CERITA KHAS, Pasar Punakawan & Sensasi Tempo Dulu

Oleh: Nadia Lutfiana Mawarni 03 September 2018 | 08:15 WIB
CERITA KHAS, Pasar Punakawan & Sensasi Tempo Dulu
Suyoto sedang memandu acara dengan bahasa Jawa.

Bisnis.com, BOYOLALI – Suyoto, 57, fasih memandu acara Peresmian Pasar Punakawan di Dusun Senet, Desa Selo, Kecamatan Selo, Boyolali, Minggu (2/9) pagi.

Tanpa membaca teks, bibirnya fasih bertutur dalam bahasa Jawa halus layaknya memandu acara pernikahan. Dari mulai acara hingga doa dibacakan di akhir, Suyoto tak sekalipun terlihat gugup, apalagi alpa dalam mengucap kata-kata.

Salah satu pengunjung Pasar Punakawan asal Garut, Ulfa Shofi, 22, bahkan berdecak kagum sembari kebingungan. Ada beberapa kata yang baru pertama kali didengar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta itu.

“Misalnya kata menawi (yang) atau sepindah (pertama) yang ternyata adalah bahasa Jawa halus,” kata dia.

Mendengar Suyoto berbicara Ulfa bahkan ingin lebih banyak mendalami bahasa Jawa sembari menyelesaikan kuliah profesi di Kota Bengawan.

Sehari-hari Suyoto yang aktif di Lembaga Desa dan Tani itu adalah seorang pambiwara, pembawa acara dalam Bahasa Jawa. Dia biasa membawakan keahliannya dalam memandu acara ketika hajatan pernikahan warga desa digelar. Memandu dalam acara peresmian pasar menjadi sesuatu yang baru bagi dirinya.

“Rasanya senang karena kemampuan saya bisa berkembang,” tutur dia di sela-sela acara.

Kepala Desa Selo, Wiranto, mengatakan selain Suyoto setidaknya Desa Selo memiliki dua pambiwara lain. “Pambiwara yang usianya sudah mendekati 60 tahun itu dianggap profesional di sini, mereka sering mengisi acara pernikahan,” kata dia.

Kemampuan pambiwara itu, kata Wiranto, kini mulai diturunkan ke generasi muda yang berusia di bawah 30 tahun. Selain pelatihan terprogram, kemampuan pambiwara juga bisa diasah dengan becakap-cakap dengan teman sebaya. Kini, kemampuan pambiwara itu bisa diasah lewat sektor pariwisata dengan dibukanya Pasar Punakawan.

Pasar berkonsep jaman dulu (jadul) itu mengusung konsep budaya Jawa. “Setiap buka rencananya akan dipandu oleh pambiwara dengan bahasa Jawa, untuk yang tidak paham artinya nanti bisa disediakan penerjemah,” kata Wiranto.

Dengan begitu, selain kontribusi ekonomi, pasar juga dirancang sebagai tempat efektif untuk melestarikan tradisi.

Konsep budaya Jawa itu juga disuguhkan dengan berbagai tarian tradisional yang akan ditampilkan tiap pasar dibuka yang dibawakan warga setempat. “Itu juga bisa menghidupkan lembaga kesenian yang dimiliki desa,” kata dia.

Selain seni, Pasar Punakawan memperdagangkan olahan makanan tradisional yang semuanya dibuat warga setempat. Beberapa makanan seperti pecel, ketan susu, cilok, dan ubi madu kini bisa dinikmati pelanggan berpadu dengan keindahan pemandangan puncak Merapi dan Merbabu tiap Minggu mulai pukul 06.00 WIB- 12.00 WIB.

Peresmian Pasar Punakawan di Dusun Senet, Desa Selo, Kecamatan Selo, Boyolali, oleh Pemkab Boyolali, Minggu (2/9) pagi menjadi pembuka era pariwisata digital di Selo. Peresmian itu ditandai dengan penancapan gambar Punakawan serta pemecahan kendi oleh Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Boyolali, Wiwis Trisiwi Handayani.

Pasar Punakawan yang mengusung konsep tempo dulu dan transaksi nontunai ini menjadi destinasi ala digital pertama di Selo. Pengunjung wajib menukarkan uang mereka dengan koin senilai 1 untuk Rp1.000, 2,5 untuk Rp2.500, 5 untuk Rp5.000, dan 10 untuk Rp10.000.

Pasar cetusan Kelompok Studi dan Penelitian (KSP) Principium, Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret (UNS) itu memanfaatkan Program Hibah Bina Desa (PHBD) yang didanai oleh Kemenristekdikti. Dosen Pembimbing, Muhammad Rustam Aji, mengatakan program hibah ini bakal dilaksanakan oleh tim KSP Principium hingga November. “Selebihnya akan kami serahkan kepada masyarakat, dan berharap program bisa terus berlanjut,” ungkap Aji ketika berbincang dengan JIBI di sela-sela acara.

Sebelumnya pasar berkonsep digital dengan transaksi nontunai telah ada di beberapa kota, seperti Pasar Semarangan di Kota Semarang dan Pasar Papringan di Temanggung. Keduanya menjadi destinasi wisata di wilayah masing-masing. Aji mengatakan selain meringkas penggunaan uang, pasar nontunai juga mempermudah sistem pembagian keuntungan antara pengelola pasar dan pedagang. Nantinya, 15% dari total keuntungan akan masuk ke kas pengelola pasar.

Konsep digital juga diusung Pasar Punakawan sebagai media promosi. Mereka memanfaatkan media sosial instagram sebagai wadah mengenalkan pasar kepada khalayak ramai. Segala aktivitas pasar dapat ditilik lewat akun @pasarpunakawan.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya