Padi Organik Bondowoso Peroleh Sertifikat Internasional 

Oleh: Choirul Anam 26 Agustus 2018 | 00:59 WIB
Padi Organik Bondowoso Peroleh Sertifikat Internasional 
Kepala Group Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim Harmanta (tengah) bersama Kepala Dinas Pertanian Kab. Bondowowo (dua dari kanan) danMunandar Mulyono, Ketua Gapoktan Al-Barokah, Lombok Kulon, Kec. Bondowoso, menunjukkan produk yang dihasilkan gapoktan tersebut di Bondowoso, Kamis (23/8/2018)./Bisnis-Choirul Anam

Bisnis.com, BONDOWOSO—Padi organik Bondowoso, di Desa Lombok Kulon, Kec. Wonosari, Kab. Bondowowo, Jatim, memperoleh sertifikat internasional. Hal itu membuat peluang untuk ekspor menjadi tinggi.

Kepala Dinas Pertanian Kab. Bondowowo Munandar mengatakan luasan lahan tanaman padi organik yang memperoleh sertifikat seluas 20 hektare dari total lahan seluas 130 hektare.

“Kami membantu lewat pengurusan sertifikat itu lewat dana APBD sebesar Rp2,6 miliar,” katanya dihubungi Sabtu (25/8/2018).

Di sela-sela Pelatihan Wartawan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim, di Bondowoso, Kamis (23/8/2018), Munandar mengungkapkan, sertifikat internasional itu diperoleh setelah usaha budi daya padi organik memperoleh Sertifikat Nasional Indonesia.

Dengan perolehan sertifikat tersebut, maka peluang padi organik asal Bondowoso untuk diekspor menjadi sangat tinggi. Negara tujuan ekspor pada organik daerah tersebut yakni Belgia, Jepang, Singapura, dan Malaysia.

Di Bondowoso, rencananya akan ada perluasan lahan padi organik. Di setiap wilayah kerja Balai Penyuluh Pertanian yang berjumlah 7, diharapkan masing-masing ada lima hektare yang menjadi lahan padi organik.

Mulyono, Ketua Gapoktan Al-Barokah, Lombok Kulon, Kec. Bondowoso mengatakan penghasilan petani padi organik lebih tinggi bila dibandingkan padi anorganik.

Setiap tahun, mereka memperoleh pendapatan bersih Rp38 juta/hektare, sedangkan petani padi anorghanik hanya memperoleh pendapatan kotor Rp26 juta/hektare/tahun.

“Tapi problemnya pada perluasan pasar. Kami masih ada 50 ton beras yang belum diserap pasar,” ucapnya.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang Prof Indah Prihatini selaku pendamping kegiatan tersebut mengatakan petani padi organik sudah memperoleh produktifitas tinggi lahannya dengan hasil panen rerata 7 ton/hektare karena sudah ada keseimbangan antara musuh alami dan penyakit.

Kepala Group Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim Harmanta mengatakan BI mendorong padi organik Bondowoso bisa seluas-luasnya menembus pasar ekspor.

Karena itulah, BI Jatim akan menautkan padi organik Bondowoso dengan padi organik binaan BI seperti di Nganjuk, Mojokerto, Ngawi, Banyuwangi, Lumajang, dan lainnya.

Dengan terintegrasinya pasar antardaerah penghasil padi organik binaan BI, maka diharapkan pasar lebih meluas. Terutama pasar ekspor.

Perlunya padi organik dapat menembus pasar ekspor agar nantinya dapat mengurangi defisit neraca perdagangan dan memperkuat cadangan devisa. Dengan demikian, akan memperkuat serta menstabilkan nilai tukar rupiah.

Selain itu, kegiatan usaha budi daya padi organik diharapkan memberikan nilai tambah bagi petani karena mereka tidak hanya menjual gabah, melainkan sudah diproses menjadi beras, bahkan sudah dikemas secara menarik dan benar.

Munandar mengungkapkan, kegiatan petani organik di Bondowoso sebenarnya sudah mengarah pada corporate farming, yakni tidak hanya membudidayakan padi organik, melainkan mengolahnya menjadi beras yang sudah dikemas secara baik dengan dukungan teknologi modern.

“Di sini juga ada kegiatan desa wisata yang tidak hanya merupakan wisata edukasi, tapi juga unsur rekreasi seperti menikmati kuliner di tengah sawah,” ucapnya. 

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya