Peternak Ayam Petelur Blitar Minta Pemerintah Revisi Harga Acuan

Oleh: Choirul Anam 25 September 2018 | 18:25 WIB

Bisnis.com, BLITAR--Peternak ayam  petelur KB. Blitar, Jatim, meminta pemerintah segera merevisi harga acuan terkait tren terus menurunnya harga komoditas pangan tersebut.

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Blitar Sukarman mengatakan harga acuan telur yang ditetapkan pemerintah dengan ketentuan harga terbawah Rp17.000/kg dan Rp19.000/kg sudah tidak memadahi lagi.

"Dengan kenaikan harga pakan yang tinggi, maka harga acuan telur terbawah mestinya Rp19.000/kg," katanya saat menerima kunjungan kerja TPID Provinsi Sulawesi Barat di Blitar, Selasa (25/9/2018).

Begitu juga dengan harga doc. Saat ini harga doc mencapai Rp10.000/ekor, naik tajam bila dibandingkan tiga pekan sebelumnya yang mencapai Rp6.000/ekor.

Harga pakan naik dari Rp4.800/kg menjadi Rp5.800/ekor. Secara teori, setiap kenaikan harga pakan sebesar Rp100/kg, idealnya diikuti kenaikan harga telur Rp300/kg.

Dengan harga pakan sebesar itu maka kenaikan harga telur mestinya mencapai Rp3.000/kg. "Karena itulah harga acuan saat ini sudah tidak cocok di lapangan dan harus direvisi," ujarnya.

Yang lebih memprihatinkan, kata dia, dengan kenaikan doc dan pakan mestinya harga telur naik lebih tinggi. Namun saat ini, harga telur justru turun tajam menjadi Rp15.600-Rp16.000/kg lebih rendah dari harga sepekan sebelumnya yang mencapai Rp16.500-Rp17.000/kg.

Padahal untuk memperoleh keuntungan, setidaknya harga telur mencapai Rp19.000/kg karena harga pokok produksinya mencapai Rp18.000/kg.

Dia menduga, turunnya harga telur terkait dengan peningkatan produksi. Hal itu terjadi karena ada kenaikan produksi dampak dari penggantian ayam petelur afkir yang dijual pada Lebaran lalu.

Saat ini, ayam pengganti ayam afkir berada pada puncak produksi. Rerata produksi telur dalam dua pekan terakhir di Blitar mencapai 800 ton/hari, padahal saat normal produksi telur di kisaran 450-600 ton saja.

Padahal peternak sudah mematuhu imbauan pemerintah mengurangi masa produksi ayam dari 24 bulan menjadi 22,5 bulan.

Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Djoko Raharto  berharap pemerintah hadir mengatai permasalahan yang dialami peternak ayam petelur dengan mendatangkan jagung sebagai pakan utama ayam.

Dengan kebijakan tersebut, maka harga jagung menjadi terjangkau peternak dan dapat menekan ongkos produksi. Dengan proses produksi yang efisien, maka peternak masih bisa memperoleh untung saat harga telur turun.

Untuk keperluan itu, pemerintah tidak harus melakukan ekspor jagung, tapi bisa mendatangkan jagung dari produsen jagung. Dengan cara itu, selain dapat memberikan akses pasar bagi petani, pemerintah juga tidak perlu melakukan impor jagung yang bisa berdampak mengganggu cadangan devisa.

Yang juga bisa dilakukan pemerintah, melakukan operasi pasar untuk membeli telur dari peternak. 

"Jangan hanya saat harga telur naik pemerintah bereaksi untuk menurunkan harga dan selalu berhasil. Giliran harga telur tajam pemerintah juga harus bersikap," kata Sukarman.

Kasie Bina Usaha Dinas Peternakan Kab. Blitar Indriawan mengakui yang juga mengalami penurunan harga selain telur juga daging ayam broiler. Harga bahan panga  tersebut turun menjadi Rp15.000/kg di tingkat peternak. Dua pekan lalu harganya masih Rp17.500-Rp18.000/kg.

Terkait dengan turunnya harga telur dan ayam broiler, menurut dia, karena gejala tahunan. Intinya, setiap suro ( dalam penanggalan Jawa), kegiatan pernikahan tidak ada sehingga permintaan telur menurun. Karena itulah, gejala tersebut hanya bersifat sesaat.

Produksi ayam broiler di Blitar,  mencapai 1,42 juta/triwulan.

Menurut dia, dampak penurunan harga terutama dirasakan peternak ayam petelur, sedangkan peternak ayam broiler lebih banyak bermitra sehingga harga ayam di tingkat peternak menjadi relatif stabil.

" Dalam kondisi seperti itu, maka kuncinya peternak harus benar-benar dalam usaha produksi sehingga dapat menekan biaya produksi," ucapnya.

Sukarman setuju dengan saran itu. Karena itulah dia terus berusaha mencari jagung dengan harga kompetitif dan memperluas pasar telur dengan konsep kerja sama dalam jangka panjang sehingga harganya bisa bertahan stabil.

Kepala Bagian Perekonomian dan Pembangunan Kab. Blitar Tuti Komaryati yang juga Wakil Sekretaris TPID setempat mengatakan melalui TPID pihaknya berusaha membantu memperluas pasar telur dengan sistem kontrak ke daerah-daerah. Yang sudah berhasil, dengan Pemprov DKI dengan permintaan sebanyak 250 ton/bulan.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya