Pengembang Baru Tak Perlu Takut Modal Besar

Oleh: Anitana Widya Puspa 30 September 2018 | 00:05 WIB
Pengembang Baru Tak Perlu Takut Modal Besar
Perumahan sederhana di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat./Antara-Raisan Al-Farisi

Bisnis.com, JAKARTA - Harmoni Land yang dikomandoi oleh pemuda berperawakan sedang berusia 25 tahun, Fithor Muhammad, memilih menggarap proyek rumah tapak di kisaran Rp300 juta—Rp800 juta. Lokasinya ada di Bogor ataupun Depok.

Fithor mengatakan dengan cara yang tepat, menjadi seorang pengembang tidak memerlukan modal yang terlampau besar. Cara ini ditempuh Harmoni land dengan lebih banyak melakukan sinergi baik pemilik lahan ataupun pemilik modal.

“Bagi yang punya tanah nggak punya tanah kita modalin kita kelola bangun perumahannya. Kalau uang punya uang bingung taruh dimana, kami kembangkan. Kalau uang kita sendiri lama, satu proyek selesai baru bisa beli proyek lainnya,”katanya kepada Bisnis Sabtu (29/9/2018).

Apalagi, sebagai bisnis yang modalnya berbasis aset, seperti properti resikonya lebih rendah. Dia mencontohkan saat memulai bisnis properti modal yang dikeluarkannya Rp1,3 miliar namun bisa menghasilkan omset 7,5 miliar belum lagi dengan leverage kenaikan aset.

Proyek perdananya di Citayam diuncurkan sebanyak 22 unit dangan harga jual mulai dari Rp200 juta. Selanjutnya perusahaan membidik pada proyek-proyek baru di kisaran Rp400 juta dengan sasaran dekat kereta api. Alasannya para pekerja yang menggunakan KRL memiki rentang gaji Rp4 juta—Rp10 juta.

Sejak menjadi developer pada 2015, CEO Harmoni land itu mengatakan setidaknya telah ada 12 proyek yang diluncurkannya. Perusahaan lebih berfokus pada proyek yang berkelanjutan dan penyerapannya cepat kendati marginnya masih kecil.

Sebagai pemain baru yang tak terlalu kuat secara modal internal, kata dia, membangun rumah tapak akanmenjadi alternatif ketimbang hunina vertikal.

Fithor menuturkan perizinan apartemen prosenya lebih panjang dan biaya seperti konsultan izin saja menelan Rp5 miliar. Meskipun lahan yang diperlukan lebih luas, namun harga lahan juga maish terjangkau di kawasan pinggiran. Beda halnya dengan pengembang baru yang memiliki modal kuat, memang akan mmebangun apartemen, sebab lahan kecil di pusat kota harganya saja sudah mahal.

Sementara, untuk pasar rumah subsidi, kendati prospeknya lebih baik, akan tetapi dia masih kesulitan mencari lahan yang tepat, karena patokan harga setidaknya minimum Rp140 juta, sehingga harga tanahnya minimum Rp150.000 per meter persegi ke bawah.

Adapun dengan mengikuti pameran, kata dia, dari sisi biaya memang jauh lebih mahal, tapi kepastian calon konsumennya lebih baik dengan gimmick yang ditawarkan adalah kemudahan DP dan cicilan DP.

Tetapi, lanjut dia, di luar pameran ini, perusahaan juga melakukan pendekatan langsung ke sejumlah instansi, sehingga memiliki database karyawan. Target penjualan yang dipatok lazimnya secara stabil sekitar 100 unit baik melalui pameran ataupun di luar pameran.

“Bagusnya kalau lewat pameran ini pasti yang memang lagi cari rumah, kalau di instansi belum tentu lagi cari rumah. Presentasenya kemungkinan dari 100, 10%-nya terjual. Kalau di instansi mungkin hanya 2%,”ujarnya.

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya