PERTUMBUHAN DAERAH : Kaltim Layak Perkuat Sektor-Sektor Baru

Oleh: rachmad subiyanto 11 Juli 2018 | 02:00 WIB
PERTUMBUHAN DAERAH : Kaltim Layak Perkuat Sektor-Sektor Baru
Kilang pengolahan minyak di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur./Antara

SAMARINDA — Provinsi Kaltim perlu mengoptimalkan peran industri pengolahan serta pariwisata guna menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi daerah.n

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim Muhammad Nur mengatakan dua sektor ini telah terbukti mampu mengurangi dampak negatif perlambatan ekonomi di sektor primer.

“Data statistik berbicara, daerah yang lebih mengandalkan industri pengolahan pertumbuhan ekonominya lebih baik dibandingkan dengan yang mengandalkan sektor primer,” ujarnya dalam acara bertajuk Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Kaltim, Selasa (10/7).

Dia menambahkan, alternatif ekonomi baru akan menghadirkan diversifikasi struktur ekonomi daerah. Selama ini, struktur ekonomi Kaltim masih dikuasai sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai 46,3%. Adapun, industri pengolahan menyusul setelahnya dengan andil 18,8% terhadap perekonomian Kaltim.

Nur mengatakan industri ekstraktif rentan terhadap gejolak yang timbul dari faktor eksternal. Apalagi adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China berpotensi berpengaruh secara tidak langsung terhadap perekonomian Kaltim.

“Ini karena China jadi salah satu negara tujuan ekspor Kaltim. Kalau China pertumbuhannya melambat otomatis permintaan juga akan melambat termasuk ke Kaltim,” katanya.

Kaltim memiliki potensi pariwisata di Kepulauan Derawan. Namun, tujuan wisata itu masih belum tergarap dengan optimal karena terkendala akses.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kaltim Zairin Zain menuturkan provinsi tersebut memang sudah membangun infrastruktur pendukung untuk Kepulauan Derawan misalnya Bandara Kalimarau, Bandara Maratua, dan Dermaga Maratua.

Dia menambahkan, Pemprov Kaltim juga membangun infrastruktur penunjang, seperti hotel, perpanjangan landasan pacu bandara di Pulau Maratua, dan fasilitas lain.

“Pemerintah meminta kami untuk juga memanfaatkan sumber pendanaan lain baik dari BUMN maupun BUMD termasuk swasta yang ingin terlibat,” katanya.

PENGUATAN BRANDING

Division Head Business Development Indonesia Tourism Development Corporation Samsul Purba mengatakan Kepulauan Derawan memiliki segmen pasar wisatawan yang khusus. Karena itu, penguatan branding perlu dilakukan agar calon wisatawan menyadari keberadaan Kepulauan Derawan. “Perlu penguatan brand. Kalau perlu bisa dengan menggunakan jasa konsultan profesional,” tuturnya.

Selain itu, pendekatan sosial kepada masyarakat juga perlu dilakukan agar budayanya dapat berterima dengan para pendatang.

Samsul memberi contoh pengembangan KEK Mandalika oleh Indonesia Tourism Development Corporation yang juga menggunakan pendekatan sosial. “Kami melibatkan masyarakat lokal dalam pengembangan kawasan misalnya dengan melatih sebagai fotografer. Dengan demikian, dampak pariwisata langsung dapat dinikmati secara langsung,” tuturnya.

Pemerintah Provinsi Kaltim memang menjadikan Kepulauan Derawan menjadi destinasi utama wisata. Pasalnya, Pulau Derawan dan Maratua termasuk Pulau Sangalaki, kepulauan yang di dalamnya terdapat Pulau Kakaban, Pulau Panjang, Pulau Samama dan gugusan karang menyimpan pesona yang indah.

Sebelumnya, Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Kaltim, Azmal Ridwan mengungkapkan, selama ini China menjadi pasar terbesar ekspor non-migas Kaltim.

Selama ini, China, dinilai meraih untung karena produk turunannya masuk ke Indonesia. “Ekspor dari Kaltim belum maksimal karena selama ini mereka membeli CPO dalam bentuk mentah.”

Dari CPO yang dibeli, kata Azmal, umumnya diolah kembali untuk menghasilkan berbagai produk turunan seperti sabun, minyak goreng, hingga produk cokelat yang menggunakan minyak inti sawit.

Gapki menilai upaya penghiliran kelapa sawit harus menjadi fokus utama di masa mendatang. Kaltim memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy akan menjadi pusat penghiliran memiliki peluang itu.

Pemerintah diharap dapat membuka ruang dan peluang lebih besar untuk investor membuka bisnis atau pabrik turunan CPO. Sejauh ini, Gapki mencatat belum satupun pabrik turunan CPO berdiri di Kaltim. “Idealnya tak cuma CPO yang diekspor tapi produk turunan.”

Di Kaltim, ada sebanyak 78 unit pabrik pengolahan minyak kelapa sawit yang sudah beroperasi optimal dengan kapasitas mencapai 4.355 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Pemerintah akan menambah 20 pabrik baru kapasitas produksi 885 ton per jam pada tahun ini.

Selain sawit, tercatat bahwa realisasi ekspor melalui Balikpapan pada kuartal I/2018 masih dimotori oleh industri batu bara sebesar US$578 juta lebih. Kemudian disusul oleh komoditas CPO sebesar US$147 juta lebih.

Di sektor pertambangan batu bara, Ketua Asosiasi Pengusaha Batu Bara Samarinda (APBS) Eko Priyatno menilai pertumbuhan ekspor untuk komoditas ini umumnya masih belum maksimal pasca anjloknya harga pada 3 tahun lalu. “Masih belum maksimal. Sebab harga baru mulai rebound baru-baru setahun ini.”

Apakah tren harga baru akan bertahan lama atau tidak, pihaknya masih belum bisa menyimpulkan.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya