BAHAN BAKAR PEMBANGKIT : PLN Jajaki Gas Medco

Oleh: Denis R. Meilanova 20 Juli 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sedang mencari alternatif pasokan gas untuk kapal pembangkit listrik atau marine vessel power plant (MVPP) di Belawan, Sumatra Utara.

Kapal pembangkit yang disewa dari Turki tersebut akan menggunakan bahan bakar gas dalam waktu dekat.

Direktur Pengadaan Strategis PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan, kebutuhan gas MVPP Belawan yang berkapasitas 240 megawatt (MW) itu untuk sementara akan menggunakan gas dari fasilitas regasifikasi Arun yang dipasok dari Lapangan Tangguh dan Bontang.

Kebutuhan gas pembangkit tersebut sekitar 30 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd).

“Pasokannya sudah ada. Itu dari Arun. Gas kami dari Tangguh dan Bontang ke Arun, nanti mengalir ke sini lewat pipa Arun—Belawan,” ujar Iwan kepada Bisnis, belum lama ini.

Iwan memperkirakan, harga gas dari Arun bisa mencapai US$10,9 per MMscfd. Harga tersebut oleh PLN masih dirasa terlalu mahal.

Oleh karena itu, perseroan tengah membidik gas dari sumber lain, yakni milik PT Medco E&P Malaka yang berasal dari Blok A, Aceh. Menurut Iwan, harga gas yang ditawarkan Medco jauh lebih murah. “Kami lagi jajaki gas dari sumber lain. Medco kan punya yang bisa lewat situ juga. Jauh lebih murah harganya,” katanya.

Rencana pembelian gas tersebut, kata Iwan, masih dalam tahap negosiasi. Di sisi lain, pihaknya juga perlu mengantongi izin dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terlebih dahulu untuk bisa membeli gas dari Medco. Izin telah diajukan pada pekan lalu.

Penggunaan bahan bakar gas pada MVPP diklaim akan lebih efisien dibandingkan bahan bakar minyak jenis heavy fuel oil (HFO).

Pada kesempatan yang berbeda, Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman mengatakan, secara bertahap, seluruh MVPP yang saat ini menggunakan bahan bakar HFO akan beralih ke gas.

“Seharusnya lebih efisien. Mungkin 30% ada, tetapi sekarang harga gas hampir sama dengan HFO,” ujar Syofvi.

Syofvi menuturkan, selisih harga gas dengan HFO saat ini memang tidak begitu jauh karena harga minyak mentah Indonesia (Indonesia crude price/ICP) juga tengah melambung tinggi serta biaya sewa (toll fee) yang mahal. Namun, pertimbangannya bila menggunakan gas, PLN tak perlu impor bahan bakar minyak.

“Kalau MFO/HFO impor, gas domestik. Kalau sama [harganya], kami pilih gas. Kami upayakan lebih murah dari HFO,” katanya.

Menyusul MVPP Belawan, kapal pembangkit di Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara juga direncanakan segera menggunakan bahan bakar gas.

Namun, penggunaan gas pada pembangkit berkapasitas 120 MW tersebut baru bisa diimplementasikan pada tahun depan. Hal tersebut disebabkan belum tersedianya infrastruktur terminal penampungan dan regasifikasi gas alam cair.

Pembangunan terminal LNG memang membutuhkan waktu cukup lama. Untuk terminal LNG mini saja diperkirakan membutuhkan waku sekitar 2,5 tahun. Untuk mengatasi hal ini, PLN pun berencana menyewa kapal penyimpanan dan regasifikasi yang tidak digunakan.

Sementara itu, penyewaan kapal pembangkit menjadi alternatif PLN dalam mencari solusi jangka pendek untuk pemenuhan kebutuhan listrik sambil menunggu pembangkit permanen selesai dibangun.

PLN menyewa sebanyak lima MVPP dari perusahaan Turki Karpowership dengan total kapasitas daya 540 MW. Selain Belawan dan Amurang, MVPP juga digunakan, antara lain di Kupang (60 MW), Ambon (60 MW), dan Lombok (60 MW). (Denis Riantiza M.)

Editor: Sepudin Zuhri

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer