Analisis Ekonom UGM Soal Tekanan Rupiah

Oleh: Choirul Anam 06 Agustus 2018 | 08:58 WIB
Dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajahmada (UGM) Muhammad Edhie Purnawan di Tulungagung, Sabtu (4/8/2018)./Bisnis-Choirul Anam

Bisnis.com, TULUNGAGUNG — Tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS diprediksi bersifat jangka pendek dilihat dari aspek teoritis dan langkah-langkah pemerintah untuk mengatasinya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajahmada (UGM) Muhammad Edhie Purnawan mengatakan secara umum pelemahan rupiah terhadap dolar AS karena tiga hal, yakni penaikan suku bunga FED, harga minyak dunia, dan perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

“Namun sebuah kebijakan seperti yang dilakukan FED, biasanya reaksi pasar jangka pendek, setelah itu pasar bereaksi biasa-biasa saja,” katanya pada Pengukuhan Generasi Baru Indonesia BI Kediri Tahun 2018 dan BI Mengajar di Tulungagung, Sabtu (4/8/2018).

Edhi menegaskan bagaimanapun untuk menjaring dolar AS, maka kebijakan finansial harus menguntungkan investor asing karena mereka hanya berorientasi keuntungan.

Secara teoritis, over shooting biasanya juga bersifat jangka pendek, dan berangsur kembali ke titik normal. Asumsi APBN, kurs dollar AS mencapai Rp13.300, namun di pasar saat ini menembus Rp14.500. Kenyataan itu, mengacu teori bersifat jangka pendek.

Kondisi saat ini tidak bisa dibandingkan dengan pelemahan pada 1998 sehingga terjadi krisis ekonomi. Saat itu, pelemahan rupiah berlangsung sangat cepat dan bersifat ekstrim.

Pertimbangan lainnya, cadangan devisa nasional sangat aman. Cadangan devisa nasional cukup untuk mendukung kegiatan impor dan membayar angsuran utang luar negeri selama 7,2 bulan.

Secara teori, jika cadangan devisa negara mencapai 3 bulan untuk kegiatan impor maka sudah dalam kategori aman. Edhie yang juga anggota Badan Supervisi Bank Indonesia itu mengatakan respons BI dan pemerintah cepat menghadapi kondisi tersebut.

BI menetapkan suku bunga acuan dan pemerintah menahan devisa, seperti mewajibkan proyek-proyek PLN mengganti material yang sebelumnya dipenuhi dari impor dengan komponen dalam negeri. Kebijakan lainnya, untuk proyek-proyek yang didanai APBN/APBD agar menggunakan komponen dalam negeri.

“Kebijakan ini menghemat devisa yang sangat besar sehingga dapat memperkuat nilai rupiah,” ujarnya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer