AKSI KORPORASI : BRI Tunda Rencana Akusisi Bank

Oleh: Muhammad Khadafi 08 Oktober 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menunda rencana akuisisi bank pada tahun ini. Usai Pemilihan Presiden 2019, bank milik negara ini akan melanjutkan rencana tersebut.

“Tahun depan masih melakukan kajian, lihat kondisi politik juga seperti apa,” kata Direktur Utama BRI Suprajarto kepada Bisnis di kantor pusat BRI, Jakarta, Jumat (5/10).

Suprajarto melanjutkan perseroan tidak mengunci target akuisisi berdasarkan kelompok usaha bank umum. Syarat utama adalah perusahaan yang akan dicaplok dalam kondisi sehat.

Selain itu, pada tahun depan BRI akan bergerak mengakuisisi bank lain melalui anak usaha. “Nanti misal di bawah BRI Agro atau bagaimana itu,” kata Suprajarto.

Pada awal tahun ini Suprajarto sempat menyampaikan rencana untuk mengakuisisi bank kecil dan perusahaan sekuritas.

Dua pekan lalu, BRI telah menggelontorkan Rp819 miliar untuk mengakuisisi dua anak usaha PT Danareksa (Persero). Kesepakatan tersebut dilatarbelakangi oleh strategi jangka panjang perseroan dalam membangun bisnis jasa keuangan dengan menyediakan layanan yang terintegrasi.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menjelaskan jual beli saham bersyarat itu meliputi 67% saham PT Danareksa Sekuritas senilai Rp447 miliar dan 35% saham PT Danareksa Investment Management seharga Rp372 miliar.

"Transaksi jual beli saham antara BRI dan Danareksa ini akan efektif setelah memenuhi persyaratan regulasi Otoritas Jasa Keuangan," kata Haru.

Haru menjelaskan pertumbuhan bisnis perusahaan efek dan perusahaan investasi diperkirakan akan cukup menjanjikan seiring dengan naiknya kesadaran masyarakat akan produk keuangan.

Hal ini terutama akan terasa pada kelas menengah, dan meningkatnya kebutuhan segmen wholesale terhadap produk pasar modal.

Haru sempat mengatakan bahwa BRI menyiapkan Rp9 triliun untuk mendukung rencana ekspansi bisnis secara anorganik sepanjang 2018. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan anak usaha dan akuisisi.

Pada tahun lalu, BRI merogoh dana investasi sebesar Rp71,21 miliar untuk membeli 35% saham perusahaan modal ventura, PT Bahan Artha Ventura. Aksi korporasi ini diperlukan untuk melebarkan penyaluran pendanaan perseroan.

Dikonfirmasi terpisah, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David E. Sumual mengatakan bahwa bank besar diharapkan menjadi penggerak konsolidasi perbankan di dalam negeri. Hal ini diperlukan karena jumlah perbankan di Indonesia terlalu banyak.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK), ada 115 bank di Tanah Air per Juli 2018. Menurut David, sebagian besar beroperasi dengan modal yang cenderung kecil. “Idealnya itu sekitar 50 bank,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa perbankan adalah industri yang padat modal. Ekspansi segmen penyaluran pendanaan memerlukan dukungan modal besar. (Muhammad Khadafi)

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkini Lainnya