Jumlah Kamar Terlalu Banyak, Bagaimana Prospek Bisnis Hotel di Indonesia

Oleh: Yanita Petriella 04 Oktober 2018 | 14:17 WIB
Jumlah Kamar Terlalu Banyak, Bagaimana Prospek Bisnis Hotel di Indonesia
Instalasi bambu jelang HUT ke-73 RI dan Asian Games 2018 di Bundaran Hotel Indonesia, Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Pusat./Facebook@aniesbaswedan

Bisnis.com, JAKARTA — Pebisnis memperkirakan tingkat okupansi hotel secara nasional sepanjang 2018 hanya 60%—65%, kendati jumlah kamar di Tanah Air berlebih.

Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B. Sukamdani memproyeksikan, pertumbuhan jumlah kamar hotel sepanjang tahun ini hanya sekitar 5%, melambat dari tahun lalu yang mencapai sekitar 7%—8%.

Perlambatan itu dipicu oleh menjamurnya hotel-hotel di kota besar. Padahal, untuk membangun sebuah hotel dibutuhkan biaya yang tak sedikit. “Ini memang diperlukan moratorium penambahan kamar untuk di kota-kota besar,” tuturnya kepada Bisnis.com, Rabu (3/10/2018).

Menurut data PHRI, ketersediaan kamar hotel di Indonesia sudah berlebih, yakni mencapai 600.000 kamar. Jumlah itu melebihi ketersediaan kamar di Thailand yang mencapai 300.000 unit dan Malaysia yang mencapai 320.000 unit.

Padahal, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Thailand dan Malaysia setiap tahunnya melebihi Indonesia, yaitu masing-masing  29 juta wisman dan 25 juta wisman.

“Jumlah kamar 600.000 ini hanya hotel berbintang. Memang kamar terbanyak berada di Jawa dan Bali yakni sekitar 227.100 kamar. Di Jakarta sendiri ada 56.100 kamar dan di Sumatra ada 37.200 kamar,” tutur Hariyadi.

Wakil Ketua PHRI Alan Maulana Yusran menambahkan, tingkat okupansi hotel tidak dipengaruhi oleh kunjungan wisatawan, tetapi oleh penyelenggaraan event pebisnis maupun pemerintah.

“Sebagian besar tingkat keterisian kamar dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki urusan pekerjaan/bisnis, bukan untuk berjalan-jalan. Kami perkirakan, tingkat okupansi hotel sepanjang tahun ini hanya 65% saja,” ujarnya.

Tak dipungkiri, perhelatan Asian Games, Asian Paragames, dan pertemuan tahunan IMF/World Bank sangat memengaruhi bisnis hotel tahun ini. Namun, kata Alan, dampak positif itu hanya dirasakan oleh hotel-hotel di Jakarta, Bandung, Sumatra Selatan, dan Bali.

“Acara yang diselenggarakan ini tak dapat mendongkrak okupansi hotel secara signifikan di tingkat nasional,” katanya.

Selain itu, sebutnya, tidak optimalnya okupansi hotel pada tahun ini dipicu oleh perubahan pola konsumsi masyarakat ketika melakukan perjalanan wisata. Konsumen lebih memilih penginapan murah seperti Airbnb dan homestay ketimbang hotel berbintang.

Sayangnya, hingga saat ini, data jumlah penyewa kamar Airbnb maupun homestay belum dapat diketahui secara pasti. Pasalnya, mereka tidak memiliki Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP).

Alan meyakini apabila pemerintah secara tegas melakukan deregulasi untuk mengatur operasional Airbnb dan homestay, okupansi kamar secara nasional bisa meningkat ke level 90% per tahun.

Saat dihubungi terpisah, Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari menuturkan, prospek bisnis perhotelan di Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir akibat maraknya bisnis Airbnb dan homestay.

“Mereka [wisatawan] ini memilih menginap di homestay dan Airbnb karena selain murah, mereka bisa merasakan bagaimana tinggal di daerah karena berbaur dengan penduduk lokal,” ujarnya. 

SOKONGAN BALI

Dari perspektif lain, kinerja bisnis perhotelan bisa saja kembali membaik pada kuartal IV/2018 dengan ditopang oleh perhelatan rapat tahunan IMF/World Bank di Bali pada Oktober. Pasalnya, pergelaran tersebut dapat menggairahkan kompetisi bisnis hotel di Pulau Dewata.

“Hotel menjaga harga supaya tidak kehilangan tamu, maka average daily rate [ADR] menurun tiap tahun,” jelas Senior Research Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto.

Bagaimanapun, dia memperingatkan, okupansi hotel di destinasi favorit seperti Bali tetap berpotensi menurun pada Oktober—November seiring dengan berakhirnya libur musim panas. Dengan demikian, pebisnis akan kembali bertumpu pada peluang saat Natal dan Tahun Baru.

Associate Director Investment Service Colliers International Indonesia Aldi Garibaldi menambahkan, hingga Desember tahun ini, rerata okupansi hotel bisa di atas 85%.

“Apalagi, ada beberapa delegasi IMF/World Bank yang mengubah utilisasi hotel di Bali menjadi kantor,” ucapnya.

Dari sisi pelaku usaha, Director Business Development and Sales Marketing Sahid Hotel & Resort Vivi Herlambang mengatakan, okupansi Grup Sahid Hotel hingga September mencapai 65% atau naik 30% secara year on year.

Dia memproyeksikan okupansi hotel Grup Sahid hingga akhir tahun ini mencapai 70% untuk yang berada di daerah wisata, 70% untuk di daerah luar Jakarta, serta 50% untuk di wilayah Jakarta.

“Tahun depan kami perkirakan juga tumbuh sebesar 15%—20% karena ada tambahan hotel baru, yakni enam hingga tahun depan, dua pada tahun ini dan sisanya empat di tahun depan. Enam hotel itu ada di Bangka, Gili Terawangan,  Soreang Bandung, Kupang, Bogor dan Serpong.”

Perkembangan Okupansi Hotel Bintang di Tanah Air (%)

--------------------------------------------------------------

Periode           2014    2015    2016    2017    2018

--------------------------------------------------------------

Januari             46,98   47,08   49,33   50,66   51,91

Februari           48,81   47,59   52,15   52,57   56,21

Maret               51,29   49,13   52,88   54,70   57,10

April                51,33   51,28   54,38   55,14   57,43

Mei                  52,72   53,72   55,46   56,07   53,86

Juni                  55,40   54,14   48,63   51,02   52,04

Juli                   49,09   51,25   53,77   57,52   59,30

Agustus           52,02   55,61   55,21   58,00   60,01

--------------------------------------------------------------

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2018

Editor: Wike Dita Herlinda

Berita Terkini Lainnya