BANTUAN JEPANG : 2019, Bali Bakal Punya Pabrik Pengolah Limbah

Oleh: k23/Feri Kristianto 11 Juli 2018 | 02:00 WIB
Air limbah/ampl.or.id

DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali menargetkan pada 2019 nanti akan memiliki pabrik pengolah limbah lantaran ada bantuan dari Pemerintah Jepang ke Pemkab Tabanan.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Bali Putu Astawa mengatakan Pemerintah Jepang memang getol memberikan bantuan ke Tabanan, Bali lantaran di wilayah itu ada salah satu warisan budaya dunia yang ditetapkan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau Unesco yakni Subak Jatiluwih. Adapun bantuan dari Jepang ke Pemkab Tabanan ini murni merupakan hibah.

Bantuan ini pun menjadi kerja sama lanjutan antara Pemerintah Jepang dengan Pemkab Tabanan Bali setelah beberapa waktu lalu juga mengembangkan teknologi baru yakni PLTHM di wilayah yang sama.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi Bali pun sudah mengunjungi pengolahan pabrik di Jepang tersebut pada minggu lalu. Rencananya, evaluasi proyek akan dilakukan sampai Februari 2019 dan pada tahun yang sama pabrik ditargetkan sudah bisa beroperasi.

“Dulu dari Jepang kan juga membantu pemerintah kabupaten Tabanan dalam mengelola tenaga mikrohidro, nah ini kerja sama mereka berlanjut lagi sebagai bentuk tanggung jawab sosial mereka,” katanya, Selasa (10/7).

Hingga saat ini, paparnya, belum diketahui berapa nilai proyek bantuan dari Jepang ke Tabanan, Bali. Sebab, belum ada survei mengenai lokasi, bentuk bangunan, hingga manajemennya.

Menurutnya, bantuan ini bisa menjadi pilot project untuk wilayah lainnya di Bali. Seperti contohnya TPA Suwung yang dalam sehari bisa mendapat kiriman hingga 2.000 ton sampah.

Dari 2.000 ton sampah itu, 60% merupakan sampah basah atau organik dan sisanya limbah industri.

“Semoga saja, pabrik ini bisa mengurangi limbah industri di Bali yang selama ini sulit tertangani,” katanya.

Bali berencana mengolah limbah pabrik menjadi barang tepat guna yang akan dikembalikan ke industri bersangkutan untuk digunakan lagi. Selama ini limbah pabrik di Bali tidak pernah diproses menjadi barang tepat guna. Padahal jumlah sampah di Bali cukup lumayan.

Putu memberikan contoh sekitar 40% di antaranya merupakan limbah industri seperti botol, pecahan kaca, dan sebagainya. Nantinya, jika Bali memiliki pabrik pengolahan limbah, maka sampah-sampah tersebut dapat diolah dan dikonsumsi lagi oleh perusahaan bersangkutan.

“Kalau nanti kita memungkinkan, kita lihat undang-undangnya apa dan perda ada apa enggak, karena kita enggak bisa bekerja tanpa aturan,” katanya.

Pemerintah Tabanan saat ini masih melakukan kajian dan survei mulai dari lokasi pabrik, jenis bangunan, hingga sistem kerja. Rencananya, hasil kajian akan keluar pada Februari 2019 dan pembangunan akan mulai dilakukan setelahnya.^

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya