PERSAINGAN BISNIS : BPR Andalkan Selisih Bunga

Oleh: Puput Ady Sukarno 11 Juli 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA—Bank-bank perkreditan rakyat mengandalkan selisih suku bunga penjaminan untuk menarik nasabah agar menyimpan dana.

Saat ini, suku bunga penjaminan untuk simpanan di bank perkreditan rakyat (BPR) ditetapkan sebesar 8,5%, lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga penjaminan untuk simpanan di bank umum sebesar 6%.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto mengatakan, selisih tersebut memberi ruang bagi BPR untuk menawarkan suku bunga simpanan di atas batas atas bunga simpanan yang dapat ditawarkan oleh bank umum.

“Karena kalau mencari tempat investasi dengan price yang lebih mahal ya di BPR," katanya kepada Bisnis, Selasa (10/7).

Meski demikian, lanjutnya, BPR tidak akan serta merta mengandalkan produk deposito untuk menghimpun dana. Guna meningkatkan daya saing, BPR berupaya meningkatkan porsi dana murah dalam struktur dana pihak ketiga.

Di sisi lain, BPR juga berupaya memperbaiki kualitas kredit agar kinerja bisnis secara keseluruhan semakin membaik. Saat ini, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) BPR berada pada level 6,7%. Joko berharap sampai akhir tahun ini rasio NPL dapat terjaga pada angka sekitar 5%.

Menurut Joko, masih tingginya NPL terjadi lantaran karakteristik BPR dan bank umum berbeda. BPR lebih banyak menyasar nasabah dari segmen pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sedangkan bank umum lebih kepada nasabah korporasi yang memiliki pengelolaan risiko bisnis lebih baik.

"UMKM memang seperti itu karakteristiknya, bukan seperti korporasi yang bisa langsung potong gaji. Selain itu, UMKM juga memiliki kebiasaan yang secara ekonomi masih susah dipisahkan antara bisnis dan keluarga," ujarnya. (Puput Ady Sukarno)

Editor: Farodlilah Muqoddam

Berita Terkini Lainnya