Gelombang Tinggi Hancurkan Bangunan di Pantai Selatan Jawa Barat

Oleh: Wisnu Wage Pamungkas 26 Juli 2018 | 10:46 WIB
Gelombang Tinggi Hancurkan Bangunan di Pantai Selatan Jawa Barat
Gelombang laut setinggi lebih dari 7 meter menerjang pantai Sembukan, Paranggupito, Wonogiri pada puncak ombak besar Samudera Hindia, Rabu (25/7/2018). Pengelola pantai dan warga setempat melarang wisatawan untuk mendekat ke pantai karena cukup membahayakan keselamatan./Bisnis-Sunaryo Haryo Bayu

Bisnis.com, BANDUNG — Bencana alam gelombang pasang dengan tinggi 3-6,5 meter menghantam kawasan laut selatan Jawa Barat, sejak Rabu (25/7/2018) dini hari lalu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar Dicky Saromi mengatakan efek dasyat gelombang pasang tersebut membuat aktifitas di bibir pantai selatan mengalami gangguan dan kerusakan parah.

“Kejadian ini melanda Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya hingga Pangandaran,” katanya di Bandung, Kamis (26/7/2018).

Bencana yang terjadi sejak Rabu (25/7/2018) pukul 2 dini hari hingga 8 pagi tersebut terjadi secara berurutan di tiap daerah yang berada di kawasan tersebut.

Dicky mencatat gelombang pasang di Sukabumi mencapai 3,5-4 meter, lalu Garut 4-5 meter, kemudian Tasikmalaya 5 meter, dan Pangandaran 2-6 meter. “Tertinggi di Cianjur di mana gelombang pasang men capai sekitar 6,5 meter,” ujarnya.

Dampak paling serius menurutnya terjadi di Kecamatan Cipatujah dan Cikalong, Tasikmalaya. Ada sekitar 100 jiwa warga dari 3 desa saat ini mengungsi, lalu ada sejumlah rumah di Cipatujah yang rusak terkena gelombang pasang.

“Di Desa Cimanuk, Cikalong ada tambak udang seluas 50 hektar ikut terdampak,” paparnya.

Dicky memastikan pihaknya sudah membuat tenda pengungsian dan posko darurat, selain itu distribusi logistik pun sudah dilakukan. Saat ini pihaknya juga masih melakukan perhitungan kerugian yang dialami warga di bibir pantai 6 kecamatan di Pangandaran yang terdampak, lalu di 3 kecamatan yang ada di Cianjur. “Untuk Garut dan Sukabumi dampak masih dihitung, tapi kami terus melakukan pemantauan,” ujarnya.

BPBD Jabar sendiri diakuinya sudah melakukan peringatan dini gelombang tinggi sejak 24 Juli lalu di semua saluran komunikasi. Sejauh ini meski gelombang tinggi menyebabkan abrasi dan kerusakan di bibir pantai, pihaknya tidak mendapatkan laporan adanya korban jiwa.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya