TEKANAN RUPIAH: Dua Sektor Bisnis Ini Mulai Mengurangi Margin Keuntungan

Oleh: Hadijah Alaydrus 12 Juli 2018 | 18:39 WIB
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil/Reuters

Kabar24.com, JAKARTA--Survei Kegiatan Dunia Usaha kuartal kedua Bank Indonesia melihat sejumlah sektor bisnis yang terpapar tekanan pada nilai tukar rupiah mulai mengurangi margin keuntungan.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Yati Kurniati mengungkapkan sektor tersebut adalah sektor yang memiliki ketergantungan impor cukup besar, a.l. industri kimia dan tekstil. Adapun, sektor industri makanan dan minuman lebih relatif tekanannya.

Seperti diketahui, pelemahan rupiah akan membuat impor semakin mahal. Kendati tertekan, BI belum melihat adanya upaya menaikkan harga dari industri atau perusahaan yang disurvei BI. Survei BI tersebut mencakup 3.073 perusahaan dari berbagai sektor dengan skala besar dan menegah di dalam negeri.

"Kami lihat saat ini belum menaikkan harga, tetapi mereka akan mengurangi marginnya," ujar Yati, Kamis (12/7).

Menurutnya, perusahaan tersebut memang memiliki batasan level nilai tukar yang dapat ditoleransi demi menjaga usahanya tetap berjalan. Oleh sebab itu, perusahaan yang begerak dalam sektor di atas sangat berhati-hati terhadap perkembangan nilai tukar.

Sebelumnya, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani mengungkapkan industri yang terpapar tekanan rupiah terhadap dolar AS umumnya masih belum menaikkan harga produknya hingga saat ini. Hanya saja, industri tersebut mengurangi margin keuntungannya.

Namun, Rosan mengakui adanya industri yang mulai berancang-ancang untuk meninjau ulang harga produknya, salah satunya industri makanan dan minuman.

"Industri yang banyak mengandung raw materials impor, itu yang memang kemungkinan perlu meninjau kembali pricingnya," tegas Rosan. Sama dengan survei BI, Kadin melihat industri tekstil, kimia, dan makanan serta minuman.

Editor: Gita Arwana Cakti

Berita Terkini Lainnya