NOSTALGIA GAJAH MUNGKUR, Jembatan Bawah Waduk Muncul Kembali

Oleh: Ichsan Kholif Rahman 13 September 2018 | 07:14 WIB
NOSTALGIA GAJAH MUNGKUR, Jembatan Bawah Waduk Muncul Kembali
Warga memanfaatkan munculnya Jembatan Pondok untuk mencari ikan pada Rabu (12/9) pagi.

Bisnis.com, WONOGIRI — Tepat di selatan Pasar Wuryantoro, genangan Waduk Gajah Mungkur kini dalam kondisi surut.

Sebuah jembatan yang berbatasan dengan kelurahan Wuryantoro dan Desa Sumberejo kini muncul kembali. Jembatan dengan panjang sekitar 20 meter mengalir sebuah sungai dengan lebar sekitar tiga meter. Sebuah jembatan yang akrab dikenal sebagai Jembatan Pondok telah lebih dari sebulan muncul kembali.

Di ujung jembatan, membentang tanah yang beberapa bagiannya merupakan sebuah desa dahulunya. Hamparan tanah yang merekah dapat dilalui untuk menuju Kecamatan Eromoko.

“Dahulunya di sini merupakan sebuah desa tapi sudah transimgrasi ke Sumatera,” ujar Darman warga desa setempat saat ditemui JIBI di lokasi pada Rabu (12/9/2018)
.
Ia menyebut, ketika musim penghujan air dapat mencapai ketinggian lima meter dari dasar jembatan. Beberapa warga asal Kecamatan Wuryantoro hingga di luar kecamatan memanfaatkan momen tahunan ini untuk mencari ikan dengan menjala.

Salah satu seorang warga Dusun Wuryantoro, Sukasdi, mengaku lebih cepat melalui jalan yang kini muncul kembali untuk menuju Kecamatan Eromoko.

“Lebih cepat hanya melalui jalan itu tidak sampai 30 menit dengan berjalan santai untuk menuju ke Wuryantoro atau Eromoko. Kalau anak muda pasti lebih cepat namun harus berhati-hati karena masih basah. Kalau lewat jalan yang biasanya lumayan jauh,” ujarnya.

Setiap sore, terdapat beberapa masyarakat yang mengabadikan momen ini. Pasalnya, hamparan luas sawah dan aliran sungai di bawah jembatan menjadi pemandangan yang memiliki kesan tersendiri.

Camat Wuryantoro, Purwadi Hardo Saputro, mengatakan Jembatan Pondok dapat dilalui untuk menuju Kecamatan Eromoko, tak hanya itu ia menyebut Jembatan Pondok memiliki sebuah sejarah yang panjang dan layak untuk bernostalgia di sana.

“Warga Wuryantoro yang ikut transmigrasi sudah rindu dengan kampung halaman yang ditinggalkan, pada puncak musim kemarau bisa dilakukan wisata napak tilas tanah leluhur bagi warga yang ikut transmigrasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, napak tilas dilakukan dengan mengunjungi kampung halaman yang muncul kembali dan melakukan ziarah ke makam yang muncul kembali karena surutnya air.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer