Pemkot Batu Evaluasi Izin Pembangunan Hotel Baru

Oleh: Choirul Anam 27 Juli 2018 | 17:12 WIB
Pemkot Batu Evaluasi Izin Pembangunan Hotel Baru
Pemilik Kharisma Group I Gde Mastra menunangkan adonan semen sebagai tanda ground breaking Ubud Hotel Batu, Jumat (27/7/2018)./Bisnis.com-Choirul Anam

Bisnis.com, BATU – Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, mengevaluasian perizinan pembangunan hotel baru dengan mempertimbangkan daya dukung lahan.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan secara permintaan sebenarnya masih terbuka untuk dibangun hotel baru di kota tersebut. Hal itu diketahui dari rate tarif hotel yang tinggi pada libur panjang dan akhir pekan.

“Saya mendapatkan laporan dari teman di Jakarta yang sempat kaget karena hotel di Batu bisa menembus Rp2 juta per malam, padahal di Jakarta, hotel mewah di sana tarifnya hanya Rp1 jutaan,” ujarnya di sela-sela ground breaking Ubud Hotel Batu pada Jumat (27/7/2018).

Dia nmenjelaskan yang menjadi masalah ialah daya dukung lahan yang terbatas. Dari luas Kota Batu yang 202,3 km², 60% berupa lahan hutan yang dikuasai Perhutani. Sisanya, 20% lahan pertanian dan perkebunan serta 20% lahan yang bisa dibangun untuk konstruksi semacam hotel, restoran, dan lainnya.

“Nah problemnya, apa masih ada lahan yang bisa dimanfaatkan untuk dibangun hotel,” ujarnya.

Oleh karena itu, untukl memastikan apakah Batu masih terbuka untuk dibangun hotel baru atau tertutup, diperlukan kajian lebih dalam. Selain itu, pihaknya perlu berkomunikasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) setempat.

Pemilik Kharisma Group yang salah satu kegiatan usahanya membangun dan mengoperasikan Ubud Hotel, I Gde Mastra, mengatakan pihaknya tertarik membangun hotel di Batu karena potensi ekonominya tinggi. Pada 2016 pertumbuhan ekonominya mencapai 6,4%, tertinggi secara nasional.

Pertimbangan lain, dengan dibangunnya tol Pandaan – Malang, akses ke Batu makin mudah dan cepat sehingga perkembangan pariwisata juga akan semakin tinggi.

Dari sisi pengembangan sisi pariwisata religius, utamanya agama Hindu, kata dia, Batu juga cocok dibangun dengan nuansa Bali.

Puri Junggo di Batu dan Arjuno di Kab. Malang, serta Pura di Semeru, Lumajang, kemudian Bromo, dan Banyuwangi merupakan kesatuan yang kerap dikunjungi wisatawan yang beragama Hindu yang melakukan wisata religi.

Namun, tuturnya, karena lokasi di Batu merupakan daerah resor, untuk menjaring tamu pada hari-hari biasa diperlukan penjualan paket MICE meetings, incentives, conferences, and exhibitions.

Oleh sebab itu, di Ubud Hotel Batu disediakan ruang pertemuan besar dengan kapasitas 400 orang dan dua tempat pertemuan dengan kapasitas masing-masing 100 orang.

Hotel yang dibangun tujuh lantai dan 135 unit kamar dengan investasi Rp94 miliar termasuk lahan itu dikonsep dengan arsitekur Bali beraksen minimalis dan modern. “Saya bangun dengan gaya modern dan minimalis karena luasan lahan sangat terbatas, hanya sekitar 1.500 m²,” ujarnya.

Dengan investasi sebesar itu, dia memperkirakan, BEP (break even point) hotel berbintang empat itu tercapai pada tahun kedelapan atau kesembilan. Dia optimistis target tersebut tercapai dengan potensi pariwisata Kota Batu yang terus berkembang.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya