KAWASAN INDUSTRI : Morowali, Riwayatmu Kini

Oleh: David Eka Issetiabudi 08 Agustus 2018 | 02:00 WIB

Memasuki kompleks kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) banyak terpampang informasi di spanduk-spanduk berbahasa Mandarin.

Hampir setiap informasi tentang keselamatan kerja, rambu lalu lintas, nama gedung dan lainnya dilengkapi dengan huruf Han Zi. Setidaknya itulah hasil pengamatan Bisnis, saat meninjau langsung kawasan terintegrasi logam berbasis nikel pertama di Indonesia ini.

Hilir mudik alat berat tampak bergerak, memindahkan batu bara, hingga mengangkut stainless steel ke gudang penyimpanan di IMIP.

Di lokasi berbeda, karyawan dapur umum sibuk memotong bahan makanan untuk menyiapkan menu makan bagi lebih dari 20.000 pekerja yang beredar di kawasan ini setiap harinya.

Area IMIP yang berada di Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah terletak di pinggir laut, tampak seperti kebanyakan kawasan industri lainnya. Kawasan pusat industri pengolahan nikel terintegrasi ini berdiri di lahan seluas 2.000 hektare dan terus dikembangkan menjadi 3.000 Ha.

Proyek smelter dan Kawasan Industri Morowali merupakan tindak lanjut penandatanganan perjanjian business to business di hadapan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden China Xi Jinping pada 3 Oktober 2013 silam.

Niat baik menghadirkan smelter di Tanah Air bermula saat pemerintah menerbitkan Undang Undang No. 4 tahun 2009 tentang Minerba, yang salah satu poinnya melarang ekspor mineral mentah pada Januari 2014.

CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus berseloroh awalnya investor China menganggap sebelah mata beleid yang diterbitkan pemerintah, dan merasa keran ekspor mineral mentah bakal terus berlanjut.

Hanya saja, insting Alex mengatakan pemerintah tidak main-main soal kebijakan yang sempat membuat kinerja sektor komoditas nasional hibernasi. "Saya bertaruh 20 sloki arak China, kalau pemerintah akan benar-benar menerapkan kebijakan itu," ungkapnya dalam diskusi bersama Kantor Staf Kepresidenan yang berkunjung ke lokasi smelter, Senin (6/8).

Hadirnya IMIP diprakarsai dari kerja sama antara Delapan Bintang Group dan Tsingshan Group. Sebelum membangun industri berbasis nikel di Tanah Air, Tsingshan Group merupakan memiliki 3 unit produkso nikel pig iron (npi) dengan kapasitas 2 juta ton dan 3,4 juta ton stainless steel.

Kawasan ini dikelola oleh PT IMIP dan setidaknya terdapat 5 perusahaan smelter dan produsen baja nirkarat atau stainless steel, yaitu PT Sulawesi Mining Investment, PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, PT Tsingshan Steel Indonesia, PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel, dan PT Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy.

Dalam pengamatan Bisnis, keistimewaan kawasan industri terintegrasi itu tampak dari keberadaan pembangkit listrik berkekuatan 1.130 megawatt dan proses pembangunan PLTU dengan kapasitas sebesar 2 x 350 MW. Saat ini, PLTU yang ada di kawasan industri ini pun menyalurkan 5 MW ke transmisi PLN dan ikut membangun kabel transmisi sepanjang 40 kilometer.

Dukungan yang paling terasa yang terlihat dalam kawasan ini adalah keberadaan pelabuhan khusus, dengan beberapa dermaga atau jetty. Untuk kapasitas 100.000 dwt terdapat dua dermaga, sementara ada 25 jetty kapasitas tampung 3.000 - 30.000 dwt.

Perusahaan mengklaim salah satu faktor yang membuat kawasan industri terintegrasi ini adalah keunggulan biaya logistik. Pasalnya, tidak ada istilah dwelling time.

Selain itu, IMIP sedang membangun bandara khusus untuk mobilitas karyawan ke berbagai daerah. Bandara ini dibangun di atas lahan 110 Ha, dengan panjang landas pacu sepanjang 1.800 meter. Nantimya pesawat jenis Cesna Caravan, ATR-72, dan embrarer ERJ-145 dapat mendarat.

Kawasan Industri Morowali telah menyerap investasi sekitar US$6 miliar yang berasal dari Tsingshan dan Bintang Delapan Group serta pembangunan pabrik baja karbon Dexin Steel Indonesia yang menelan investasi sekitar US$1,1miliar.

Pembangunan pabrik baja tersebut telah dimulai sejak Januari 2018 dan ditargetkan berlangsung 24 bulan sejak pembangunan dimulai, sehingga bakal berproduksi sekitar 2020. Produk baja karbon yang diharapkan akan diproduksi antara lain billet, wire rod, slab, dan bar dengan kapasiras masing-masing sesuai permintaan pasar.

Dexin Steel Indonesia merupakan joint venture antara produsen baja asal China Delong Holdings, melalui anak usahanya Delong Steel Singapore Projects, bersama PT Indonesia Morowali Industrial Park dan Shanghai Decent Investment Group.

Total investasi di tahap awal disebutkan sekitar US$950 juta. Sebesar 70% dari dana tersebut berasal dari pendanaan bank. Delong Steel Singapore Projects akan memiliki saham sebesar 45%, Shanghai Decent sebesar 43% dan IMIP sebesar 12%.

Alex mengungkapkan kehadiran Dexin Steel akan memperkuat ketahanan industri baja dalam negeri. Walaupun terbilang strategis, investasi ini rencananya tidak terbangun di IMIP, karena industrinya tidak berbasis nikel.

"Awalnya tidak masuk sini, tetapi kalau tidak di Morowali, mereka tidak mau investasi di Indonesia," ujarnya.

Bicara soal penghiliran industri, pihaknya mengaku hanya akan memproduksi dari ore menjadi stainless steel. Sementara itu, pihaknya tidak akan mendirikan industri hilir, sebagai pabrik pembuat produk akhir dari baja nirkarat.

Bicara soal pasokan biji nikel, pasokannya tidak hanya datang dari produksi tambang PT Bintang Delapan. Pasalnya, produksi Bintang Delapan hanya sebanyak 4 - 5 juta ton per tahun, sementara smelter membutuhkan ore sebanyak 15 juta metric ton per tahun.

Selain biji nikel, batu bara, mangan, dan crom juga dipasok dari luar. Batu bara dengan kalori 6.000 yang digunakan untuk smelter didapat dari impor, begitu juga mangan, dan crom. "Dengan apa yang kami miliki sekarang, rasa-rasanya kalau ada apa-apa kami yang terakhir mati," ungkapnya.

Dengan semua hal yang dikembangkan dalam kawasan ini, memberikan dampak lipatan nilai tambah serta efisiensi yang tidak kecil. Perusahaan sendiri mengklaim, jika ada standar efisiensi dengan nilai sempurna 10, maka IMIP berani mematok poin 8,5 apa yang sudah mereka kerjakan.

Fakta nilai tambah yang datang dari kawasan industri logam terintegrasi ini pun tampak dari kinerja ekspor maupun penerimaan pajak. Tahun lalu, ekspor baja nirkarat dari Morowali tercatat US$ 2,6 miliar, sementara tahun ini ditargetkan akan menyentuh US$5 miliar, dengan sasaran Amerika Serikat, India dan Eropa.

Soal pajak, perusahaan telah membayarkan kewajibannya senilai Rp2,09 triliun pada 2017.

Dengan segala macam yang dihasilkan dari smelter di Sulawesi Tengah ini, diharapkan diikuti oleh investor lain untuk melakukan hal yang sama di wilayah lainnya.

Sayangnya, upaya pelaku industri pioneer ini tidak sepenuhnya lancar. Salah satunya dengan diterbitkannya tax holiday untuk perusahaan yang telah berinvestasi lebih dari US$7 miliar ini. Menurut sang CEO, janji pemerintah memberikan insentif fiskal tersebut belum terlaksana. Akan tetapi, pihaknya diberikan tax allowance dalam jangka waktu tertentu.

"Kemarin memang dijanjikan, tetapi sekarang kami dapat tax allowance. Kurang tahu berapa tahun," katanya.

Sebagai industri yang lahir di remote area, keberadaan IMIP mengubah wajah Morowali. Harapan tampak dari potensi pertumbuhan ekonomi daerah yang melejit seketika, setelah smelter beroperasi. Jika pada 2015 pendapatan perkapita Morowali senilai US$8.702, dalam empat tahun mendatang menjadi US$15.000 - US$20.000.

Bicara PDRB Morowali pun tampak meningkat pada 2022 yang diproyeksi menyentuh Rp48,3 triliun, sementara pada 2016 nilainya mencapai Ro14,6 triliun.

Di sisi lain, dampak sosial pun menjadi tantangan bersama, baik perusahaan ataupun pemerintah daerah. Kehadiran pemda patut dipertanyakan dengan tidak terlihatnya kematangan penataan kota.

Hal itu tampak dari pembangunan perumahan warga, sanitasi, jaringan air bersih hingga pembuangan sampah yang perlu ditata. Bicara soal kesehatan, tidak adanya rumah sakit, bahkan dengan tipe C, menjadi masalah.

Begitu pula akses keuangan dan telekomunikasi. Sejauh ini, kehadiran industri perbankan masih minim, karena hanya Bank BRI dan Bank Sulteng yang memberikan pelayanan. Soal jaringan telekomunikasi, sewajarnya provider mulai masuk ke daerah ini. Pasalnya, hanya Telkomsel yang dapat di akses di kawasan industri ini.

KONTRIBUSI CHINA

Dalam kawasan IMIP, setidaknya dihuni oleh 16 perusahaan yang bergerak di bidang smelter, pembangkit listrik, tambang hingga pelabuhan. Berdasarkan data IMIP per 31 Juli 2018, estimasi tenaga kerja yang terserap dalam industri pendukung kawasan IMIP (kontraktor, supplier) berjumlah sekitar 53.594 pekerja.

Khusus tenaga kerja lokal yang bekerja langsung di kawasan IMIP tercatat 25.447 orang, sementara tenaga kerja asing asal China sebanyak 3.121 orang. Jika melihat banyaknya pekerja asal Negeri Tirai Bambu yang menjagi sesuap nasi di kawasan ini, maka wajar semua imformasi perlu juga menggunakan bahasa Mandarin.

Dari komposisi tenaga kerja langsung, maka dapat disimpulkan sebanyak 10,9% tenaga kerja asing bekerja di kawasan IMIP. Dalam pengamatan Bisnis, terlihat jenis pekerjaan yang digeluti TKA China berbeda dengan yang dilakukan tenaga kerja lokal.

TKA China diarahkan untuk mengerjakan proyek, a.l. sebagai operator alat berat pengangkut feronikel, truk besar ataupun kendaraan yang posisi kemudinya di sebelah kiri. Tampak pula, sebagai mandor las ataupun supervisor.

Adapun, untuk pekerjaan kasar atau supir truk pengangkut batu bara, sudah menggunakan tenaga lokal.

Jika ada anggapan bahwa banyak pekerja asing yang datang ke Morowali, memang tidak bisa ditampik. Akan tetapi, rasanya tidak benar jika jumlahnya sampai ratusan ribu atau bahkan jutaan.

Alex menargetkan hingga perkembangan kawasan industri terintegrasi ini rampung, TKA yang terlibat tidak lebih dari 10%. Untuk saat ini, pihaknya merasa wajar menggunakan TKA China, mengingat investasi yang ada di Morowali ini melibatkan investor China.

"Ibarat kata, kalau kita beli AC, siapa yang memasang?. Smelter nikel kita ini, yang terbesar dalam satu tempat dan pertama di Indonesia, mereka sudah punya pengalaman,".

Jika boleh membandingkan, lanjut Alex, etos kerja TKA China memang lebih unggul. Mereka, tidak keberatan untuk lembur untuk mengerjakan sebuah proyek.

Dalam proyeksi ke depan, kawasan ini setidaknya memerlukan tenaga kerja primer mencapai 32.000 orang pada 2020. Sementara, proyeksi jumlah karyawan yang direkrut setiap tahun berjalana di kawasan IMIP sekitar 11.500 orang pada 2018, 1.500 oramg pada 2019, dan 500 orang pada 2020.

Salah satu TKA China yang bersedia diwawancarai mengaku tidak semua pekerja betah lama-lama di negeri orang. Manajer Operasional PT IMIP Lee Qiang mengaku sudah 7 tahun mengabdi di perusahaan tersebut. "Tidak semua betah, karena meninggalkan keluarganya. Lagi pula mereka disini hanya bisa bekerja," tambahnya.

Editor: Gajah Kusumo

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer