Adira Finance Jatim Kejar Pembiayaan Rp4 Triliun Tahun Ini

Oleh: Choirul Anam 04 Oktober 2018 | 18:47 WIB
Adira Finance Jatim Kejar Pembiayaan Rp4 Triliun Tahun Ini
Kepala Wilayah Adira Finance Area Jawa Timur Sugeng Hariadi (tengah) di Malang, Kamis (4/10/2018)/Bisnis-Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG—PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance Jatim mengejar pembiayaan dapat menembus Rp4 triliun lebih sampai akhir 2018.

Kepala Wilayah Adira Finance Area Jawa Timur Sugeng Hariadi mengatakan sampai September 2018, realisasi pembiayaan di Jatim mencapai Rp3,5 triliun atau 95% dari target periode tersebut.

“Dengan realisasi pembiayaan sebesar itu, berarti tumbuh sebesar 9% bila dibandingkan posisi akhir 2017,” katanya di Malang, Kamis (4/10/2018).

Jika target pembiayaan sebesar Rp4 triliun lebih bisa tercapai, kata dia, maka berarti ada pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 11%.

Dia optimistis, target tersebut dapat tercapai dengan pertimbangan penjualan kendaraan bermotor biasa gencar pada semester II.

Hal itu ditandai agen tunggal pemegang merek (ATPM) biasanya menggencarkn penjualan mobil maupun motor di periode tersebut. Kebijakan itu ditempuh karena ATPM pada awal tahun akan mengeluarkan produk-produk baru sehingga menghabiskan stok lama lewat program-program penjualan.

Dengan tingginya penjualan mobil di ATPM otomatis berimbas pada perusahaan pembiayaan. Permintaan pembiayaan untuk kendaraan bermotor akan meningkat tajam.

Biasanya pula, perusahaan pembiayaan akan melakukan program-program penjualan menjelang akhir tahun sehingga menyambung dengan program dari ATPM.

Alokasi pembiayaan Adira Jatim, banyak didominasi pada motor baru dengan proporsi 36%, mobil baru (26%), mobil bekas (18%), motor bekas (13%), dan barang elektronik (7%).

Dengan pertumbuhan pembiayaan sampai September 2018 sebesar 9%, kata dia, memang tidak terlalu tinggi. Namun kondisi pasar kendaraan bermotor di Jatim, memang sedang lesu.

Namun bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kata dia, realisasi pembiayaan sebesar itu masih lebih bagus. Realisasinya lebih tinggi.

Dia mengingatkan pula, agar pemohon pembiayaan pada lembaga jasa keuangan, termasuk perusahaan pembiayaan, agar tidak main-main. Jika mereka melakukan moral hazard terkait data, maka dipastikan akan diketahui yang dampaknya bisa buruk bagi mereka.

Dengan diterapkan identitas tunggal, maka data lengkap sudah masuk dalam sistem. Dengan memasukkan KTP, maka  data mengenai pemohon pembiayaan akan diketahui.

“Jadi percuma berbohong. Pasti akan ketahuan dan dampaknya akan merugikan pemohon sendiri,” ujarnya.

Lewat penggunaan big data, kata dia, maka memudahkan perusahaan dalam menyalurkan pembiayaan. Jika ada kredit di lembaga jasa keuangan lain, maka pasti akan diketahui oleh sistem.

“Ini sangat membantu. Terutama saat akan memutuskan akan melakukan pembiayaan pada mobil, maka dengan penggunaan big data, dapat meminimalisasi kerugian berupa pembiayaan yang macet karena ketidaklengkapan data pemohon yang ternyata melakukan praktik moral hazard,” ucapnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya