Mie Instan Paling Laris, Indofood Tambah Produksi 10%

Oleh: Peni Widarti 18 September 2018 | 20:31 WIB

Bisnis.com, SURABAYA - PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk berencana menambah kapasitas produksi mie instan hingga 10% untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.

Direktur Indofood CBP Sukses Makmur, Thomas Tjhie mengatakan saat ini kapasitas produksi noodle atau mie instan mencapai 16 miliar bungkus per tahun.

Peningkatan produksi ini dilakukan mengingat produk noodle sangat berkontribusi besar terhadap total penjualan Indofood CBP.

"Memang di semester I ini penjualan Indofood CBP kebanyakan disumbang oleh produk mie instan sebesar 64%, lalu disusul produk susu dairy 20% dan makanan ringan 7%," katanya dalam Investor Summit 2018, Selasa (18/9/2018).

Dia menjelaskan Indofood CBP Sukses Makmur yang memproduksi produk konsumen bermerek seperti mie instan, produk dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi, dan makanan khusus dan minuman ini telah menyumbang kinerja PT Indofood Sukses Makmur sebesar 54%.

Indofood CBP memcatatkan pada semester I tahun ini telah mengalami pertumbuhan laba usaha mencapai 17,7% dari Rp2,78 triliun menjadi Rp3,27 triliun.

Thomas menambahkan pertumbuhan Indofood CBP tampak menunjukan perbaikan pada kuartal II/2018 yakni adanya peningkatan penjualan selama momen Hari Raya Idul Fitri.

Sementara itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang merupakan induk CBP, produsen tepung terigu Bogasari, usaha agribisnis (pengembangan, pemuliaan benih bibit hingga pengelolaan kelapa sawit) dan usaha distribusi pada semester I ini mencatatkan laba usaha Rp4,54 triliun atau tumbuh 2,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Meski hanya tumbuh 2,1%, kami memandang positif perkembangan situasi yang terjadi hingga akhir tahun ini tapi tetap waspada dengan volatilitas harga komoditas dan nilai tukar mata uang asing," ujar Direktur Indofood Sukses Makmur, Franciscus Welirang.

Franciscus mengatakan kinerja Indofood tahun ini ditolong oleh Indofood CBP mencapai 54%, disusul divisi Bogasari 23%, lalu divisi Agribisnis 23%, serta divisi Distribusi 8%.

Untuk menjaga kinerja perseroan di tengah melemahnya rupiah, Indofood dalam 3 bulan terakhir ini telah menaikkan harga jual produk tepung terigu sebesar 2% -3% mengingat 100% baku tepung terigu merupakan impor.

"Walau dolarnya naik sampai 10% tapi kami tidak menaikkan harga tinggi-tinggi sehingga dampaknya terhadap konsumen tidak signifikan. Sejauh ini dampak menguatnya dolar kemarin juga begitu terasa," katanya saat

Dia mengatakan perseroan memang tidak bisa menaikkan harga produk terlalu tinggi lantaran persaingan usaha tepung terigu juga sangat ketat. Sedikitnya ada 25 pemain industri tepung terigu di Indonesia.

Meski begitu, lanjutnya, Indofood mengklaim telah menguasai pasar di Indonesia sekitar 50% dari total market tepung terigu.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya