STRATEGI MASKAPAI PELAT MERAH : Garuda Pacu Utilisasi Armada

Oleh: Rio Sandy Pradana 10 Juli 2018 | 02:00 WIB
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Pahala N Mansury memberikan penjelasan mengenai kinerja perusahaan di Jakarta, Senin (12/6)./JIBI-Dedi Gunawan

JAKARTA – Maskapai penerbangan Garuda Indonesia terus berupaya memacu tingkat utilisasi pesawat guna mendongkrak pendapatan maskapai pelat merah tersebut.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk. Pahala N. Mansury mengatakan salah satu upaya menaikkan utilisasi pesawat adalah dengan menunda jadwal pengiriman tiga unit pesawat Airbus 330 NEO hingga akhir 2019.

Menurutnya, jadwal pengiriman semula pesawat jenis A330 NEO (New Engine Option) pada Kuartal I/2019. Dia menegaskan rencana pengiriman itu akan dijadwalkan ulang hingga menjadi Kuartal IV/2019.

“[Pengiriman] mundur karena ada upaya untuk meningkatkan utilisasi dulu,” katanya, Senin (9/7).

Dia berharap bisa mengoperasikan secara optimal tiga unit pesawat A330 NEO ketika pesawat tersebut diterima maskapai pelat merah tersebut. Selain itu, Pahala juga berharap pesawat itu bisa dioperasikan pada rute baru dengan jarak yang lebih jauh.

Menurutnya, A330 NEO tersebut bisa dioperasikan pada rute jarak medium hingga jarak jauh atau long range. Terlebih, konsumsi bahan bakar pesawat tersebut lebih hemat antara 15%-20%, khususnya untuk menempuh rute jarak jauh.

Pesawat A330 NEO memiliki sejumlah pembaruan, yakni mesin dengan bunyi lebih senyap, interior kabin, desain sayap yang bisa menghemat konsumsi bahan bakar, serta teknologi kokpit. Pesawat itu mampu terbang hingga jarak 6.550 mil laut dan berkapasitas total 287 kursi.

Pada tahun ini, Pahala menuturkan target utilisasi pesawat Garuda adalah rata-rata 10 jam 24 menit, sementara pencapaian akhir tahun lalu baru sebesar 9 jam dan 36 menit.

Menurutnya, perlu sejumlah persiapan untuk mendukung peningkatan utilitas seperti perekrutan awak kabin dan pilot, peningkatan kapabilitas pilot, penambahan rute baru, dan memaksimal rute padat penumpang dengan imbal hasil tinggi.

Dia menegaskan strategi penundaan pengiriman pesawat sudah berdampak positif terhadap utilisasi. Adapun, hingga Februari 2018 secara year to date (y-t-d) tingkat utilisasi setiap pesawat telah mencapai 9 jam 42 menit.

Peningkatan utilisasi pesawat bisa mendongkrak pendapatan secara optimal, tetapi tanpa menambah biaya produksi. Dengan meningkatkan produktivitas aset dan jumlah kru bisa mendorong kinerja perusahaan menjadi lebih baik.

RUTE BARU

Direktur Operasi Garuda Triyanto Moeharsono menambahkan akan terus berekspansi dengan membuka rute baru atau menambah rute yang ada, baik domestik atau internasional.

Dia akan berkoordinasi dengan Direktur Kargo dan Niaga Internasional dan Direktur Niaga Domestik sebagai penyedia rute Garuda. Dari rute yang diusulkan kedua direktorat tersebut, tegasnya, akan disesuaikan dengan ketersediaan pesawat dan kru.

Saat ini, Triyanto menuturkan emiten berkode GIAA memiliki 202 unit pesawat dari tujuh jenis yakni ATR 72-600, CRJ1000 NextGen, Boeing 737 800 NG, Boeing 737 Max 8, dan Boeing 777, dan Airbus A330-200/300. Namun, perusahaan pelat merah itu juga sedang mengalami kekurangan kru pesawat dan sedang diupayakan untuk ditambah dalam waktu singkat.

Selama kuartal I/2018, maskapai pelat merah itu mengantongi pendapatan sebesar US$983 juta, naik 7,9% year-on-year (yoy) dari US$910,8 juta.

Pada kuartal I/2018, tingkat utilisasi GIAA meningkat 22 menit menjadi 9 jam 41 menit, pendapatan dari penumpang naik 2,5% yoy menjadi US$741,6 juta, dan average fares turun 2,5% yoy menjadi US$83,9 sen.

Pada kuartal I/2018, siklus kinerja Garuda memang lesu karena tidak berbenturan dengan momentum khusus. Selain bertumpu pada penumpang Garuda, perseroan itu juga menggenjot pendapatan dari anak usaha.

Editor: Hendra Wibawa

Berita Terkini Lainnya