TPID Solo 'Curi' Ilmu Pengendalian Pangan ke PT Food Station Tjipinang

Oleh: Feni Freycinetia Fitriani 12 Juli 2018 | 14:54 WIB
TPID Solo 'Curi' Ilmu Pengendalian Pangan ke PT Food Station Tjipinang
Direktur Keuangan PT Food Station Tjipinang Thomas Hadinata menjelaskan kinerja perusahaan dalam mengelola ketahanan pangan di Jakarta kepada TPID Solo, Jawa Tengah, Selasa (10/7)./JIBI-Feni Freycinetia

Bisnis.com, JAKARTA - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Solo mengundang PT Food Station Tjipinang Jaya untuk berbagi pengalaman mengenai upaya pengendalian pangan di Jakarta.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo Bandoe Widiarto sekaligus Sekretaris TPID menyampaikan hal itu saat rapat koordinasi (rakor) TPID se-Solo Raya.

"Dari sisi pengendalian inflasi, PT Food Station memiliki program early warning system [EWS] untuk mengantisipasi lonjakan inflasi," katanya dalam siaran pers, Kamis (12/7/2018).

Menurut Bandoe, idealnya tiap daerah memiliki lembaga semacam BUMD yang memasok barang kebutuhan pokok masyarakat. Namun, untuk membuat BUMD seperti PT Food Station perlu ada manajemen dan permodalan yang kuat.

"Ini yang menjadi permasalahan yang dihadapi oleh BUMD di Daerah," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Food Station Tjipinang Jakarta Thomas Hadinata mengatakan selama ini mengontrol pasokan beras di pasaran sekaligus menjadi pemain pasar.

"Kami bekerja sama dengan Bulog, untuk pengadaan serta stabilitas kebutuhan beras yang dikonsumsi warga Jakarta," jelasnya.

Thomas mengungkapkan kebutuhan beras warga Jakarta rata-rata 3.000 ton per hari. Dengan begitu, sebelum kebutuhan beras menipis, pihaknya melakukan antisipasi mencari beras ke berbagai daerah agar tidak terjadi kelangkaan atau kenaikan harga.

PT Food Station juga menjalin kontak kerja dengan para petani, kelompok tani, serta melakukan perdagangan beras antar daerah.

“Kami juga memenuhi kebutuhan beras para PNS, warga pemegang Kartu Jakarta Pintar [KJP], dan warga lainnya,” kata Thomas.

Selain beras, Food Station juga menguasai 10% berbagai komoditas di sejumlah pasar traditional dan pasar modern di Jakarta.

 

 

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya