Bulog Malang Serap 18.000 Ton Gula Petani

Oleh: Choirul Anam 04 September 2018 | 13:52 WIB
Bulog Malang Serap 18.000 Ton Gula Petani
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8)./ANTARA-Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, MALANG — Bulog Malang menyerap 18.000 ton gula petani sebagai upaya menjaga agar harga komoditas pangan tersebut tidak terus turun karena penyerapan pasar relatif melambat.

Kepala Bulog Malang Fachria Latuconsina mengatakan gula petani sebanyak itu diserap dari dua Pabrik Gula (PG) di Jawa Timur (Jatim), yakni PG Kedawung di Kabupaten Pasuruan dan PG Krebet Baru di Kabupaten Malang.

“Yang paling banyak dari PG Krebet Baru, yakni sebesar 15.000 ton,” sebutnya di sela-sela peluncuran Kegiatan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) Beras Medium 2018 di Malang, Selasa (4/9/2018).

Bulog membeli harga gula petani sebesar Rp9.700/kg, jauh lebih tinggi dari harga lelang gula di dua PG tersebut. Oleh karena itu, penyerapan gula oleh Bulog diharapkan mampu agar harga gula tidak turun terlalu dalam dan merugikan petani. 

Menurut Fachria, tidak ada target dalam penyerapan gula oleh Bulog Malang. Jika petani menginginkan gulanya diserap, maka harus mengajukan permohonan untuk disampaikan ke kantor pusat agar memperoleh persetujuan.

Syarat lainnya, harga pembelian gula oleh Bulog tidak lebih dari Rp9.700/kg.

Bulog Malang mengaku tak tidak khawatir terhadap penyimpanan gula hasil serapan dari petani karena disimpan di gudang di PG-PG tersebut sehingga perawatannya lebih baik. 

Nantinya, gula hasil serapan itu dapat dimanfaatkan untuk kegiatan stabilisasi harga di pasar tradisional maupun untuk memasok Rumah Pangan Kita (RPK), penyalur bahan makanan bentukan dari Bulog. Di wilayah kerja Bulog Malang, ada 450 RPK yang siap menampung gula dari Bulog. 

Selain itu, gula serapan Bulog Malang juga dapat diperuntukkan untuk memenuhi pasokan ke daerah lain, baik di Jatim maupun luar Jatim.

“Saya dapat kabar akan ada pengiriman gula sebanyak 7.500 ton dari Malang ke daerah lain. Namun, ke daerah mana, saya masih belum mendapatkan informasinya,” ujarnya.

Saat ini, penyerapan utama RPK adalah untuk komoditas beras. Tiap bulannya, penyerapan beras Bulog oleh RPK mencapai 30-50 ton. 

Bulog Malang mengklaim tidak kesulitan memasok beras untuk kebutuhan RPK karena sampai saat ini sudah menyerap 17.180 ton atau setara dengan 40,5% target penyerapan yang dipatok di 2018.

“Akhir bulan ini diperkirakan masih ada beras yang bisa diserap Bulog Malang hasil  panen musim kemarau atau padi gadu, meski tidak sebanyak panen musim tanam penghujan,” lanjut Fachria.

Di sentra-sentra produksi beras Jatim, seperti Ngawi, Lamongan, Bojonegoro, dan Jombang, masih ada beras dengan harga pembelian Bulog sebesar Rp8.030/kg. Tetapi, jumlahnya tidak sebanyak seperti pada musim panen musim tanam penghujan.

Rata-rata harga beras kelas medium di pasar, mencapai Rp9.000/kg. Hal ini menyulitkan Bulog untuk memperoleh beras dalam jumlah besar di tengah produksi yang tidak besar.

Pasalnya, beras yang beredar adalah hasil musim tanam kemarau atau padi gadu.

“Untuk menyerap beras dari Malang, sulit karena kualitas berasnya premium sehingga harganya di atas harga pembelian yang dipatok Bulog,” tuturnya.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya