INSPIRASI Qomar Sukses Budi Daya Melon Meski Hadapi Keterbatasan

Oleh: Newswire 28 September 2018 | 11:19 WIB
INSPIRASI Qomar Sukses Budi Daya Melon Meski Hadapi Keterbatasan
Qomaruzzaman, difabel yang menginspirasi kegigihan mengembangkan melon./Twitter

Bisnis.com, LAMONGAN – Senyumnya yang lepas meski terik matahari sangat menyengat pada siang itu tidak membuat Qomaruzzaman atau yang akrab disapa Qomar lelah melayani wawancara para juru warta.

Qomar menjadi perhatian karena semangatnya yang luar biasa dalam budi daya melon di Desa Sendangharjo, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Kawasan itu sebelumnya dikenal kering dan gersang, namun pemuda kelahiran tahun 1987 itu menyulapnya, dan mampu membuat lahan kering tersebut menjadi produktif yang bermanfaat bagi penduduk setempat.

Hal lain yang membuatnya menjadi perhatian, yakni ketika bekerja dan bercocok tanam Qomar tidaklah seperti umumnya petani, maklum dia dilahirkan tanpa memiliki dua tangan.

Sehingga aktivitas sehari-harinya hanya menggunakan kedua kakinya, namun demikian hal itu tidak menyurutkan semangatnya melakukan hal terbaik, termasuk bagi lingkungannya, Sendangharjo.

"Dalam bekerja sehari-hari saya menggunakan kedua kaki," kata Qomar yang bicaranya sangat lancar dalam menjelaskan pola menanam dan mengusir hama melon.

Apa yang dilakukan dan dikerjakan Qomar membuat Menteri BUMN Rini Soemarno kagum. Rini bahkan mengaku kedatangannya ke Lamongan sengaja ingin membuktikan langsung hasil panen melon kerja keras Qomar dan kawan-kawannya.

"Saya senang melihat keberhasilan petani di Sendangharjo. Ini seperti harapan Bapak Presiden (Joko Widodo), agar petani bisa menjadi lebih baik," kata Rini.

Qomar mengelola tanah seluas 5.000 meter persegi (m2), dan memiliki 5.000 batang tanaman melon yang menghasilkan rata-rata sebanyak 6-8 ton per panen dengan harga jual sekitar Rp8.500 per kilogram (kg), sehingga hasil yang diperoleh kisaran Rp51-Rp68 juta sekali panen.

Langkah Awal

Meski memiliki keterbatasan, perjuangan Qomar di bidang pertanian tidak perlu diragukan, dirinya sempat menekuni peternakan bebek selama setahun lebih, namun hasilnya kurang menguntungkan, bahkan merugi.

Kemudian, beralih ke budi daya melon dan kini sudah berjalan sekitar 5 tahun lebih hingga mampu ekspor ke Singapura sebanyak enam kali.

"Awalnya saya melihat teman-teman melakukan budi daya melon, dan saya mengikutinya. Namun pada saat pertama tanam gagal, tapi saya coba untuk kedua kalinya," ujar pria yang mengaku lupa bulan kelahiarannya tersebut.

Pada tanam kedua, Qomar mengaku berhasil panen namun tidak terlalu banyak, sehingga dia mencobanya kembali tanam ketiga. Dan ternyata gagal seperti pada tanam pertama.

Kegagalan demi kegagalan tidak lantas membuatnya patah arang, mengacu pada kesuksesan tanam kedua yang cukup berhasil meski tidak terlalu banyak, Qomar mencobanya kembali tanam keempat.

Alhasil, pada tanam keempat dan kelima hingga seterusnya, upaya dan kesabarannya membuahkan hasil, dan mampu panen beberapa kali, bahkan tidak tangung-tangung panen dilakukan bersama Menteri BUMN Rini Soemarno.

"Saya kagum dengan upaya Mas Qomar, dan menyempatkan hadir pada saat panen melon bersama masyarakat Desa Sendangharjo," kata Rini, dalam sambutannya.

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gempita, Ghufron Ahmad Yani yang selama ini mendampingi Qomar mengaku sempat menangis melihat upaya pemuda desa yang gigih berjuang di bidang pertanian, apalagi pemuda itu memiliki keterbatasan fisik.

Ghufron mengatakan lembaganya yang merupakan bentukan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sengaja ditugaskan mencari pemuda di Indonesia yang gigih berjuang di bidang pertanian.

"Dan saat saya melihat pertama kali Mas Qomar di Desa Sendangharjo sempat menangis, sebab perjuangannya di bidang pertanian cukup kuat. Kami lantas bersama tim membimbing sejumlah pemuda desa Sendangharjo," katanya.

Ia mengatakan, pengembangan Melon di Lamongan dilakukan tidak hanya mengandalkan pupuk kimia, melainkan dengan cara terpadu melalui "Green House" yang fungsinya mengurangi serangan hama pada melon.

Sebab, jika satu tanaman melon terserang hama, maka seluruh tanaman tidak akan bisa panen atau menghasilkan. Oleh karena itu dibutuhkan cara terpadu, salah satunya melalui Green House.

"Kami terus mendorong petani dalam pengembangan buah melon di sini, dengan analisa di lapangan kendalanya apa dan solusinya apa, sehingga petani mempunyai etos kerja yang bagus," katanya.

Ia berharap, dengan keberhasilan Qomar dan para petani di Desa Sendangharjo dalam memanen buah melon, ke depan akan diupayakan membuat Green House di seluruh wilayah Sendangharjo.

Dorongan BUMN

Direktur Utama Bank BRI Suprajarto mengaku siap mendorong upaya petani di Kabupaten Lamongan untuk terus mengembangkan tanaman melon melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Ia mengatakan, pinjaman dana dari BRI kepada petani melon Lamongan merupakan salah satu dorongan BUMN untuk pengembangan pertanian.

Dari total penyaluran KUR di Jawa Timur, khusus untuk sektor pertanian penyalurannya mencapai Rp2,43 triliun, sebesar Rp100,59 miliar disalurkan ke Kabupaten Lamongan.

"Melalui pinjaman KUR BRI yang telah diberikan, diharapkan dapat meningkatkan skala usaha sehingga produktivitas meningkat, dan memberikan multiplier effect atau manfaat ganda untuk petani melon di Lamongan," kata Suprajarto, usai kegiatan seremoni panen melon bersama Menteri BUMN Rini Soemarno dan Direktur Mikro & Kecil Bank BRI Priyastomo.

Dalam kesempatan panen bersama Menteri BUMN Rini Soemarno itu, Suprajarto juga menyerahkan secara sombolis KUR BRI dengan total sebesar Rp300 juta yang diberikan kepada empat nasabah.

Terdiri dari dua nasabah penerima KUR Ritel masing-masing sebesar Rp150 juta dan Rp110 juta, dan dua nasabah lainnya untuk penerima KUR Mikro sebesar Rp25 juta dan Rp15 juta.

Adapun bantuan tanggungjawab perusahaan yang diberikan oleh BRI ke petani Lamongan meliputi, 1 unit Cultivator Rotating (mesin pengolah tanah) untuk petani Qomar, dan 1 Hand Cultivator untuk Kelompok Tani Barokah, serta tiga Green House untuk masing-masing kelompok tani yakni kelompok takni Mulya Makmur, Sri Sadono, dan kelompok tani Trubus Subur.

Sumber : Antara

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya