Kampung Langenastran Gelar Lagi 'Batik & Batok Night'

Oleh: Stefanus Arief Setiaji 03 Oktober 2018 | 22:55 WIB
Kampung Langenastran Gelar Lagi 'Batik & Batok Night'
Sesepuh Kampung Langenastran Radya Wisraya Sumartoyo (kiri) menyerahkan buku Sejarah Asal-usul Kampung Langenastran & Langenarjan Jogyakarta kepada Marsda TNI Yoyok Yekti Setiyono saat melakukan kunjungan ke kampun itu./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Kampung Wisata Budaya Yogyakarta, Langenastran, menggelar “Batik & Batok Night #2” yang akan berlangsung pada 6—7 Oktober 2018. Perhelatan wisata itu merupakan yang kedua setelah dimulai pada 2016.

Pertama kali “Batik & Batok Night” (BBN) diadakan pada Oktober 2016 yang didatangi begitu banyak pengunjungu. Kegiatan itu merupakan salah satu dari berbagai macam kegiatan budaya yang dipersembahkan oleh Kampung Langenastran, yang dulunya  merupakan kompleks “Paspamres” Sri Sultan Hamengkubuwono II.

“Kegiatan ini meliputi budaya berupa Lomba Membuat Batik Shibori-Jumputan, Pameran Batik Kraton dan warga, bazar, kuliner, batik & kerajinan, Bergada Prajuirt Langenastro serta Festival Keroncong.  Bahkan kali ini, untuk Lomba Membuat Batik Shibori – Jumputan, akan diperebutkan Trophy dari GKBRAA Paku Alam X dan Ketua TP PKK Kota Yogyakarta, Anna Haryadi, “ ujar Radya Wisraya Sumartoyo, sesepuh Kampung Langenastran.

Shibori adalah sebuah kesenian di Jepang dalam hal pewarnaan kain. Teknik pewarnaan dilakukan dengan mencelupkan kain pada zat pewarna alami dan memberikan ‘perlindungan’ pada bagian kain tertentu yang tidak ingin diwarnai.

Pada teknik shibori, perlindungan pada bagian kain tertentu dilakukan dengan melilit, melipat, atau mengikatnya dengan benang. Jadi ketika dicelupkan pada cairan pewarna, bagian yang terlindungi tidak ikut terwarnai. Ketika pelindung dilepas dan kain dibentangkan, akan tercipta motif-motif indah yang menarik dengan kesan etnik.

“Kita mengenal shibori dengan teknik jumputan. Belum lama ini di Jogya diselenggarakan kursus shibori yang dimaksud untuk menambah wawasan teknik pewarnaan untuk  meningkatkan nilai jual batik.  Lomba shibori-jumputan ini akan berlangsung selama 5 jam dan seluruh peserta harus menggunaan teknik remasol dalam pewarnaan,” uangkapnya.

Sementara itu, Humas Kampung Wisaya Budaya Langenastran, Y. Sri Susilo menjelaskan bahwa, kegiatan festival budaya merupakan konsekuensi dari Langenastran yang mengukuhkan diri sebagai Kampung Wisata Budaya Yogyakarta pada 3 September 2016.

Kegiatan dan budaya tradisional yang dipersembahkan Langenastran antara lain, Lomba Jemparingan (Panahan), Ruwah Gumregah yakni tradisi  membuat apem menjelang bulan puasa (Ramadhan), Macapatan dll.

“Karena ini merupakan kerja budaya swadaya masyarakat Langenastran, sejak September 2016 kami membuat kalender wisata. Sebagai kampung yang sebagian dipenuhi outlet Batik milik warga dan sekaligus merupakan wilayah yang tak terpisahkan dengan Alun-Alun Selatan, kegiatan budaya tradisional akan terus digalakkan. Kami memiliki target, setiap bulan sekali ada event budaya di kampung ini,” ungkap Sri Susilo.

Langenastran Sebagai Kampung Wisata Budaya Yogyakarta digagas para pengamat wisata dan budaya, tokoh masyarakat kampung Langenastran termasuk di dalamnya Suharyanto, Y Sri Susilo, Hermunanto, Much Dwi Pramono , AM Putut Prabantoro Kamashakti Wondo Amiseno, Radya Wisroyo Sumartoyo, Febrian Wisnu Adi, Noor Harsya Aryosamodro, dan Rianto Hernadi.

Editor: Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkini Lainnya