizal

Berita Terkini Lainnya