PASCAINSIDEN KEBAKARAN KAPAL IKAN : Pengembangan Benoa Bakal Dipercepat

Oleh: Feri Kristianto & Peni Widarti 11 Juli 2018 | 02:00 WIB
PASCAINSIDEN KEBAKARAN KAPAL IKAN : Pengembangan Benoa Bakal Dipercepat
Petugas pemadam kebakaran dan warga berusaha memadamkan api yang membakar kapal ikan di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Senin (9/7/2018)./ANTARA-Fikri Yusuf

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Diskelkan) Bali Made Gunaja menilai kebakaran seperti yang terjadi pada Senin (9/8) akan dapat dihindari apabila penataan di pelabuhan terbesar di Bali tersebut sudah dilakukan.

Menurutnya, dengan rapatnya kondisi sandar antar kapal penangkap ikan membuat kobaran api menjadi lebih cepat.

“Itu persoalan [sandar kapal ikan] dulu sudah pernah dibahas zaman Menteri KKP Cicip, waktu itu Pelindo diminta menata pelabuhan dan diharapkan juga supaya kapal perikanan tertata baik. Sekarang informasinya RIP [Rencana Induk Pelabuhan] sudah ditetapkan, ya kami mengimbau supaya Pelindo menata kembali pelabuhan di sana,” jelasnya, Selasa (10/7).

Dia mengakui, saat ini pelabuhan Benoa belum tertata dengan baik karena izin RIP baru turun. Gunaja mengharapkan penataan tidak hanya di sisi dermaga timur tetap segera dilakukan untuk dermaga perikanan di sisi barat pelabuhan. Sangat penting untuk menata kembali lokasi kolam labuh bagi perahu ikan agar posisi sandar kapal lebih tertata.

Dia mengharapkan tidak terjadi lagi peristiwa kebakaran tersebut karena dalam hanya jeda satu minggu sudah terjadi dua kebakaran.

Beruntung, katanya, kebakaran sebelumnya yang menghanguskan sekitar 8 unit kapal terjadi di tengah tidak di lokasi kolam labuh. Gunaja juga mengharapkan setelah kejadian ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengevaluasi masalah perizinan.

Harapan itu terkait dengan informasi dari 40 unit kapal yang terbakar, sebagian besar bekas kapal eks asing yang tidak bisa berlayar. Adapun kapal yang masih beroperasi normal hanya 10 unit.

Menurutnya, perlu ada segera evaluasi menyangkut perizinan kapal khususnya di Bali. “Kalau kapal besar supaya nanti agar melakukan evaluasi dari tim KKP. Evaluasi terhadap kegiatan yang ada di Bali khususnya perizinan kapal ini,” jelasnya.

Gunaja memperkirakan dampak kebakaran tersebut terhadap jumlah hasil tangkapan di Bali akan kecil karena hanya 10 unit yang terbakar. Adapun jumlah kapal tangkap di Benoa mencapai sekitar 800 unit. Namun, diakuinya tetap ada dampak yang dialami khususnya terhadap ekspor ikan tuna Bali yang selama ini menjadi andalan.

Pada 2017 jumlah tangkapan ikan tuna segar di Benoa mencapai 8.029,16 ton, lebih tinggi pada 2016 yang hanya 5.691,70 ton. Ada sekitar 40 kapal yang terbakar di dergama barat Pelabuhan Benoa. Dari jumlah itu, 33 unit kapal milik anggota Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI), dan 10 di antaranya merupakan kapal aktif.

DOCKING KHUSUS

Di Surabaya, Manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III menyatakan akan menyiapkan fasilitas docking khusus kapal ikan serta satu kapal tongkang dengan pipa hydrant sebagai upaya antisipasi kebakaran di laut menyusul insiden kebakaran 39 unit kapal ikan di dermaga perikanan Pelabuhan Benoa Senin (9/7) dini hari.

Direktur Engineering, Information and Communication Technology Pelindo III, Husein Latief mengatakan dengan adanya peristiwa kebakaran kapal nelayan tersebut, pihaknya bersama dengan instansi terkait akan mereview sistem dan prosedur perizinan kapal hingga menyiapkan fasilitas kapal tongkang yang dilengkapi pipa hydrant.

"Selain itu kami akan buat fasilitas docking kapal dan repair kapal nelayan secara terpisah," katanya dalam rilis, Selasa (10/7).

Dia mengatakan beruntung lokasi kebakaran cukup jauh dari Terminal LNG di Dermaga Selatan dengan jarak sekitar 250 meter. Pelindo III sebelumnya melakukan dedicated terminal untuk penataan lokasi terminal LNG sehingga meski ada kebakaran besar, terminal LNG masih aman.

"Dermaga di Pelabuhan Benoa ini berbentuk ‘U” yakni dermaga barat merupakan zona perikanan, dermaga timur adalah zona terminal cruise dan kapal cargo atau peti kemas," katanya.

Saat ini Pelindo III sedang melakukan beautifikasi pelabuhan dengan memperdalam alur dan kolam pelabuhan menjadi 12 low water spring (LWS) untuk layanan bongkar muat dan cruise serta 4 LWS di dermaga perikanan.

Nantinya, lanjut Husein, pihaknya akan melakukan penataan sandar kapal dalam penanggulangan kebakaran agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

CEO Regional Banyuwangi Bali Nusa Tenggara (BBN) Pelindo III I Wayan Eka Saputra menambahkan, proses pemadaman kebakaran sama sekali tidak mengganggu aktifitas bongkar muat cargo, peti kemas, kegiatan marina serta pelayanan terhadap pengguna jasa di Pelabuhan Benoa.

"Kemarin kita juga sudah mengerahkan 1 unit kendaraan PMK, dan kapal tunda untuk memadamkan api, tapi karena faktor kedalaman di dermaga barat hanya mencapai 2,5 m LWS jadi kapal tunda tidak memungkinkan melakukan mobilisasi," imbuhnya.

Adapun kebakaran kapal ikan diperkirakan terjadi akibat percikan api dari dalam kapal ditambah dengan adanya hembusan angin kencang serta kondisi kapal yang menyimpang bahan bakar. Akibatnya, api cepat menjalar ke kapal nelayan lain.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya