Industri Perunggasan Didorong ke Luar Jawa

Oleh: Pandu Gumilar 01 Oktober 2018 | 17:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian meminta supaya industri pakan ternak mau mendekati sentra-sentra produksi jagung di luar Jawa supaya bisa mendapatkan harga yang kompetitif langsung dari tangan pertama.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Gatot Irianto mengatakan sudah waktunya industri peternakan dan pakan ternak bergeser mendekati sentra produksi.

Hal ini tidak lain agar industri tersebut mendapatkan harga langsung di rantai pertama bukan setelah masuk ke pasar bebas yang sudah melewati beberapa rantai. Otomatis terdapat penambahan nilai di sisi harga.

"Kami ingin bahwa investasi bergerak ke wilayah yang stabil usahanya. Kalau hanya terfokus disini pembangunan tidak merata.  Kami berharap, sambil mereka melakukan relokasi usaha, [regulator] melakukan perbaikan infrastruktur agar pengangkutan lebih efisien," katanya Senin (1/10).

Gatot mengatakan dengan pembangunan industri yang merata maka keadilan sosial pada sektor ekonomi bisa terealisasi. Dia mengindikasikan terjadi ketimpangan dalam hal produksi dimana petani di Jawa lebih memilih menanam jagung karena harga yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan menanam padi.

Kanibalisme lahan terjadi karena permintaan jagung di Jawa lebih tinggi untuk dijadikan bahan pakan ternak. "Saat kemarau semua tanam jagung, jagung, dan jagung. Padahal harus diatur tidak bisa dibiarkan atau bisa autopilot [negara ini]. Kami mau bergerak supaya pemerataan pembangunan," katanya.

Menurutnya daripada produsen pakan ternak atau peternak mengeluh perihal harga jagung yang mahal di Jawa akan lebih baik mereka membuka pasar di luar Jawa. Gatot mengatakan sentra produksi jagung tidak terkonsentrasi di Jawa.

Misalnya, di Sulawesi Utara yang menjadi sentra produksi baru jagung dapat menjadi solusi untuk mendapatkan sumber bahan pakan yang lebih murah.

Hanya saja diakui olehnya, infrastruktur logistik disana tidak terlalu baik maka hasil produksi didorong untuk ekspor. Maka itu daerah remote perlu dorongan pembangunan infrastruktur, salah satunya dengan membangun industri.

"Kami juga paham [keinginan] peternak layer dan asosiasi, kami juga fasilitasi untuk datang ke Maluku agar mereka beli ke sana dengan harga murah. Mereka biasa beli di depan pintu, dan saat beli di beda pulau butuh nyali," katanya.

Menurutnya selain menggenjot produksi atau ketersediaan secara linear, keterjangkauan antara industri dengan produsen pun harus diperhatikan untuk mendapatkan harga yang kompetitif.

Ditjen Tanaman Pangan mencatat puncak produksi jagung pada tahun ini pada Februari 2018 sebesae 4,29 juta ton dengan luas panen 859.000 hektar. Sementara produksi terendah diperkirakan pada November 2018 sebesar 1,52 juta ton dengan luas panen 247.306 hektar.

Selain itu regulator juga sudah mendistribusikan benih jagung untuk lahan seluas 2,8 juta hektar dan sarana pascapanen kurang lebih 52.324 unit berupa combine harvester, dryer, corn sheller dan corn combine harvester untuk meningkatkan kualitas dan menekan biaya produksi.

Namun rata-rata perkembangan harga jagung pipilan kering di tingkat petani sejak Januari sampai September 2108 cenderung meningkat. Harga tertinggi terjadi pada September yakni sebesar Rp4.144 per kg.

Sementara itu Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak Sudirman mengatakan tanpa diminta pun sebenarnya industri pakan sudah menyebar ke daerah-daerah di luar Jawa. Misalnya di Sulawesi Selatan, Banjarmasin, Medan, Lampung dan Padang.

"Di Jawa pun sudah tidak terkonsentrasi di Banten dan Jawa Timur saja kok. Sekarang sudah berkembang di daerah baru seperti Cirebon, Batang dan Grobogan," katanya pada Senin (1/10).

Sudirman mengatakan daerah-daerah yang sudah dia sebutkan merupakan sentra produksi jagung. Adapun di daerah tersebut mulai dibangun peternakan juga.

Tapi Sudirman menjelaskan bahwa terdapat dua pertimbangan utama untuk membangun industri pakan ternak dan peternakan di suatu wilayah.

Pertama, harus dekat dengan sumber bahan baku, bukan jagung saja karena jagung paling hanya memenuhi 50% kebutuhan komponen produksi. Selain itu, ada bahan baku yang harus diimpor jadi industri harus dekat dengan pelabuhan dan ada akses infrastrukturnya.

Kedua, harus dekat dengan konsumen. Jadi pabrik pakan ada kalau ada konsumen dan ada pelabuhan. Misalnya seperti di Lampung dan Medan alasan adanya pabrik pakan karena disana ada jagung dan ada pelabuhan.

Meskipun pertumbuhan kebutuhan pakan ternak masih lebih tinggi daripada produksi jagung.

"Bila di suatu lokasi ada peternakan maka di situ ada industri pakan ternak. Tapi biasanya peternakan ayam tumbuh baik kalau di situ ada produksi jagung. Namun yang perlu digaris bawahi pertumbuhan peternakannya lebih cepat daripada pertumbuhan jagungnya," katanya.

Menurutnya, setidaknya pada satu daerah itu penduuknya minimal 2-3 juta orang sehingga industri peternakan dan pakan bisa tumbuh baik.

Di sisi lain, Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Singgih Januratmoko mengatakan membangun peternakan di sentra produksi mungkin saja tapi perlu dipertimbangkan juga soal serapannya.

"Membangun di Kolaka, Sulawesi Tenggara mungkin saja, tapi pasarnya kecil. Kalau tidak ada serapan mau jual kemana? Kami buat peternakan agar harga tidak jatuh ya harus perhitungkan serapan juga," katanya.

 Singgih mengatakan menciptakan pasar mungkin saja tapi memerlukan biaya produksi tinggi terutama untuk operasional peternakan. Sementara pasar Jabodetabek sudah aman karena pasar membutuhkan ayam per hari sekitar 2-3 juta ekor. 

 "Kebutuhan ayam dan telur Jawa itu serap 60% produksi nasional. Tidak mungkin relokasi," pungkasnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya